Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2019

Belajar Menulis Cerita Fiksi

Sore itu hujan turun dengan deras, petir bergemuruh membangunkanku yang terlelap sambil menyusui ananda usia 6 bulan. Aku pun keluar pintu kamar dan menemukan jejak telapak kaki di lantai berupa tanah merah yang sedikit basah.
Geram aku melihatnya dan sontak berteriak, “Rimaaa…!!! Ini Kamu apa-apaan sih? Kok kotor semua begini?”
Kulihat pintu depan terbuka, suara hujan yang masuk membuat suaraku mungkin saja tak terdengar oleh Rima. Ia anak pertamaku yang kini duduk di bangku sekolah dasar kelas satu. Rima adalah satu-satunya kemungkinan pelaku yang mengotori lantai rumah, jadi aku terus-menerus memanggilnya. Tentu saja untuk meluapkan emosi karena perbuatannya. Aku beralih ke dapur, benar saja Rima kudapati baru saja keluar dari kamar mandi.
“Rima, Kamu lihat itu lantai.” Aku menariknya lengannya dengan sekuat tenaga, tubuhnya yang kurus itu terpelanting tanpa sengaja hingga ke perbatasan ruang depan.
Dalam hati aku menyesal, tak pernah ku berniat seperti itu. Akan tetapi, aku kepalang m…

Mimpi “Receh” Jadi Nyata

Kamu pernah kan dengar bahwa ucapan sebagian dari doa? Nah, kalau bercanda sebagian dari ucapan, bukan? Aku tuh sering banget, bercanda yang bernada ucapan, yang akhirnya menjadi doa. Mau tau? Begini ceritanya…
Suatu sore, usia 17 tahun, anak gadis menyapu rumah dengan tidak begitu bersemangat.
“Cin, ini masih ada yang kotor lantainya. Disapu sampai bersih, nanti punya suami brewokan lho!” Ucap ibu menyemangatiku. “Ya gapapa klo gitu, Mah! Emang Cindy kepengen punya suami berewokan gitu, kan ganteng. Hehehe...” Sahutku usil.
Akhirnya, alhamdulillah beneran Pak Suami brewokan. Yaa… Beneran gapapa sih, menurut aku ganteng. Kalau dicukur, malah akunya baper. Padahal kalau gak dicukur, katanya gatel. Hehehe… Tak mengapa kadang demi permintaan istri, yak khan..?
Masih tentang suami, pada saat lebaran sekitar usia 20-an. Kala itu, ada kumpul keluarga besar dan para sepupu santai berbincang di teras rumah nenek di Bogor.
“Ah, setiap tahun lebaran kita gak jauh-jauh nih kumpulnya, Jakarta - Bogor a…

Aliran Rasa Saat Melatih Kemandirian Anak

Bismillah…

Suatu hari aku membuat sebuah puisi untuk ibu, untuk para ibu, dan untuk diriku sendiri yang juga seorang ibu.

***

Bunda... Sabar bagimu adalah perisai segala cobaan Syukur bagimu adalah senjata segala kekufuran Ikhlas bagimu adalah kekuatan segala ujian Bunda… Kisah indah ini hanya terjadi sekali saja Janganlah engkau lalui tanpa makna Mereka akan selalu mengingatnya Bunda… Surga di telapak kakimu Dalam ucapan terpanjat doamu Segala perlakuan adalah cermin kasih sayangmu

***

Sejalan dengan isi puisi di atas, materi kedua di Kelas Bunda Sayang, Melatih Kemandirian, merupakan materi yang begitu menguras tenaga, pikiran, dan perasaan bagiku Sang Ibu. Dalam pelaksanaannya, banyak waktu diluangkan, rasa sabar terus ditingkatkan, keteguhan hati wajib ditanamkan, dan kesungguhan harus ditegakkan, segala upaya perlu dioptimalkan, serta doa yang tak henti dipanjatkan. Tak lain adalah untuk sebuah hasil yang maksimal, yakni kemandirian.
Althaf (6 tahun) telah berlatih sebanyak tiga keterampilan das…

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo
Oleh: Cindyta Septiana
Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012.
Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan kerabat, tak lain ad…

Kesayanganku, kini bersamaku selalu

Kesayanganku, kini bersamaku selalu

Siang itu hari sangat panas, matahari terik tepat di atas kepala. Apa daya aku harus terus berteman dengannya, karena memang pukul 12 siang adalah waktu aku keluar dari sekolah dan pulang ke rumah.

“Assalamu’alaikum...” Teriakku sambil memasuki rumah, duduk di kursi di ruang tamu sambil membuka sepatu.

“Wa’alaikumussalam.” Jawab ibu yang kemudian menghampiriku. Seperti biasa aku mencium tangannya.

Ibu menyalakan kipas angin di atas ruang tamu, aku pun mengambil minum air dingin dari dalam kulkas dan kembali ke ruang tamu bersama ibu.

“Ngapain Bu?” Sambil meneguk air es, kuperhatikan ibu yang sedang memberi makan ikan dalam aquarium.

“Nih, ikannya baru. Semoga yang ini gak cepet mati ya.” Harap ibu.

Aku pun menanggapinya dengan keraguan, “Yah, paling juga mati, Bu! Kemarin-kemarin juga gitu.”

“Kalau kemarin ikan hiasnya memang manja. Kalau ini jenis ikan patin hias, insyaAllah lebih kuat. Dia juga bisa dikasih makan apa saja. Jadi gak akan cepat mati kalau m…

BunSay - Game Level #2 Tantangan Hari #17

•Game Level #2 Tantangan Hari #17• . Bismillah... Dari sekian banyak banyak keterampilan dasar yang sudah Althaf pelajari, latih, dan kuasai, sebenarnya ada satu hal yang belum terungkap. Mengapa ya, setiap hendak tidur, Althaf hanya mau ditemani bunda saat bersih-bersih, sikat gigi, cuci tangan, cuci kaki, cuci muka, dan buang air kecil? Padahal itu semua sudah bisa dilakukan sendiri, hanya saja ingin selalu ditemani, khususnya bersama bunda. . “Althaf, ayo cuci-cuci dulu.” Panggil ayah Althaf dari kamar mandi. Althaf yang kebetulan disampingku langsung saja menjawab, “Iya, sebentar aku nunggu Bunda.” “Mas, Bunda masih mau nyusuin adek dulu nih! Kamu sama ayah aja tuh, mumpung ayah ada di kamar mandi.” “Enggak, ah! Nanti aja sama Bunda.” “Sama aja kan, sama ayah dan bunda, Kamu kan sudah bisa sikat gigi sendiri.” “Gapapa, Bun! Nanti kalo aku duluan, Bunda gak ada yang temenin.” (Bisa aee...) . Berbagai cara, bujuk rayu, sampai kadang tarik urat. Tetap saja besok hari Althaf maunya ditemani Bund…