Langsung ke konten utama

BunSay - Game Level #2 Tantangan Hari #1


•Game Level #2 Tantangan Hari #1•
.
Bismillaahirrahmaanirrahiim…
Hari ini Kelas Bunda Sayang Depok 1, masuk ke Game Level 2, seperti biasa tantangan pun akan dilakukan selama 10 hari ke depan. Kali ini materinya adalah tentang Melatih Kemandirian, untuk Althaf sendiri salah satu Basic Skill yang masih perlu dilatih adalah Makan Sendiri. Beda ya, belajar makan ala baby Albarra dan Althaf, karena keberhasilan dari proses kemandirian pada setiap jenjang usia anak pun akan berbeda.
.
Untuk Althaf, makan sendiri, aku klasifikasikan menjadi beberapa indikator perilaku. Mulai dari yang paling sederhana, memilih menu sendiri, hingga tingkatan mencuci peralatan bekas makan. Mengapa? Karena sebentar lagi ia masuk SD yang akan melalui juga proses makan siang sendiri di sekolah, otomatis keterampilan ini benar-benar sudah harus dikuasai.
.
Namun, hari pertama tantangan ini begitu menantang. Qadarullah, Althaf demam, sejak kemarin sore. Wajahnya terlihat pucat, nampak lelah, dan mengeluh pusing. Alhasil, walaupun sudah sounding sejak kemarin, tantangan sepertinya akan berjalan tidak optimal.
.
“Mas, ada sayur asem, empal daging, tempe, tahu, mau apa aja?”
“Tempe tahu aja.”
“Lha, sayurnya mana? Kan harus lengkap nutrisinya.”
“Maunya wortel.”
“Variasi dong, ini ada jagung dan labu.”
“Yaudah tapi disuapin kalau makan sayur.”
“Makan sendiri dong, kan kemarin bunda bilang kita belajar makan sendiri.”
“Iya, tapi kalau makan sendiri gak pakai sayur.”
“Yaudah, empal daging, labu, dan jagung Bunda potongin kecil-kecil nih biar gampang, langsung suap.”
.
Saat sarapan, proses belajar kami hanya berhasil memenuhi dua indikator perilaku. Ini pun waktu yang dibutuhkan sampai selesai sangatlah lama, hampir 1 jam, pas banget gak sekolah. Kenapa lama? Karena lagi ngunyah tiba-tiba mainan mobil, bunda cuilin jagung dan dan daging dia baca komik, dan tidur-tiduran, mungkin  juga masih gak enak badan. Semoga makan siang dan malam nanti Althaf sudah sehat ceria lagi, jadi aku bisa lebih tega menyuruhnya makan di meja makan dan cuci piring. Hehe.. Sehat dulu deh yang penting ya, Nak! Aamiin.
.
#hari1
#gamelevel2
#tantangan10hari
#melatihkemandirian
#kuliahbundasayang
#iip
#institutibuprofesional
#bundasayang
#bunsay
#bunsayiip
#iipdepok
@institut.ibu.profesional




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah. Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan