Langsung ke konten utama

BunSay - Level #1 Tantangan Hari #14


•Game Level #1 Tantangan Hari #14•
.
“Althaf, ini nasi goreng buatan ayah.”
“Horeee! (Saat melihat piring, Althaf teriak) Bunda… Aku gak mau pakai tomat.”
“Lho, kan makan harus gizi seimbang, ada nasi karbohidrat, telur protein, seratnya mana? Tomat kan sayurnya.”
“Aku gak mau ah, kan kemarin  udah makan sayur.”
“Ya, harus setiap hari biar sehat, poop juga lancar.”
“Kenapa sih? Aku gak mau, terserah orang lah, maunya apa!”
.
Sontak aku terkejut mendengar perkataan Althaf. Sebenarnya ini bukan kali pertama, pernah juga dia menjawab perintahku seperti itu, tapi memang belum sempat kujelaskan. Akhirnya, kududuk di sampingnya dan bicara sejenak.
.
“Althaf, dengar kalimat itu dari mana? Aku gak mau, terserah orang, maunya apa!”
“Dari temen.”
“Althaf juga bilang gitu ke temen?”
“Ya kadang-kadang kalo aku gak mau ngikutin maunya dia.”
“Betul, boleh Althaf bicara begitu untuk menolak sesuatu yang buruk, tidak baik, atau memang benar-benar Kamu gak mau.”
“Iya, yaudah gapapa dong aku kan bener-bener gak mau tomat, Bun!”
“Nah, berbeda kalau orang tua, ayah dan bunda dikasih amanah sama Allah untuk menjaga kamu. Harus beri yang terbaik untuk kamu agar dapat pahala. Misalnya kasih makan yang sehat, pendidikan, nasihat, ajarkan shalat, ngaji, dll.”
“Kalau Bunda kasih yang gak baik?”
“Ya, nanti bunda dosa, masuk neraka. Nah, makan sayur itu kan baik, jadi Althaf nurut sama Bunda ya. Bukan bilang terserah, tapi yang baik harus kita lakukan.”
.
Masih panjang lagi diskusinya, mencoba memberi pemahaman bahwa segala sesuatu yang diperintahkan orang tua itu baik. Jadi, bukan masalah suka/ tidak suka, mau/ atau tidak mau. Sebaiknya kita selalu mengajak anak berdiskusi bahwa perintah kita sebagai orang tua itu memang baik dan perlu dipatuhi. Bismillah...



#hari14
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#iip
#institutibuprofesional
#bundasayang
#bunsay
#bunsayiip
#iipdepok
@institut.ibu.profesional

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah. Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan