Langsung ke konten utama

Belajar Menulis Biografi


Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng
Siska Dewi Raharjo

Oleh: Cindyta Septiana

Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012.

Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan kerabat, tak lain adalah soal kemapanan. Namun, keyakinannya kepada Allah SWT akan takdir terbaik yang sudah disiapkan baginya, tak menyurutkan niat Siska untuk berjuang bersama dengan lelaki yang ia cintai.

Siska mengawali kehidupan pernikahan di kota Bandung, sambil meniti karir sebagai sebagai seorang guru di sekolah Luar Biasa Kota Bandung. Ia kemudian mengadu nasib untuk menjadi abdi negara. Ibu Kota pun disambangi sebagai ikhtiar yang akhirnya membuahkan hasil. Sejak 2014, penyuka warna merah ini, menjadi Staff di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Dua tahun berlalu, karir yang dibangun di Kota Jakarta nyatanya memerlukan pengorbanan. Siska bersama suami tinggal di Bekasi, dan harus berhubungan jarak jauh dengan buah hati pertamanya yang masih menetap di Bandung bersama kakek dan nenek. Tentu ini adalah kondisi yang tak mudah untuk dijalankan, sehingga pada 2016, mereka pun memutuskan untuk kembali tinggal bersama dan memilih Sawangan Depok sebagai tempat tinggal mereka hingga kini.

Enam bulan yang lalu, kebahagiaan keluarga Siska bertambah dengan kehadiran seorang bayi mungil, bernama Aisha Ioriggi Asadfaiq. Adik dari Iggo yang kemudian dipanggil Iggi ini, berjenis kelamin perempuan, melengkapi kesempurnaan keluarga mereka. Namun, rencana kehamilan kedua Siska ternyata tidak berlangsung singkat. Muncul gejolak kebimbangan karena ia ternyata belum siap untuk membagi hati antara anak pertama dan anak keduanya. Akhirnya, kondisi itu pun dapat teratasi dengan cara membangun komunikasi dengan Sang Calon Kakak. Beruntung sejak tinggal di Sawangan, ada yang menemani Iggo dan Iggi di rumah, sehingga Siska bisa dengan tenang bekerja di ranah publik. Jarak antara Sawangan dan Senayan pun ia tempuh setiap hari dengan sepeda motor, sungguh perjuangan ibu yang luar biasa.

Namun, kehebatan Siska sebagai ibu tak hanya sekedar kontribusi di ranah publik. Ketika kembali ke rumah, ia pun tak kalah hebat memerankan diri sebagai seorang ibu. Tak lelah ia membersamai putra putri di rumah. Mulai dari keteguhannya dalam memberi ASi sebagai nutrisi terbaik bagi fisik anak, Siska juga selalu peduli terhadap kesehatan mental anak-anaknya. Dongeng menjadi salah satu cara baginya untuk menanamkan nilai-nilai budi pekerti. Kepiawaian Siska dalam berimajinasi, membuat Iggo begitu senang mendengarkan dongeng Sang Bunda, beragam karya dongengnya bisa dibaca di blog pribadi yaitu https://bundaiggoiggi.blogspot.com. Bahkan dongeng milik Siska saat ini telah terekam jejaknya dalam sebuah buku antologi, berjudul “30 Days Emak Mendongeng”.

Buah karya Siska ini tak lain berkat kesempatannya bergabung menjadi mahasiswi di Institut Ibu Profesional Depok. Kesempatan yang datang kala itu tak ia sia-siakan, hobi menulisnya pun dapat tersalurkan. Sejak kecil, Siska memang gemar menulis, salah satunya adalah menulis “diary”, tetapi minat menulisnya ini memang belum begitu ia tekuni. Hal inilah yang mendorong Siska untuk bergabung dalam Kelas Minat Menulis Ibu Profesional Depok. Ia ingin terus mengasah hobi menulisnya, karena baginya, menulis adalah media untuk menyimpan memori. Lebih dari itu, tulisannya yang menjadi inspirasi bagi orang lain, menjadi kepuasan bagi dirinya sendiri.

