Langsung ke konten utama

BunSay - Game Level #1 Tantangan Hari #6



•Game Level #1 Tantangan Hari #6•

Pagi ini Althaf bangun lebih pagi, tapi setiap melihat wajahku ia langsung mengeluhkan kakinya yang sakit.

“Kalau Bunda perhatikan, ini sudah mau sembuh.”

“Kukunya ini perih, Bun! Jarinya ini juga masih basah gitu lukanya semalam aja pas shalat berdarah lagi.

“Yasudah sini dikasih minyak tawon lagi. Tapi udah kering kok ini, Mas…”

“Iya tapi masih suka sakit. Aku gak sekolah ya, Bun?”

“Bisa kok kamu sekolah, pakai sandal aja dari rumah. Gapapa, nanti Bunda bilang Bu Guru.”

“Tapi kan nanti di sekolah aku gak bisa main Bun, main bola, main trampolin, kemarin aja aku main kerjar-kejaran.”

“Ya kamu mainnya di kelas aja. Kan banyak mainan di kelas, misalnya main lego.”

“Aduh, ini kan hari Selasa biasanya kan dance gitu di lapangan, atau aktivitas apa gitu masa aku gak ikutan?”

Dan seterusnya, hingga keputusan akhir adalah libur sekolah. Bunda gagal memotivasi, tapi karena memang tidak tega juga sih melihatnya, jadi bunda kurang optimal membujuknya.

Kami pun sarapan, di sela waktu aku iseng bertanya, “Mas Althaf kan kelihatannya masih sakit ini kakinya, berarti kita gak jadi pergi dong ya malam ini?”

Althaf langsung menatapku dan terlihat memikirkan sesuatu. Ia pun langsung menjawab, “Enggak kok Bun, ini udah sembuh kok. Kemarin aja aku udah bisa main sepeda.”

Dalam hati, bisa aee nih anak. “Tapi gak bisa pakai sepatu baru jalan-jalannya. Pakai sandal aja.”

“Bisa kok Bun, aku tinggal pakai tisu aja lukanya pakai kaos kaki, gapapa bisa kok.”

Walaupun hasil pengamatanku Althaf masih kesakitan, kalau dibilang mau jalan-jalan, langsung deh bilangnya tak terasa sakit. Hehe… Bismillah ya Nak, semoga Birthday Trip ini bisa jadi kado hadiah terindah untukmu. Aamiin.





#hari6
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#iip
#institutibuprofesional
#bundasayang
#bunsay
#bunsayiip
#iipdepok
@institut.ibu.profesional

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah. Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan

Dariku dan Untukku

08/30 •Dariku dan Untukku• . Bismillaahirrahmaanirrahiim... Hari ini, tepat seminggu di tahun baru 2020. Setelah pekan lalu membuat refleksi 2019, aku jadi teringat akan sesuatu. Sebuah batu titian awal, untuk melompat ke tingkatan selanjutnya dalam kehidupan. Lompatan terbesarku di tahun kemarin adalah keberanian dalam menentukan pilihan. Salah satunya adalah “memilih untuk terus menulis”. . Sebuah resolusi yang dibuat sejak awal tahun 2019 dan berhasil direalisasikan. Alhamdulillah, tentunya atas izin Allah, aku bisa konsisten untuk menulis sepanjang tahun. Menulis apapun, diary, tugas belajar, pekerjaan, bahkan yang tak pernah aku bayangkan, bisa ikut berkontribusi dalam tiga buah buku antologi. . Selama tahun 2019, Alhamdulillah lahir tiga buah buku antologi bersama teman di berbagai komunitas. Karya pertama adalah sebuah buku non-fiksi terkait “Unforgettable Moment”. Kemudian aku mulai belajar menulis fiksi dalam buku “Pelangi di Negeri Air” dan terakhir “HR Story