Langsung ke konten utama

BunSay - Game Level #2 Tantangan Hari #2



•Game Level #2 Tantangan Hari #2•
.
Bismillaahirrahmaanirrahiim…
Subuh aku ukur suhu tubuh Althaf mencapai 39,1 derajat celcius. Akhirnya kuberi lagi paracetamol sambil terus mengompresnya dengan air panas, hingga pagi hari. Alhamdulillah, demamnya berkurang dan ia pun terbangun. Kami memutuskan untuk kembali izin sekolah dan beristirahat saja di rumah. Seperti biasa kalau demam turun, Althaf mulai ceria sehingga bisa kuajak sarapan di meja makan, walaupun  duduk dengan posisi bermalas-malasan.
.
“Mas, ini nasinya udah Bunda tuang ke piring, sekarang Kamu pilih mau makan apa?”
Althaf melamun saja memandangi lauk-pauk di meja.
“Mas, ayo… Kamu mau pakai apa?”
Masih melamun kemudian tiba-tiba berkata, “Kentang kriuk aja pakai nasi.”
“Lho,  Mamas kan suka itu wortel. Kemarin minta wortel.”
“Yaudah wortel 3 potong aja.” Althaf pun mulai merengek.
“Lauknya, Kamu coba semua ya, sedikit-sedikit aja.”
“Ah, gak mau ah, ayam aja deh…”
Pak suami yang duduk di sampingnya pun ikut membujuk, “Ayo dicoba dulu semua makanan, sedikit nanti kalau suka bisa tambah lagi.”
“Biasanya Mamas doyan semua lauk kok.” Aku masih menahan diri untuk tidak mengambilkan lauk ke piringnya.
Seperti biasa Althaf pun menjawab, “Iya kan itu kalau disuapin, Bun!”
“Ya kan sekarang sudah besar, 6 tahun, sudah mau masuk SD lagi.”
“Yaudah Aku mau tapi sedikit aja ya, wortel 3, kentang goreng 1, ayam separo, ikannya lebih sedikit dari ayam, dan kentang kriuk 1 sendok.”
.
Aku pun membantu mengambilkan lauk-lauk, memotongnya sampai sesuai dengan jumlah yang dikehendaki Althaf. Eh, setelah ditambah lauk, ternyata dia protes lagi. “Kan jadi banyak makanannya di piring. Nasinya jadi kebanyakan, Bun!”
“Ya sudah, Bunda ambil nasinya 1 sendok. Hm… Makin banyak deh porsi makan Bunda, Nak!”
.
Alhamdulillah semua nasi beserta lauk di piring bersih tak tersisa. Memang sudah sejak kemarin, 3 kali makan dalam sehari, ia bisa makan sendiri hingga habis. Dengan ini, indikator perilaku yang terpenuhi pun bertambah, sehingga makin dekat ke target kemandirian. Pelajaran hari ini, ternyata makan di meja makan membuat Althaf lebih fokus, walaupun durasi masih terbilang cukup lama. Bismillah, semoga waktu makan selanjutnya bisa lebih baik lagi. Semoga juga Althaf cepet sehat ya, Sayang! Aamiin.
.
#hari2
#gamelevel2
#tantangan10hari
#melatihkemandirian
#kuliahbundasayang
#iip
#institutibuprofesional
#bundasayang
#bunsay
#bunsayiip
#iipdepok
@institut.ibu.profesional

Komentar

  1. Hehe..nasib kita mak² ya mak..porsi makan sering "terpaksa" lebih banyan dari seharusnya😄

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha... Iya Makk! Mangkanya ada istilah emak adalah tong sampah anaknya... hahaha...

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah. Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan