Langsung ke konten utama

BunSay Game Level #3 Tantangan Hari #12



•InsyaaAllah, Bertakwa•
.
Bismillah… Setiap sore jadwal Althaf (6 th) adalah bermain bersama teman-teman di lingkungan rumah. Biasanya ba’da shalat Ashar berjamaah mereka langsung bermain bersama. Main sepeda, otoped, bola, mobil-mobilan dan lain-lain. Namun, entah mengapa setelah libur lebaran kemarin Althaf menjadi tak tepat waktu saat pulang. Padahal sudah terpasang jam tangan beserta alarm yang mengingatkan waktu pulang.
.
Pekan lalu, sudah tiga kali Althaf pulang terlambat, itu pun akhirnya pulang dengan kondisi terluka dan menangis. Atau pernah sesekali sampai harus dijemput. Hari ini negosiasi untuk izin bermain agak sedikit alot apalagi ia tak mau tidur siang. Aku akhirnya mencoba mengingatkan kembali, bahwa Allah SWT membenci orang-orang munafik. Siapakah dia? Orang yang jika berbicara dia berbohong, jika berjanji dia mengingkari, dan jika dipercaya dia berkhianat.
.
Setelah diingatkan tentang hal tersebut, Althaf pun izin sekali lagi dengan sangat memohon. “Bunda, boleh ya, INSYAAALLAH aku bener kali ini tepat waktu.”
“Bener ya? Kemarin Kamu udah janji, tapi mengingkari! Kalau kali ini Kamu sudah Bunda percayai dan pulang telat lagi, berarti Kamu mengkhianati Bunda kan?”
“Iya Bunda! Berarti aku orang munafik dong?”
“Nah, mau jadi orang munafik? Munafik itu dibenci Allah!”
“Gak mau, Bunda.. Aku maunya disayang Allah, jadi anak bertakwa.”
“Ok, pulang tepat waktu sesuai janji ya?”
“Siap”
.
Aku pun menunggu, hingga waktu yang ditentukan tiba. Pukul 17.32 WIB Althaf sampai di rumah, “Assalamu’alaikum…”
Aku langsung membukakan pintu.
“Aku tepat waktu kan, Bunda?” Althaf terlihat senyum-senyum puas dan bangga bisa memenuhi janjinya.
“Nah, itu bisa tepat waktu.”
“Iya, dong! Kan biar aku jadi anak yang bertakwa, bukan anak munafik.”
“Aamiin…”
.
Alhamdulillah, pendekatan dengan istilah “munafik” yang berkaitan dengan dosa membuat Althaf lebih paham akan pemenuhan terhadap janji dan arti kepercayan. Semoga upaya meningkatkan KECERDASAN SPIRITUAL ini bisa terus tertanam di hati dan dapat membentuknya menjadi pribadi yang lebih baik, disayangi banyak orang dan dicintai Allah SWT. Aamiin Allahumma Aamiin.
.
#hari12
#gamelevel3
#tantangan10hari
#myfamilymyteam
#kuliahbundasayang
#meningkatkankecerdasananak
#institutibuprofesional
#bundytabercerita
#bundasayang
#bunsayiip
#iipdepok
#bunsay
#iip
.
@institut.ibu.profesional

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah. Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir