Langsung ke konten utama

BunSay - Game Level #3 Tantangan Hari #14


•Roti Buatan Althaf•
.
Bismillah… Semalam aku dan Althaf (6 th) diskusi tentang menu sarapan pagi ini. Berhubung libur, Althaf minta pagi-pagi sarapan roti saja agar lebih cepat, lalu bisa segera main. Akhirnya kami pun sepakat membuat roti bersama, kebetulan selama ini Althaf belum pernah membuatnya dari awal hingga akhir. Jadi, kali ini aku hanya akan memberikan instruksi dan mengambil gambar. Hahaha...
.
Setelah mencuci tangan, semua bahan pun disiapkan. Althaf memilih sendiri isi roti, campuran antara mentega, selai coklat kacang, keju, dan meses. Cara mengoles mentega dan selai pertama-tama belum teratur arahnya, aku pun membantu agar lebih rapi. Sementara itu, untuk taburan meses dan parutan keju sudah baik walaupun masih ada yang berceceran. Kebebasan dalam memilih isi roti dan proses pengolesan serta taburan ini diharapkan dapat meningkatkan logika serta kreativitasnya, dimana termasuk dalam KECERDASAN INTELEKTUAL.
.
“Mas, dua rangkap saja. Kok banyak banget bikinnya?”
Althaf pun menjawab, “Ya gapapa kan buat ayah, bunda, dan adek.”
“Duuh… baiknya Mamas. Biar tambah disayang yaa…?”
“Biar pahalanya tambah banyak lah, Bun!”
“MasyaaAllah.. Begitu doong..”
Berbagi dan memberi perhatian kepada sesama juga salah satu hal yang selalu ditanamkan, tujuannya tentu mengasah KECERDASAN SPIRITUAL.
.
Saat mengoles mentega dan selai, berbagai kesulitan ditemukan. Kadang kepala Althaf sampai miring-miring untuk merapikan bagian pinggir. Sesekali ia juga harus membersihkan tangan yang terkena selai atau mentega. Wah, pokoknya banyak tantangan deh! Aku sengaja membiarkannya menghadapi sendiri terlebih dahulu, berbagai kesulitan ini untuk mengembangkan KECERDASAN DALAM MENGHADAPI TANTANGAN. Namun, Althaf terlihat sangat menikmatinya, malah kadang langsung dijilat aja itu yang menempel di jari-jari. “Maass… Jorok itu!” Aku spontan menegurnya.
“Enak, Bun!” Hahaha...
.
#hari14
#gamelevel3
#tantangan10hari
#myfamilymyteam
#kuliahbundasayang
#meningkatkankecerdasananak
#institutibuprofesional
#bundytabercerita
#bundasayang
#bunsayiip
#iipdepok
#bunsay
#iip
.
@institut.ibu.profesional

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah. Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang