Langsung ke konten utama

Belajar Menulis Cerita Fiksi



Sore itu hujan turun dengan deras, petir bergemuruh membangunkanku yang terlelap sambil menyusui ananda usia 6 bulan. Aku pun keluar pintu kamar dan menemukan jejak telapak kaki di lantai berupa tanah merah yang sedikit basah.

Geram aku melihatnya dan sontak berteriak, “Rimaaa…!!! Ini Kamu apa-apaan sih? Kok kotor semua begini?”

Kulihat pintu depan terbuka, suara hujan yang masuk membuat suaraku mungkin saja tak terdengar oleh Rima. Ia anak pertamaku yang kini duduk di bangku sekolah dasar kelas satu. Rima adalah satu-satunya kemungkinan pelaku yang mengotori lantai rumah, jadi aku terus-menerus memanggilnya. Tentu saja untuk meluapkan emosi karena perbuatannya. Aku beralih ke dapur, benar saja Rima kudapati baru saja keluar dari kamar mandi.

“Rima, Kamu lihat itu lantai.” Aku menariknya lengannya dengan sekuat tenaga, tubuhnya yang kurus itu terpelanting tanpa sengaja hingga ke perbatasan ruang depan.

Dalam hati aku menyesal, tak pernah ku berniat seperti itu. Akan tetapi, aku kepalang malu, akhirnya ku teruskan saja amarahku. Rima yang masih mengenakan handuk itu menangis tersedu, ia tak berani melihat mataku.

“Maafkan Rima, Bu! Tadi Rima sudah kedinginan kena air hujan, jadi langsung mandi dan lupa ngepel bekas kaki ini.” Suara Rima terbata-bata tapi membuatku malah semakin bertambah marah.

“Yaa ampun, jadi Kamu mandi hujan? Kenapa gak izin dulu sama Ibu? Kalau sampai sakit, baru tau rasa Kamu!”

“Iya, maaf Bu. Tadi kan Ibu sedang tidur.”

“Eh, sembarangan Kamu ya! Ibu itu capek, sudah bangun dari pagi, masak, nyuci, tadi itu Ibu ngelonin adik. Gak kayak kamu kerjaannya main melulu, malah sekarang nambahin kerjaan orang tua aja bisanya.”

Rima bangkit, lalu berusaha menjelaskan, “Maaf, Bu! Rima maksudnya…”

Melihatnya yang belum mengenakan baju lengkap kusuruh dia masuk ke kamar, “Sudah sana pakai baju, udah kesorean ini mau ngaji ke masjid kan?”

“Iya, Bu…” Rima pun bersiap mengenakan pakaian muslim, sementara Aku bergegas mengepel lantai jejak kaki Rima.

Tak lama kemudian, Rima siap pergi belajar di TPA Masjid berjarak sekitar 500 meter dari rumah. Ia pergi ke sana dengan menggunakan sepeda.

Sambil menjulurkan tangan untuk mencium tanganku dan berpamitan, “Ibu, Rima berangkat ngaji dulu ya. Assalamu’alaikum...”
“Wa’alaikumussalam…”

Marah-marah sejak tadi membuat tenggorokanku terasa kering, aku pun beranjak ke dapur dan minum segelas air putih. Sambil duduk di kursi samping meja makan, kuhela nafas panjang. Namun, tiba-tiba kucium bau hangus dan mataku langsung tertuju pada meja setrika.

“Astaghfirullah. Bener-bener ini Si Rima!!!” Lagi-lagi aku mendapati kesalahan Rima yang membuatku sangat marah.

Setrika bekas pakai belum dimatikan dan dalam posisi menghadap ke bawah. Jelas saja sprei yang menjadi alas setrika pun bolong, bolongnya hingga lapisan yang ke empat. Aku pun sudah hilang akal, bagaimana bisa anak ini menggunakan setrika tanpa izin. Tak pernah pula aku mengajarkannya.

Kini aku benar-benar kelelahan, fisik dan mental. Belum aku mengerjakan pekerjaan rumah apa pun sejak terbangun dari tidur siang tadi, Si Bayi terbangun dan menangis. Akhirnya aku pun langsung menghampirinya, kemudian memandikannya, kebetulan juga hari sudah sore.

Memandikan bayi selesai, sewajarnya usia bayi enam bulan, masih sering jam tidurnya. Aku pun kembali menyusuinya hingga ia tidur. Di saat yang bersamaan Rima terdengar pulang.

“Assalamu’alaikum…” Rima mengintip dari pintu, ia melihatku, tapi langsung pergi. Aku pun menahan untuk tidak menjawab salamnya, karena khawatir bayi akan terbangun.

Setelah bayi siap kutinggal, aku pun mencari Rima. Masih dengan kondisi marah seperti tadi siang, tentu saja kali ini tentang setrika yang tak ia matikan. Kuambil sprei yang bolong lalu kubawa menuju kamar Rima, dimana kulihat ia sedang berbaring.

“Rima, lihat ini!” Aku langsung memasang wajah marah sambil menunjukkan sprei yang bolong.

Rima yang sedang berbaring pun segera duduk dan tampak kebingungan sambil bertanya, “Itu gara-gara Rima, Bu?”

“Siapa lagi yang main-main setrikaan di sini?” Jawabku dengan nada tinggi.

Kini Rima memasang wajah yang lebih ketakutan dari sebelumnya, “Rima gak sengaja, Bu. Tadi lupa mematikan.”

