Langsung ke konten utama

BunSay - Game Level #2 Tantangan Hari #3



•Game Level #2 Tantangan Hari #3•
.
Bismillah… Hari ini sesuai rencana kami ziarah ke makam eyang kakung Althaf dan Albarra di Cilegon. Alhamdulillah pagi-pagi Althaf kondisinya sudah lebih baik dari hari kemarin dengan suhu sekitar 38,1 derajat celcius. Althaf tampak lebih semangat, jelas saja karena hari ini akan bertemu dengan para sepupu di rumah eyang.
.
Pagi-pagi sekali kami sudah sampai, tapi para sepupu belum datang. Jadi, kami memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu, qadarullah kondisi belum ramai sehingga suasananya bisa lebih fokus untuk kembali berlatih kemandirian. Kali ini Althaf benar-benar menyiapkan sendiri nasi beserta lauk-pauknya. Awalnya memang berat seperti biasa, tapi aku menemukan jurus jitu lainnya.
.
“Mas, ayo kita sarapan duluan. Jadi, nanti kalau Mba Sekar dan Adik Gya datang, kita bisa langsung main.”
“Oke Bun, tapi makannya sambil duduk di sofa aja sambil nonton tv.
Tiba-tiba ide muncul, “Eh, tuh lihat tuh, Albarra aja udah siap duduk di meja makan sama ayah.”
“Iyaaa… Aku juga makannya di meja makan.” Althaf pun duduk di samping Albarra.
“Tapi aku mau maunya ikan aja ya sama nasi.”
Mulai lagi ah, mencoba membuatnya berusaha lebih keren di mata adiknya. “Tuh, lihat Albarra aja makannya lengkap. Pasti Mamas lebih hebat dong, kan kakaknya kasih contoh yang lebih baik.”
“Hm… Iya deh, aku mau. Tuh, malahan aku lebih banyak.”
“Nah, begitu kan hebat. Sendokin makanan sendiri, suap sendiri lagi kan, kalo adek masih disendokin nih.”
“Iyalah, adek kan masih bayi, aku mah kan udah besar, Bun!”
.
Alhamdulillah, ternyata beberapa kali makan bersama, adik Albarra bisa memotivasi Althaf untuk bisa lebih mandiri. Albarra memang selalu menjadikan Mamasnya  sebagai “role model”. Lama kelamaan secara tak langsung, Althaf juga selalu berusaha berperilaku lebih baik bahkan menunjukkan perilaku terbaiknya untuk bisa menjadi teladan bagi Sang Adik.




.
#hari3
#gamelevel2
#tantangan10hari
#melatihkemandirian
#kuliahbundasayang
#iip
#institutibuprofesional
#bundasayang
#bunsay
#bunsayiip
#iipdepok
@institut.ibu.profesional

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah. Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir