Langsung ke konten utama

Sembilan Bulan Penuh Perjuangan



Aku teringat kembali pada sebuah pagi, hujan deras tiba-tiba menyapa kami, anakku, suamiku dan aku yang duduk paling belakang, menunggangi “Si Kuda Besi”. Bergegas suamiku mengarahkan motor kami, hingga ke tepi, berhenti tepat di depan ruko penjual roti. Hujan pun turun semakin deras, kupeluk erat Althaf yang kala itu baru saja berusia empat tahun. Wajahnya yang mungil berdampingan dengan calon adik yang bersembunyi dalam perutku yang buncit. Ketika itu kehamilanku memasuki usia tujuh bulan.

Sementara itu, suamiku bergegas mengambil jas hujan yang disimpan di dalam box motor. Derasnya air yang turun pun membasahi tubuhnya, alhamdulillah kepala masih tertutup helm begitu juga kemeja kerjanya yang terlindungi oleh jaket. Ia mendekati kami dan segera memberikan dua plastik jas hujan kepadaku, memberi isyarat untuk segera memakainya. Aku pun segera mengenakannya terlebih dahulu, barulah kemudian membantu Althaf.

Kami bertiga kini sudah siap dengan jas hujan yang hampir menutupi seluruh tubuh kami, sepatu sudah berganti sandal jepit, helm pun sudah terpasang. Seperti inilah perjuangan kami, yang sudah siap menghadapi berbagai kondisi dalam perjalanan, setiap pagi dan malam, setiap Senin hingga Jumat. Sejak memutuskan untuk bekerja kembali, aku memang kerap membawa Althaf keluar dari rumah. Pernah dititipkan ke rumah orang tua, tetapi setahun terakhir, aku memasukkannya ke aktivitas pra-sekolah yang mencakup penitipan anak atau “Daycare”.

Sejak menikah, memang kami berkomitmen untuk membangun keluarga yang mandiri. Termasuk urusan tempat tinggal, kami sudah diskusikan jauh-jauh hari sebelum pernikahan terjadi. Di rumah, tanpa sanak saudara, tanpa asisten rumah tangga, kami hanya tinggal bertiga. Kegalauan terjadi saat Althaf berusia dua tahun dan aku kembali bekerja. Aku memang bukan orang yang mudah percaya kepada orang lain, terutama urusan anak. Selain suami, orang tua adalah tempat dimana aku bisa dengan nyaman menitipkannya, itu pun dalam kurun waktu yang tak lama.

Setelah mempertingkan banyak hal, akhirnya Althaf menghabiskan waktu siangnya di Daycare, selama aku bekerja. Sesuai dengan judul tulisan ini “Sembilan Bulan Penuh Perjuangan” mungkin biasa digunakan untuk menggambarkan perjuangan seorang ibu selama sembilan bulan mengandung anaknya. Sebenarnya untuk tulisanku kali ini tak salah juga, tapi belum sepenuhnya benar. Perjuangan di sini, tak hanya aku sebagai ibu tetapi Althaf sebagai kakak dan tentunya ayah sebagai pemimpin keluarga.

Hampir sama dengan kehamilan sebelumnya, tak ada tanda-tanda kehamilan yang terlalu berlebihan sehingga menjadi gangguan. Aku tak terlalu merasakan mual di pagi hari, jenis makanan pun aku tak pilih-pilih. Akan tetapi, memang rasanya lebih berat, nyeri pada tulang belakang, kali ini kurasakan lebih dahsyat. Hingga pada setiap malam, aku yang masih harus menggendong Althaf untuk toilet training, tak dapat bangun dengan sempurna. Aku harus menggerakkan tubuh sedikit demi sedikit dengan posisi tetap berbaring hingga ke tepi. Selain itu, walau nafsu makan cukup stabil, aku tak bisa makan atau minum sesuatu yang tawar seperti nasi putih dan air putih.

Selebihnya, tantangan saat hamil adalah bagaimana harus setiap hari pagi dan malam, naik motor untuk melaju ke kantor. Bayangkan saja, dengan jarak hampir 25 km, selama lebih dari satu jam aku harus duduk dengan kondisi yang kurang nyaman. Sesekali kami memang berangkat menggunakan mobil, tapi macetnya ibu kota tak dapat kamil hindari. Harus berangkat lebih pagi, terlambat sampai di kantor pun sudah pasti. Waktu yang harus ditempuh bertambah hingga menjadi tiga jam lamanya perjalanan. Jadi, menggunakan motor adalah keputusan yang paling tepat.

Hal itu pula yang menjadi salah satu bentuk perjuangan Althaf Sang Kakak. Biasanya dia duduk di antara ayah dan bunda, lebih aman dan disertai hangatnya pelukkan. Namun, saat aku hamil dan semakin lama perut ini pun memerlukan ruang, Althaf harus pindah ke depan tepat di belakang stang motor. Dengan kondisi ini, kami pun harus menambah beberapa perlengkapan untuk melindungi Althaf dari paparan angin. Tentunya sejak awal sering mengendarai motor, aku membiasakannya mengenakan kaos kaki dan sepatu, jaket lengkap dengan helm, masker wajah serta sarung tangan. Kali ini suamiku menambahkan aksesoris tameng kaca di bagian depan serta menyediakan selimut tebal jika tiba-tiba Althaf tertidur ke arah depan.

Jika dikaitkan dengan aktivitas keseharian ini, sudah pasti suami juga memiliki peran yang sangat besar. Perjuangannya setiap pagi dan malam tak dapat terelakkan. Pagi hari, selain menyiapkan diri sendiri untuk berangkat kerja, ia juga membantu persiapan Althaf. Tak jarang Althaf mandi atau sarapan bersama ayahnya. Belum lagi di dalam perjalanan, mengendarai motor dengan banyak penumpang pun bukanlah hal yang mudah, ada aku yang harus tetap terlindungi dari goncangan, ada pula Althaf yang duduk di depan harus dijaga posisinya terutama saat mulai tertidur.

Dari segi waktu, suami pun harus mengontrol waktu agar bisa sampai di kantor tepat waktu, dengan menentukan waktu berangkat maksimal dari rumah. Ia harus mencari jalan mulus tapi dapat memangkas waktu, menghindari macet. Begitu pula saat pulang kerja di malam hari, ada aku dan Althaf yang siap menunggu dijemput, jadi suami harus tepat waktu jika tak ingin membuat kami lama menunggu. Sebenarnya saat itu kami seringkali memesan taxi online untuk pulang berdua saja tanpa suami. Akan tetapi, lagi-lagi waktu yang dibutuhkan jauh lebih lama, sehingga harus sampai di rumah larut malam.

Demikian, sembilan bulan perjuangan kami lalui, nyatanya adik Albarra dalam kandungan pun tak luput dari proses perjuangan. Kehamilan kedua lebih berat dari yang pertama. Namun, bunda lebih aktif dan produktif. Kuakui kandungan Albarra ini cukup kuat, aku setiap malam masih bisa menggendong Althaf untuk pergi ke kamar mandi. Bahkan di kala usia kandungan 6 bulan, Althaf dirawat di rumah sakit dan aku menjaganya empat hari penuh. Aku pun harus membawa Althaf bolak- balik kontrol sebelum dan sesudahnya. Kondisi ini terjadi hingga dua pekan sebelum melahirkan. Mitos bilang sih karena mau punya adik, jadi dia bermanja-manja dulu, memuaskan diri menjadi anak tunggal.

Alhamdulillah, pada Ramadhan penuh perkah ba’da Tarawih, Adik Albarra lahir ke dunia. Terbayar sudah perjuangan kita semua selama sembilan bulan. Seperti janjiku sebelumnya. Setelah anak kedua lahir, maka aku akan berhenti bekerja. Althaf tak perlu lagi aku tempatkan di daycare. Ia dan adik barunya akan selalu di rumah dan aku yang akan membersamai mereka belajar, bertumbuh, dan berkembang. Sementara itu, suami akan lebih fokus dalam bekerja, lebih fleksibel memilih moda transportasi dan tak terbatas waktu untuk berkarya dan mengembangkan diri demi mencari nafkah untuk keluarga.

Perjuangan sembilan bulan yang memiliki cerita mengesankan bagi keluarga kami sesungguhnya tak berhenti. Akan ada bentuk perjuangan lainnya di waktu dan kondisi yang berbeda, karena sejatinya hidup memang penuh perjuangan. Dengan perjuangan kita akan lebih memaknai arti sebuah kehidupan. Insya Allah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah.
Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang sekali…

Dariku dan Untukku

08/30 •Dariku dan Untukku• . Bismillaahirrahmaanirrahiim... Hari ini, tepat seminggu di tahun baru 2020. Setelah pekan lalu membuat refleksi 2019, aku jadi teringat akan sesuatu. Sebuah batu titian awal, untuk melompat ke tingkatan selanjutnya dalam kehidupan. Lompatan terbesarku di tahun kemarin adalah keberanian dalam menentukan pilihan. Salah satunya adalah “memilih untuk terus menulis”. . Sebuah resolusi yang dibuat sejak awal tahun 2019 dan berhasil direalisasikan. Alhamdulillah, tentunya atas izin Allah, aku bisa konsisten untuk menulis sepanjang tahun. Menulis apapun, diary, tugas belajar, pekerjaan, bahkan yang tak pernah aku bayangkan, bisa ikut berkontribusi dalam tiga buah buku antologi. . Selama tahun 2019, Alhamdulillah lahir tiga buah buku antologi bersama teman di berbagai komunitas. Karya pertama adalah sebuah buku non-fiksi terkait “Unforgettable Moment”. Kemudian aku mulai belajar menulis fiksi dalam buku “Pelangi di Negeri Air” dan terakhir “HR Story”, sebagai rekam jejak…

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo
Oleh: Cindyta Septiana
Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012.
Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan kerabat, tak lain ad…