Langsung ke konten utama

BunSay - Game Level #1 Tantangan Hari #8





•Game Level #1 Tantangan Hari #8•

Alhamdulillah hari ini tepat Althaf berusia 6 tahun, pagi-pagi kami sarapan, tiup lilin, lalu berdoa bersama. Tentu saja doa terbaik untuk Althaf agar menjadi anak sholeh, selalu sehat, berkah sepanjang usia, selamat di dunia dan akhirat. Kelak dijadikan makhluk Allah yang mulia serta bermanfaat bagi sesama. Aamiin Allahumma Aamiin.

Sesuai permintaan Althaf, tepat di hari ulang tahunnya, kami berkunjung ke Museum Angkut. Ia tampak begitu bersemangat melihat dan mencoba mengendarai berbagai macam kendaraan yang ada. Area yang paling disukai tentu saja mobil balap, apalagi terdapat pula simulator balapan di sana. Namun, apa daya, hanya orang dewasa yang boleh mencoba.

Althaf merajuk, “Aku pengen main simulator yang kayak di Cars Movie 3 itu.”
“Boleh… Bunda izinkan, tapi kalau ini untuk dewasa karena seperti kendaraan balap sungguhan.”
“Tapi aku mau coba itu seperti balapan beneran!” Althaf masih memaksa.
“Iya, nanti ya kita ke Time*one aja Althaf boleh kalau itu, karna khusus untuk anak-anak.”
Althaf pun terdiam dan hanya meneteskan air mata. Agaknya memang dia benar-benar tertarik sekali dengan balapan, cita-citanya pun belum pernah goyah untuk menjadi pembalap.

“Althaf, kalau foto pakai baju pembalap, pakai helm, terus naik di mobil itu gimana?”
“Emang boleh itu?”
“Boleh, nanti bisa bergaya sambil seperti orang balapan.”
“Iya, boleh aja sih itu kan seperti simulator juga tapi gak ada screen-nya.”
“Betul, nanti Bunda rekam ya, difotoin juga sama ayah. Oke?”
“Iya deh,”


Alhamdulillah yaa Allah, gak tega banget kalo nolak permintaan dia, apalagi yang disukai banget, pas ulang tahun pula. Jadi, aku tidak langsung menggunakan kata penolakan, tetapi memberi solusi lain. Walaupun ada adegan drama air mata dulu, akhirnya senang juga dia bisa foto gegayaan ala pembalap. Hahaha…

#hari8
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#iip
#institutibuprofesional
#bundasayang
#bunsay
#bunsayiip
#iipdepok
@institut.ibu.profesional

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah. Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir