Langsung ke konten utama

BunSay - Game Level #3 Tantangan Hari #1


•Belanja Bersama Bundyta•
.
Bismillah… Tantangan di Level #3 kami awali dengan kegiatan berbelanja di pasar swalayan. Pada project ini aku membantu melatih KECERDASAN INTELEKTUAL Althaf dengan membuat sebuah perencanaan belanja. Sebelum berangkat, ia pun membuat “Daftar Belanja” alhamdulillah sudah bisa melakukannya sendiri, jadi aku hanya menyampaikan saja barang-barang yang dibutuhkan. Sesekali ia nampak kesal karena tulisannya salah.
.
Pada fase awal ini, nyatanya tak hanya kecerdasan intelektual yang terlatih, tetapi juga KECERDASAN EMOSIONAL. Setelah berkali-kali salah tulis hingga mengganti kertas, aku meminta Althaf untuk lebih tenang. Kalau pun terjadi kesalahan, ia bisa mencoret dan menulisnya di sebelah atau jika ingin hasil tulisan lebih bersih, ia bisa mengganti pulpen dengan pensil agar lebih mudah dihapus.
.
Ketika sampai di swalayan Althaf bertanya, “Bun, kita mulai dari urutan daftar belanja ya?”
“Hm… Lebih efektif mana kalau kita mulai dari lorong terdekat dan barang-barang yang lokasinya berdekatan?” Tanyaku menguji pemikirannya.
Althaf pun mulai memahami dan setuju, “Oh, iya bener juga. Tanggung di sini langsung ke tempat telur ya, Bun!”
.
Namun, tantangan lain mulai datang saat melintasi lorong mainan. Sesekali melihat-lihat, akhirnya ada mainan yang diinginkan untuk dibeli. Akhirnya, perdebatan pun tak terelakkan, aku mengingatkan bahwa kita hanya membeli barang sesuai dengan daftar yang dibuat sebelumnya. Jadi, penting bagi kita untuk bisa mengontrol diri.
.
Alhamdulillah, project berbelanja kali ini berjalan baik walau tersendat cukup lama di lorong mainan, dimana Althaf akhirnya dapat memahami bahwa tak semua keinginan kita dapat terpenuhi. Di sinilah KECERDASAN MENGHADAPI TANTANGAN terlatih. Bunda pun memberi reward ice cream untuk Althaf sebelum ke kasir. MasyaaAllah… Tabarakallah...
.
#hari1
#gamelevel3
#tantangan10hari
#myfamilymyteam
#kuliahbundasayang
#meningkatkankecerdasananak
#institutibuprofesional
#bundasayang
#bunsayiip
#iipdepok
#bunsay
#iip
@institut.ibu.profesional

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah. Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang