Langsung ke konten utama

BunSay - Game Level #2 Tantangan Hari #4



•Game Level #2 Tantangan Hari #4•
.
Bismillah… Latihan kemandirian Althaf makan sendiri, hari ini rasanya tidak optimal, belum ada peningkatan jika dilihat dari indikator perilaku. Pagi-pagi kami sudah harus bersiap mengikuti acara bersama komunitas HEbAT Community Depok. Acaranya cukup seru, diawali dengan Tarhib Ramadhan, Siroh Nabawi, dan bermain bersama. Ada permainan ular tangga bergambar Nussa, balok, lompat tali, congklak dan lain sebagainya.
.
Sarapan akhirnya kami lakukan di mobil, sementara itu makan siang dan makan malam pun di luar rumah, karena harus mencari suatu barang keperluan sekolah. Namun demikian, praktek kemandirian saat makan tetap kami lakukan. Contohnya saat makan siang, dimana Althaf tetap harus makan sendiri. Hal yang spesial kali ini adalah makan dengan menggunakan tangan yang awalnya, ia tampak kesulitan.
.
“Sayang, begini lho caranya makan pakai tangan!” Aku mencoba memberi contoh, membuat bola-bola nasi beserta potongan ayam dan tempe goreng.
Althaf pun mencoba mengikuti, “Oh, iya jadi tinggal suap segini ya, Bun?”
“Pinter… Nah, sambil mengunyah, kamu siapkan lagi bola-bolanya, seperti kalau pakai sendok kan ditaro di sendok.”
.
Althaf pun akhirnya bisa makan dengan tangan, walaupun ya terkadang masih suka lupa kalau tangannya yang kotor tiba-tiba memegang baju, kepala,  serta garuk-garuk berbagai posisi. Si sisi lain, kemandiriannya muncul saat berbagi makanan kepada teman lain yang baru saja ia kenal. Mengajak mereka bermain bersama dan mengikuti semua aktivitas dengan ceria. Alhamdulillah, hari yang padat penuh dengan manfaat.






.
#hari4
#gamelevel2
#tantangan10hari
#melatihkemandirian
#kuliahbundasayang
#iip
#institutibuprofesional
#bundasayang
#bunsay
#bunsayiip
#iipdepok
@institut.ibu.profesional

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah. Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir