Langsung ke konten utama

BunSay - Game Level #1 Tantangan Hari #7








Alhamdulillah hari pertama menginjakkan kaki di Malang berjalan lancar dan sangat menyenangkan. Sejak pagi cuaca cerah dan jalanan lancar. Walaupun kurang waitu tidur malam dan kurang nyaman juga tentunya bermalam di kereta. Alhamdulillah Althaf dan Albarra terlihat sangat senang, begitu juga dengan ayah dan bunda. Hehe..

Sesampainya di Malang, kami langsung ke Kota Batu dan menuju kawasan Jawa Timur Park 1. Setelah puas mengelilingi arena rekreasi, kami lanjut ke Museum Tubuh. Althaf terlihat begitu bersemangat karena di tempat ini dia bisa belajar sambil bermain.

Hari semakin sore, ayah Bunda sudah tak sanggup lagi mengikuti dua jagoan berlarian kesana kemari. Akhirnya kami pun memutuskan untuk pulang ke hotel. Dalam perjalanan, aku bertanya, “Mas, gimana seneng hari ini?”
“Wah, seneng bangeett..!!” Althaf semangat menjawab sambil sumringah.
Ayah pun menyahut, “Bilang apa dong?”
“Terima kasih Ayah, terima kasih Bunda.” Althaf mengucapkannya sambil memeluk Ayah kemudian Bunda.
“Eh, satu lagi, Mamas paling utama harus gmn kalau dapat kebahagiaan?” Aku mencoba memgingatkan.
“Bersyukur kepada Allah. Alhamdulillah…”
Aku dan Pak Suami mencoba untuk menanamkan tauhid sejak dini, jadi kami selalu mengingatkan bahwa segala sesuatu memang berasal Allah SWT dan kembali pula kepada-Nya.

Malam hari kami pun berkeliling Kota Batu dan menyantap beberapa kuliner yang khas. Salah satunya adalah bakso Malang.

“Nah, kalau ini asli nih Mas kita makan Bakso Malang di Kota Malang.” Ucapku antusias.
“Aduh, tapi bakso bakarnya aku gak bisa potong nih.” Althaf tampak kesal karena kesulitan.
“Bisa, Mas Althaf pelan-pelan tusuk pakai garpu dulu.”
“Bismillaahirrahmaanirrahiim, eh bisa alhamdulillah.”
“Kalau belum bisa langsung tusuk gigit aja, Mas.”
“Engga Bun, ini udah bisa nih aku bilang Bismillah.”
“Masyaa Allah, Anak bunda pinternya”

Dalam hatiku, alhamdulillah Yaa Allah! Sedikit demi sedikit Althaf sudah mulai memahami dan bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Demikianlah, gambaran sedikit komunikasi produktif yang kami bangun, semoga semakin istiqomah. Aamiin.

#hari7
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#iip
#institutibuprofesional
#bundasayang
#bunsay
#bunsayiip
#iipdepok
@institut.ibu.profesional

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah. Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan