Langsung ke konten utama

Yang Kuingat Tentang Ibu, di antara Hidup dan Mati



"Sayang, kamu mau teh manis?" Bisik suami kepadaku.

Sambil memperhatikan suster yang memasang infus, ku hanya dapat mengangguk ke arahnya. Ia pun meminta suster tersebut segelas teh manis hangat.

Tak henti-henti kuucapkan, “Astaghfirullahal 'adzim, Alladzi Laa Ilaaha Illallah, Allahu Akbar…”

Kami terus melangitkan doa, lalu mengusap-usap jabang bayi dalam perut yang kadang dijawab dengan gerakan hebat atau lagi-lagi rasa mulas yang semakin lama semakin nikmat.

Tak lama suster tadi datang membawa pesanan teh manis hangat, ia meletakkan di meja sudut ruangan. Maklum ini bukan ruang perawatan tapi ruang persalinan, jadi tak ada meja di samping kanan kiri hanya perlengkapan infus, oksigen, dan lainnya yang sesungguhnya tak begitu kupahami.

Setelah meletakkan gelas di meja, suster mendekati kami, memberi senyuman, dan sambil sedikit memijat kakiku, ia pun berkata, "Ibu, di dalam infusnya sudah diberikan induksi lagi ya, semoga pembukaannya gak mandek lagi, jadi cepat pembukaan sempurna."

Wajah melongo, aku sudah tidak mengerti lagi apa yang akan dirasakan. Dalam hati aku bergumam, “Induksi sebelumnya saja rasa mulas sudah sedahsyat ini, tapi belum pembukaan. Pembukaan sempurna itu rasa mulasnya akan seperti apa lagi?“

Sekitar 15 menit mulai berlalu, rasa mulas semakin luar biasa intensitasnya tinggi. Belum pernah sebelumnya merasakan sakit seperti ini, padahal aku adalah orang yang tahan sakit. Jarang sekali minum obat, apalagi kalau sekedar batuk atau buang-buang air. Paling istirahat, banyak minum air putih dan banyak makanan sehat.

Kini durasi mules 10 menit sekali, begitu sakit, sampai-sampai lupa semua teknik penghilang rasa sakit yang diajarkan di latihan hypnobirth. Sudah tak lagi bisa bicara, sudah tak dapat lagi tersenyum, apalagi tertawa. Fokus mata pun kini rasanya sudah kosong, lebih sering aku memejamkan mata sambil kembali berdzikir.

Pukul 23.00 WIB, pemeriksaan dalam lagi, reaksi semakin tak terkontrol, aku hanya bisa menangis, mengingat dosa-dosa yang pernah kulakukan ke mama. Dalam hati aku berucap sambil mengalirkan derasnya air mata, “Yaa Allah, ternyata begini rasanya melahirkan? Yaa Allah, ternyata begini yang namanya mempertaruhkan nyawa di kala persalinan? Yaa Allah, ternyata begini rasanya berada di antara hidup dan mati? Yaa Allah, ternyata ini yang membuat-Mu menempatkan surga di bawah telapak kaki ibu?”

"Mas.. Aku gak kuat, Mas..! Udah Mas, diselesaikan cepat saja. Aku gak bisa nunggu lagi ini, Yaa Allah… Aku gak tahan lagi… Astaghfirullahal 'adzim..." Serangkaian tasbih, tahmid, tahlil, takbir, dan istighfar keluar dari bibirku, intonasinya pun semakin meninggi kala interval rasa mulas ini meningkat, biasanya dirasakan selama 1 hingga 2 menit.

Suami yang setia di sampingku terus memeluk sambil menuntun dzikir. Ketika interval rasa mulas mulai turun, ia mengambilkan air teh hangat yang tadi dipesan. Namun, karena ruangan begitu dingin, kehangatan minuman cepat sekali hilang. Entah apa yang terasa saat itu, aku minum dengan cepat air teh yang bukan es teh tapi bukan juga teh hangat. Rasa yang aneh, begitu mengganggu, entah baru berjalan sampai dimana. Air teh kembali keluar mengajak makan malam yang tadi sudah kuhabiskan. Muntah dengan intensitas terbanyak seumur hidup mungkin. Rasanya belum pernah sakit sampai harus muntah, ini yang paling berkesan, muntah jelang persalinan.

Tak lama kemudian rasa itu mulai lagi, sementara beberapa orang masih bersih-bersih lantai bekas muntah. Mulas semakin memuncak, sekitar 5 menit sekali dirasakan. Semakin aku merasa tak kuat untuk menghadapinya. Semakin takut juga akan kematian, yang mungkin saja sebentar lagi datang. Tak sedikit seorang ibu meninggal di saat melahirkan. Lagi-lagi yang kuingat adalah mama, dalam hati kumeminta ampunan kepada Allah atas dosa-dosa yang selama ini kuperbuat kepadanya.

Dengan suara lirih akhirnya terucap juga, "Mah, maafin Cindy ya, Mah…" Lalu menengok ke suami, "Mas, maafin Aku ya…"

"Sayang, sabar ya! Kamu pasti bisa. Kamu perempuan hebat. Kamu perempuan kuat. Nanti anak kamu pasti akan bangga sama ibunya. Sabar ya, sediki lagi."

Yaa Allah, dalam hati kuberfikir, “Ini suami kok tega banget sih lihat istrinya menderita begini, kok gak ada rasa kasihan? Kok dia gak buru-buru aja panggil dokter terus belah aja perutnya, keluar bayi, jahit, selesai.” Mau marah juga gak kuat, tapi masih inget Allah. Allah kasih jalan memang seperti ini. Kondisi ini yang harus dilalui setiap ibu, sehingga Allah muliakan derajat seorang ibu.

Sudah hampir sejam setelah induksi lewat infus dilakukan dan rasa mulas berlipat ini dirasakan. Tetiba bidan datang, melakukan pemeriksaan dalam kembali, dan memberi kabar gembira. Adrenalin meningkat rasanya seperti mau naik tornado di dufan, oh bukan. Bagiku seperti naik kicir-kicir karena putarannya 360 derajat dan saat melihat suatu pandangan itu sendirian, hanya bersama orang di sebelah, itupun kalau ada. Melahirkan ini berarti rasanya sendirian. Rasa yang ada kini hanyalah pasrah.

Di ruangan itu, aku bersama suami dan bidan. "Mari kita berlatih nafas ya. Ketika tidak ada mulas, bernafas biasa. Ketika mulai terasa mulas, ambil nafas panjang, lalu mengejan, dorong." Latihan itu pun dimulai, sekali, lalu dua kali, sampai rasanya benar-benar mau keluar.

Suami berbisik, "Sayang, aku tadi udah lihat kepala bayinya mau keluar."

Akhirnya yang dinantikan datang juga, dokter masuk dengan tenangnya, sambil ngobrol santai bersama bidan. Setelah ia memakai sarung tangan dan bersiap, rasa mulas sudah datang lagi, aku dan suami dengan serentah berucap, "Bismillahirrahmaanirrahiim..." kumenarik nafas dan mengejan dengan sekuat tenaga, dokter pun mengeluarkan seorang bayi mungil dari ujung sana. Kulihat warna kebiruan beserta bercak darah. Alhamdulillah tepat pukul 23.23 WIB, bayi laki-laki lahir ke dunia. Malam Jumat, pada 4 April 2013. Hari yang baik dan tanggal yang cantik 04.04.

Suami dengan sigap sekali mendekati bayi lahir, mengamatinya lalu kembali kepadaku memberi kabar, "Alhamdulillah sehat, sempurna, ganteng pula."

“Alhamdulillah…” Segala rasa sakit hilang seketika, lemas rasanya seperti kehilangan seluruh tenaga. Namun, rasa di hati ini begitu bahagia.

Tiba-tiba kuterkejut dengan ucapan Pak Dokter, “Selamat ya Bu, Pak… Tuh anaknya sedang dibersihkan dulu.”

Suami mendekatinya dan berucap, “Terima kasih ya, Dok! Alhamdulillah…”

“Yaudah, tenang aja Pak jangan liatin ini. Akan saya sisakan jahitannya, temani saja tuh istrinya."

“Ahahahaha...” Kali ini aku bisa ikut tertawa bersama suami dan Pak Dokter, alhamdulillah bisa kembali tertawa.

Kebahagiaan memuncak saat IMD, melekatkan Althaf ke tubuhku, campur-campur rasanya. Bahagia, terharu, aku tak menyangka sudah menjadi ibu. Althaf, bayi mungil, lucu sekali wajahnya saat mencari puting susu. Sakitnya jalan lahir yang sedang dijahit sampai tak terasa, kehadiran buah hati sungguh membawa bahagia ditambah suami yang selalu mendampingi dengan setia.


Depok, 24 April 2019
Saat usia Althaf 6 tahun 3 minggu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah.
Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang sekali…

Dariku dan Untukku

08/30 •Dariku dan Untukku• . Bismillaahirrahmaanirrahiim... Hari ini, tepat seminggu di tahun baru 2020. Setelah pekan lalu membuat refleksi 2019, aku jadi teringat akan sesuatu. Sebuah batu titian awal, untuk melompat ke tingkatan selanjutnya dalam kehidupan. Lompatan terbesarku di tahun kemarin adalah keberanian dalam menentukan pilihan. Salah satunya adalah “memilih untuk terus menulis”. . Sebuah resolusi yang dibuat sejak awal tahun 2019 dan berhasil direalisasikan. Alhamdulillah, tentunya atas izin Allah, aku bisa konsisten untuk menulis sepanjang tahun. Menulis apapun, diary, tugas belajar, pekerjaan, bahkan yang tak pernah aku bayangkan, bisa ikut berkontribusi dalam tiga buah buku antologi. . Selama tahun 2019, Alhamdulillah lahir tiga buah buku antologi bersama teman di berbagai komunitas. Karya pertama adalah sebuah buku non-fiksi terkait “Unforgettable Moment”. Kemudian aku mulai belajar menulis fiksi dalam buku “Pelangi di Negeri Air” dan terakhir “HR Story”, sebagai rekam jejak…

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo
Oleh: Cindyta Septiana
Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012.
Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan kerabat, tak lain ad…