Langsung ke konten utama

BunSay - Game Level #2 Tantangan Hari #8


•Game Level #2 Tantangan Hari #8•
.
Bismillah… Bertepatan dengan “Hari Pendidikan Nasional”, yang diperingati setiap tanggal 2 Mei, aku sebagai orang tua selalu berusaha menyemangati diri sendiri dalam membersamai anak-anak belajar dan bertumbuh. Terlepas dari harapan agar Institusi Pendidikan Indonesia menjadi lebih baik, tentu “Pendidikan dari Rumah” adalah yang pertama dan paling utama.
.
Belajar memaknai semboyan Ki Hajar Dewantara:
•Ing Ngarso Sung Tulodo
(di depan memberi contoh & teladan)
•Ing Madya Mangun Karso
(ditengah membangun bekerjasama & memberi bimbingan)
•Tut Wuri Handayani
(di belakang memberi semangat & dorongan)
.
Aku belajar mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari, saat mendidik anak-anak di rumah. Segala hal yang ingin kita tanamkan, tentu perlu kita contohkan, kita harus menjadi tauladan bagi mereka. Dalam prosesnya, kita wajib membimbing dan bekerja sama untuk mencapainya. Kita pun perlu selalu memberi semangat dan dorongan dalam setiap perjalanannya.
.
Seperti hari ini, Althaf fokus berlatih kemandirian untuk menjaga barang-barang pribadi. Beberapa masih perlu diingatkan, seperti merapikan kamar dan mainan. Namun, alhamdulillah sudah ada kebiasaan baik yang mulai terbentuk, seperti merapikan sepatu sepulang sekolah,  menaruh pakaian kotor, serta mengambil dan mengenakan pakaian sendiri.
.
Begitu pula dengan pelatihan makan sendiri, walau sesekali ada hambatan, kami masih terus membiasakan diri. Paling tak terduga adalah kebiasaan mencuci piring setelah makan, sekarang malah bantuannya bertambah, mencuci beras untuk dimasak. Hehe… MasyaaAllah, Tabarakallah... Besok insyaAllah kita tambah kemandirian pada hal lain ya, Nak! Bismillah...



#hari8
#gamelevel2
#tantangan10hari
#melatihkemandirian
#kuliahbundasayang
#iip
#institutibuprofesional
#bundasayang
#bunsay
#bunsayiip
#iipdepok
@institut.ibu.profesional



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah.
Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang sekali…

Dariku dan Untukku

08/30 •Dariku dan Untukku• . Bismillaahirrahmaanirrahiim... Hari ini, tepat seminggu di tahun baru 2020. Setelah pekan lalu membuat refleksi 2019, aku jadi teringat akan sesuatu. Sebuah batu titian awal, untuk melompat ke tingkatan selanjutnya dalam kehidupan. Lompatan terbesarku di tahun kemarin adalah keberanian dalam menentukan pilihan. Salah satunya adalah “memilih untuk terus menulis”. . Sebuah resolusi yang dibuat sejak awal tahun 2019 dan berhasil direalisasikan. Alhamdulillah, tentunya atas izin Allah, aku bisa konsisten untuk menulis sepanjang tahun. Menulis apapun, diary, tugas belajar, pekerjaan, bahkan yang tak pernah aku bayangkan, bisa ikut berkontribusi dalam tiga buah buku antologi. . Selama tahun 2019, Alhamdulillah lahir tiga buah buku antologi bersama teman di berbagai komunitas. Karya pertama adalah sebuah buku non-fiksi terkait “Unforgettable Moment”. Kemudian aku mulai belajar menulis fiksi dalam buku “Pelangi di Negeri Air” dan terakhir “HR Story”, sebagai rekam jejak…

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo
Oleh: Cindyta Septiana
Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012.
Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan kerabat, tak lain ad…