“Ibu kan sudah bilang, jangan main-main setrika. Ini bahaya! Susah banget dibilanginnya sih? Nyusahin aja bisanya! Lihat ini hasil perbuatan Kamu, spreinya juga jadi rusak gak bisa dipakai lagi.”

Lagi-lagi Rima menangis, tapi kali ini lebih pucat. “Maaf ya, Bu. Rima gak akan pakai setrika lagi.”

“Maaf-maaf terus seharian cari gara-gara terus.” Suaraku melemah, kulihat Rima kembali berbaring dan menarik selimutnya.

Ada rasa yang berbeda, selayaknya seorang ibu, aku menangkap ada yang tak baik dari kondisi anakku. Aku mulai merasa bersalah, tak seharusnya emosiku meluap-luap berbalut amarah, seperti apa yang kulakukan hari ini. Rima masih kelas 1 SD, usianya bahkan belum genap tujuh tahun.

Kudekati dan kupegang keningnya yang hangat, “Kamu sakit?”

“Pusing, Bu. Maafkan Rima ya, mungkin karena tadi kehujanan.”

“Ya sudah istirahat dulu. Sebentar, Ibu ambilkan obat ya!”

Setelah minum obat, Rima tertidur dengan pulas, bahkan ia pun melewatkan makan malam. Beberapa kali aku cek kondisi suhu tubuhnya, alhamdulillah turun perlahan. Hingga keesokan pagi, aku bangun shalat subuh, ternyata Rima sudah bangun. Pagi ini ia masih terlihat pucat, aku sarankan untuk tak sekolah saja, tapi ia menolaknya.

Beberapa waktu berlalu dari kepergian Rima ke sekolah, entah mengapa ku merasa rindu. Saat bayi minta ditimang-timang, tak terasa tubuhku berjalan ke kamar Rima dan mendapati sebuah buku harian yang terbuka.

Aku tak mengerti apakah Rima terburu-buru sampai tak sempat merapikannya atau memang ia sengaja meninggalkannya dalam keadaan terbuka agar aku membacanya.

—-

Dear Ibu,
Maafkan aku akan segala kecerobohan yang aku perbuat kemarin.
Maafkan aku telah membuat ibu begitu marah kepadaku.
Sungguh aku tak bermaksud begitu.

Ketika itu, ibu tertidur pulas. Aku sangat mengerti bahwa ibu kelelahan mengurus kami.
Hujan turun tiba-tiba dan aku tak sanggup membangunkan ibu untuk mengangkat jemuran di halaman.
Aku berusaha secepat mungkin menyelamatkan baju-baju yang sudah kering, tapi lupa mengenakan sandal.
Maafkan aku ibu, menambah pekerjaanmu membersihkan lantai yang kotor.

Hujan yang deras telah membasahi tubuhku dan sebagian baju kering cucian ibu, aku yang kedinginan kala itu bergegas mandi.
Aku tak ingin main-main hujan tanpa izin, seperti yang ibu katakan.
Aku tak ingin sakit yang kemudian menyusahkan ibu.
Aku tak sengaja kehujanan, Bu.
Maafkan aku jika kini aku sakit dan membuat ibu menjadi khawatir.

Aku pun sangat menyesali soal setrika dan sprei yang bolong.
Sesungguhnya siang itu aku sedang menyiapkan seragam mengajiku, aku belajar setrika sendiri agar meringankan beban ibu.
Namun, hujan turun mengejutkanku, membuatku memilih untuk mengangkat baju di halaman.

Aku tak mengira, segalanya berjalan begitu cepat.
Maafkan aku yang ceroboh ini, Bu…
Maafkan aku yang belum dapat membantumu, malah menambah beban pekerjaanmu.

Aku menyesali perbuatanku yang membuatmu marah, membuatmu lelah.
Namun, ku takkan pernah berhenti berusaha lebih mandiri untuk meringankan pekerjaanmu.
Terima kasih, ibu.

—-

Membaca tulisan Rima, sekujur tubuhku merinding lalu lemas hingga tak sadar air mataku jatuh menetes ke pipi bayi yang sedang kugendong.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah.
Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang sekali…

Dariku dan Untukku

08/30 •Dariku dan Untukku• . Bismillaahirrahmaanirrahiim... Hari ini, tepat seminggu di tahun baru 2020. Setelah pekan lalu membuat refleksi 2019, aku jadi teringat akan sesuatu. Sebuah batu titian awal, untuk melompat ke tingkatan selanjutnya dalam kehidupan. Lompatan terbesarku di tahun kemarin adalah keberanian dalam menentukan pilihan. Salah satunya adalah “memilih untuk terus menulis”. . Sebuah resolusi yang dibuat sejak awal tahun 2019 dan berhasil direalisasikan. Alhamdulillah, tentunya atas izin Allah, aku bisa konsisten untuk menulis sepanjang tahun. Menulis apapun, diary, tugas belajar, pekerjaan, bahkan yang tak pernah aku bayangkan, bisa ikut berkontribusi dalam tiga buah buku antologi. . Selama tahun 2019, Alhamdulillah lahir tiga buah buku antologi bersama teman di berbagai komunitas. Karya pertama adalah sebuah buku non-fiksi terkait “Unforgettable Moment”. Kemudian aku mulai belajar menulis fiksi dalam buku “Pelangi di Negeri Air” dan terakhir “HR Story”, sebagai rekam jejak…

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo
Oleh: Cindyta Septiana
Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012.
Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan kerabat, tak lain ad…