Langsung ke konten utama

BunSay - Game Level #2 Tantangan Hari #7




•Game Level #2 Tantangan Hari #7•
.
Bismillah… Hari libur, yeay! Sarapan bisa lebih santai, tak pake emosi. Bangun tidur tinggal membuat kesepakatan bersama Althaf.
.
“Mas, Kamu mau makan dulu atau mandi dulu?”
“Mau main.”
“Oh, boleh. Bunda, ayah, dan adek mau pergi jam 10. Ini sarapan dulu, mandi, siap-siap, terus berangkat.”
“Yah… Aku mau ikut juga, tapi Aku mau tidur-tiduran dulu, Bun!”
“Terserah Kamu mau ngapain dulu. Boleh sarapan atau mandi dulu. Kalau cepat selesai, Kamu bisa segera main dan waktunya bisa lebih lama, sebelum ikut pergi.”
“Yaudah mandi dulu, makan, terus main.”

Althaf pun mandi kemudian sarapan, semua sudah bisa dilakukan sendiri, cuma kadang masih teriak-teriak soal menu. Bilangnya, mau wortel 3 iris aja, mau ini aja, mau itu aja. Sejauh makan tanpa halangan seperti TV dan mainan di tangan, ia bisa lebih fokus. Walaupun aku masih harus mengingatkan juga untuk menyuap makanan saat mulut sudah kosong. Janji bermain setelah makan ternyata membuatnya terburu-buru sehingga malas mencuci piring. Sabar…

Siang hari, aku kembali mengajarkannya tentang merapikan pakaian ke lemari sesuai klasifikasi yang sudah dipelajari kemarin. Ditambah dengan cara mengambil baju dari lemari, maklum saja mengambil pakaian ternyata juga butuh keahlian. Jika tidak, lihat saja sendiri, baju yang saat disimpan rapi, kemudian diambil satu, berantakan semua. Kini aku benar-benar ingin Althaf bertanggung jawab atas baju-baju miliknya di dalam lemari. Dia yang meletakkan, dia yang mengambil, dia pula yang harus merapikan kembali.

Sementara itu, kemandirian merapikan barang pribadi lainnya, seperti mainan, buku dan sandal serta sepatu ia lakukan. Bahkan untuk sandal dan sepatu, punya adik, ayah dan bunda pun dirapikan ke tempatnya. Hehe.. Alhamdulillah, semoga bisa istiqomah setiap hari ya, Nak! Proses belajar makan sendiri telah selesai dalam satu pekan, tinggal rapi-rapi-nya dan mari kita pikirkan kemandirian apa lagi yang perlu kita latih? Hm… Ada ide? Tulis di komentar yaa, terima kasih!




#hari7
#gamelevel2
#tantangan10hari
#melatihkemandirian
#kuliahbundasayang
#iip
#institutibuprofesional
#bundasayang
#bunsay
#bunsayiip
#iipdepok
@institut.ibu.profesional

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah. Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir