Langsung ke konten utama

Kesayanganku, kini bersamaku selalu

Kesayanganku, kini bersamaku selalu


Siang itu hari sangat panas, matahari terik tepat di atas kepala. Apa daya aku harus terus berteman dengannya, karena memang pukul 12 siang adalah waktu aku keluar dari sekolah dan pulang ke rumah.

“Assalamu’alaikum...” Teriakku sambil memasuki rumah, duduk di kursi di ruang tamu sambil membuka sepatu.

“Wa’alaikumussalam.” Jawab ibu yang kemudian menghampiriku. Seperti biasa aku mencium tangannya.

Ibu menyalakan kipas angin di atas ruang tamu, aku pun mengambil minum air dingin dari dalam kulkas dan kembali ke ruang tamu bersama ibu.

“Ngapain Bu?” Sambil meneguk air es, kuperhatikan ibu yang sedang memberi makan ikan dalam aquarium.

“Nih, ikannya baru. Semoga yang ini gak cepet mati ya.” Harap ibu.

Aku pun menanggapinya dengan keraguan, “Yah, paling juga mati, Bu! Kemarin-kemarin juga gitu.”

“Kalau kemarin ikan hiasnya memang manja. Kalau ini jenis ikan patin hias, insyaAllah lebih kuat. Dia juga bisa dikasih makan apa saja. Jadi gak akan cepat mati kalau makanan ikan habis, dikasih nasi juga mau kali.”

“Sekalian Bu, rendang dan lalap daun singkong.” Candaku yang membuat kami akhirnya tertawa lepas.

Benar saja, ini adalah ikan yang paling awet dipelihara. Biasanya hitungan minggu, satu populasi sudah mati semua. Ini sekitar 5 ekor yang dibeli, berbulan-bulan masih sisa 3 ekor. Bahkan tubuh ya semakin besar, yang awalnya sekitar 5-7 cm, kini sudah belasan sentimeter.

Setiap pulang sekolah, aku memberi mereka makan. Sore hari setelah mandi, kuajak mereka ngobrol, bercanda dengan cara mengetuk kaca aquarium sehingga membuat mereka terkejut. Mereka pun bergerak kesana kemari, bagai menari-nari. Hingga suatu saat aku merasa mereka bisa mengikuti instruksi dariku. Aku menempelkan jari di kaca, lalu ketika aku geser, mereka bisa mengikuti. Ke atas, ke bawah, hingga suatu ketika aku sadar, aquarium ini tak cukup lagi bagi mereka.

Aku pun bilang kepada bapak untuk membelikan aquarium baru, “Pak, itu ikan patin udah gak cukup di aquarium kayaknya. Kita perlu beli yang lebih besar.”

“Masih muat itu, masih bisa ikannya jalan ke atas dan ke bawah.” Bapak pun berjalan dari teras menuju ruang tamu dan mencoba melihat kondisi aquarium.

“Kasihan Pak, kalau pas ke kanan dan kiri gitu, dia mentok. Tuh perhatiin deh moncongnya sampe merah, luka kepentok kaca!”

Mendengar permintaanku, bapak tertawa terbahak-bahak, “Hahaha... Beli lagi ikannya yang baru, yang kecil. Masa beli aquarium yang lebih besar. Mau ditaruh dimana?”

Aku pun menarik nafas panjang, agaknya memang sulit bernegosiasi soal aquarium baru. Kutatap ikan-ikan itu, entah mengapa hatiku pilu saat bapak hendak menggantinya dengan ikan yang baru. Berbeda dengan ikan-ikan sebelumnya, berbeda pula dengan hewan yang dipiara keluargaku di rumah. Burung, kucing, kelinci, ayam, tak ada yang sedalam ini aku rasakan.

Ikan-ikan ini telah setia menemaniku selama berbulan-bulan, mendengar cerita tentang ocehan guru karena nilai ulanganku yang jelek. Ia juga menenangkan hatiku saat pulang dari acara sekolah yang menjadikanku objek candaan. Belum lagi curhatanku tentang ibu dan bapak yang sering kali membandingkan aku dengan kakak.

Keesokan harinya sepulang sekolah, tak seperti biasa aku begitu lapar. Oh, aku baru ingat, tadi pagi aku terlambat ke sekolah, aku absen sarapan. Begitu juga saat di sekolah, aku tak bisa jajan karena uang saku ketinggalan. Wah, benar-benar bangun kesiangan membuat segalanya menjadi kacau.

Sesampainya di rumah, aku langsung menuju meja makan, “Assalamu’alaikum… Bu! Masak apa? Laper banget aku.”

“Ada sayur bayam jagung dan ikan goreng di meja, Nak!” Teriak ibu dari dalam kamar.

“Aku makan duluan ya, Bu! Baru setelah itu shalat Dzuhur.” Langsung saja kusantap ikan goreng yang begitu lezatnya berpadu dengan sayur yang masih hangat.

Tiba-tiba ibu yang sudah tampak rapi, keluar dari kamar, “Nak, ibu mau ke pengajian dulu ya! Gimana ikannya, enak?”

Sambil mengunyah, aku pun mengacungkan jempol.

“Alhamdulillah deh, biar gak mubazir. Nanti pulang ngaji, ibu beli lagi yang baru. Ibu berangkat dulu ya, Assalamu’alaikum…” Ibu pun berlalu keluar rumah dengan menyisakan pertanyaan di benakku.

“Maksud Ibu apa ya?” Perasaanku mulai tak enak, begitu juga dengan mulutku, tenggorokanku, dan perutku. Dalam benakku pun muncul berbagai dugaan yang mengarahkan tubuhku yang kini mulai gemetar, menuju ruang tamu.

Benar saja, ketiga sahabatku kini telah tiada, aquarium itu sudah kosong, tak ada lagi mereka di sana. Aku pun langsung berlari ke kamar mandi dan berusaha memuntahkan semua yang sudah masuk ke dalam mulut. Air mataku mengalir deras, suara tangisan beriringan dengan suara kerongkongan yang berusaha mengeluarkan mereka. Ya, mereka yang tadi begitu lezat kusantap.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah.
Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang sekali…

Dariku dan Untukku

08/30 •Dariku dan Untukku• . Bismillaahirrahmaanirrahiim... Hari ini, tepat seminggu di tahun baru 2020. Setelah pekan lalu membuat refleksi 2019, aku jadi teringat akan sesuatu. Sebuah batu titian awal, untuk melompat ke tingkatan selanjutnya dalam kehidupan. Lompatan terbesarku di tahun kemarin adalah keberanian dalam menentukan pilihan. Salah satunya adalah “memilih untuk terus menulis”. . Sebuah resolusi yang dibuat sejak awal tahun 2019 dan berhasil direalisasikan. Alhamdulillah, tentunya atas izin Allah, aku bisa konsisten untuk menulis sepanjang tahun. Menulis apapun, diary, tugas belajar, pekerjaan, bahkan yang tak pernah aku bayangkan, bisa ikut berkontribusi dalam tiga buah buku antologi. . Selama tahun 2019, Alhamdulillah lahir tiga buah buku antologi bersama teman di berbagai komunitas. Karya pertama adalah sebuah buku non-fiksi terkait “Unforgettable Moment”. Kemudian aku mulai belajar menulis fiksi dalam buku “Pelangi di Negeri Air” dan terakhir “HR Story”, sebagai rekam jejak…

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo
Oleh: Cindyta Septiana
Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012.
Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan kerabat, tak lain ad…