Langsung ke konten utama

BunSay - Level #1 Tantangan Hari #15





•Game Level #1 Tantangan Hari #15•
.
Akhir tahun ajaran masih lama, tapi jalan-jalan akhir tahunnya sudah tiba. Alhamdulillah, nenek datang berkunjung, jadi hari ini Althaf bisa kutemani seharian field trip ke Taman Safari Indonesia. Baru separuh perjalanan, kami sudah dua kali transit untuk ke toilet. Gak jadi masalah sih, toh waktu ada dan toilet tersedia.
.
Namun, yang membuatku resah adalah masuknya abang-abang penjual mainan ke dalam bus. Mau tak mau Althaf pun tergoda. Bukannya apa, mainannya ini sudah dipastikan akan hanya seumur jagung di tangan. Aku coba berikan penjelasan tentang kualitas, tapi tak mempan. Mungkin penjelasanku belum masuk ke logika berpikirnya, karena yang ia pahami semua mainan tetap menyenangkan. Benar saja, teman Althaf yang beli pun begitu, langsung rusak dalam jangka waktu 30 menit saja.
.
Walaupun demikian, Althaf masih merengek. Qadarullah, sesaat setelah melalui pintu masuk, setiap pengunjung diberi voucher Kereta Gantung Buy One Get One. Naluri emak-emak muncul, selain hemat, bisa juga dijadikan pengalihan. Akhirnya aku pun memberi pilihan, Althaf mau mainan atau naik kereta gantung. Negosiasi cukup singkat, karena pesona Si Gondola nyatanya lebih memikat.
.
Apa mau dikata, kejadian serupa terulang saat perjalanan pulang. Mampir sejenak untuk membeli oleh-oleh, beberapa penjaja mainan masuk ke dalam bus. Kali ini Althaf tak berkutik, kesepakatan telah dibuat. Namun, lain halnya ketika penjual buku datang. Althaf bergegas menghampiriku seraya ikut mempromosikan barang jualan Si Abang.
.
Selain berempati karena semua keinginannya tak dituruti, aku pun lemah tak berdaya. Kendati buku tersebut sesungguhnya secara konten sudah dimiliki dengan kualitas gambar dan cetakan yang lebih baik. Aku keluarkan juga isi dompet, “Gapapa Nak! Kalau ini kan ilmu, tak akan lekang dimakan waktu.” Hahaha… Padahal emang bundanya aja yang gak bisa tahan beli buku, padahal mah sudah banyak antrian tunggu.




#hari15
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#iip
#institutibuprofesional
#bundasayang
#bunsay
#bunsayiip
#iipdepok
@institut.ibu.profesional

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan

BunSay - Game Level #2 Tantangan Hari #2

•Game Level #2 Tantangan Hari #2• . Bismillaahirrahmaanirrahiim… Subuh aku ukur suhu tubuh Althaf mencapai 39,1 derajat celcius. Akhirnya kuberi lagi paracetamol sambil terus mengompresnya dengan air panas, hingga pagi hari. Alhamdulillah, demamnya berkurang dan ia pun terbangun. Kami memutuskan untuk kembali izin sekolah dan beristirahat saja di rumah. Seperti biasa kalau demam turun, Althaf mulai ceria sehingga bisa kuajak sarapan di meja makan, walaupun  duduk dengan posisi bermalas-malasan. . “Mas, ini nasinya udah Bunda tuang ke piring, sekarang Kamu pilih mau makan apa?” Althaf melamun saja memandangi lauk-pauk di meja. “Mas, ayo… Kamu mau pakai apa?” Masih melamun kemudian tiba-tiba berkata, “Kentang kriuk aja pakai nasi.” “Lho,  Mamas kan suka itu wortel. Kemarin minta wortel.” “Yaudah wortel 3 potong aja.” Althaf pun mulai merengek. “Lauknya, Kamu coba semua ya, sedikit-sedikit aja.” “Ah, gak mau ah, ayam aja deh…” Pak suami yang duduk di samp