Sebenarnya ketertarikan Siska terhadap dunia menulis yang lebih profesional sudah muncul sejak lama. Sebelum menikah, ia banyak menulis tentang cerita lucu dan pernah pula menyusun draft novel sekitar sepuluh tahun silam. Namun, setelah menikah ia lebih sering menuangkan cerita terkait pengasuhan anak dan segala hal yang dialaminya sebagai seorang ibu muda. Sebagian besar tulisannya adalah hasil dari penerapan Ilmu “Parenting” yang didapat dari hasil membaca atau pelatihan. Salah satunya adalah ilmu yang didapat di Institut Ibu Profesional, mulai dari Kelas Matrikulasi hingga Kelas Bunda Sayang, semua proses belajarnya tersimpan rapi dalam blog dan instagram miliknya https://instagram.com/iggoiggi.

Selain mendongeng, menulis novel dan blogging, Siska juga aktif membersamai anak-anaknya untuk belajar dan bertumbuh. Sebagai seorang ibu, ia terus meningkatkan kualitas dirinya, seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, Siska adalah seorang mahasiswi di Institut Ibu Profesional. Berawal dari Kelas Matrikulasi Batch 5, kemudian lanjut ke Kelas Bunda Sayang Batch 4 yang masih berjalan hingga kini. Pada setiap tugas yang diterima, ia menjadikan Iggo sebagai subjek pelatihan. Iggo pun tak hanya dilibatkan dalam setiap tantangan, Siska menangkap ada minat dan bakat yang tumbuh dalam diri anak sulungnya tersebut. Iggo diarahkan dalam seni menggambar dan mewarnai yang ternyata memang turunan bakat dari Sang Ayah.

Sebagai keluarga yang visioner, Siska memiliki mimpi untuk membuat sebuah “Komik Anak” hasil kolaborasi antara dirinya, suami dan anak. Kreativitasnya dalam berimajinasi dan berdongeng tentang cerita anak, akan bersinergi dengan keahlian gambar suami dan anaknya. Kerja sama ini diharapkan dapat menghasilkan sebuah karya yang inspiratif dan dapat dinikmati oleh semua anak indonesia. Mari kita tunggu hasil karya penuh cinta dari Siska dan keluarga.

Komentar

  1. Masya Allah....keren bangeett.. deskriptif dan lengkap !

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih. Ini masih belajar, baru pertama kali, hehe..

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah.
Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang sekali…

Dariku dan Untukku

08/30 •Dariku dan Untukku• . Bismillaahirrahmaanirrahiim... Hari ini, tepat seminggu di tahun baru 2020. Setelah pekan lalu membuat refleksi 2019, aku jadi teringat akan sesuatu. Sebuah batu titian awal, untuk melompat ke tingkatan selanjutnya dalam kehidupan. Lompatan terbesarku di tahun kemarin adalah keberanian dalam menentukan pilihan. Salah satunya adalah “memilih untuk terus menulis”. . Sebuah resolusi yang dibuat sejak awal tahun 2019 dan berhasil direalisasikan. Alhamdulillah, tentunya atas izin Allah, aku bisa konsisten untuk menulis sepanjang tahun. Menulis apapun, diary, tugas belajar, pekerjaan, bahkan yang tak pernah aku bayangkan, bisa ikut berkontribusi dalam tiga buah buku antologi. . Selama tahun 2019, Alhamdulillah lahir tiga buah buku antologi bersama teman di berbagai komunitas. Karya pertama adalah sebuah buku non-fiksi terkait “Unforgettable Moment”. Kemudian aku mulai belajar menulis fiksi dalam buku “Pelangi di Negeri Air” dan terakhir “HR Story”, sebagai rekam jejak…