Langsung ke konten utama

BunSay - Game Level #1 Tantangan Hari #5




•Game Level #1 Tantangan Hari #5

Fiuh… Hari ini cukup berat rasanya bagiku untuk tidak meluapkan emosi negatif. Sejak pagi harus bangun lebih awal karena mempersiapkan sesuatu untuk beberapa hari ke depan. Lalu melihat seragam sekolah ternyata belum disetrika, kemudian Albarra minta  (%^**%%##^*) dan melihat Althaf (%^^*%##^*) Ada kejadian lagi, saat masak, tanganku terkena minyak panas. Setelah itu harus siap-siap rapat di sekolah, yang ternyata topiknya sangat berat pula, membuat aku tambah stress. Rasanya tuh jadi laper terus, pengen ngabisin kue-kue di piring sajian rapat. Eh…

Alhamdulillah, setelah itu diajak partner in crime buat makan di restoran cepat saji, depan sekolah. Lumayan lah, burger bikin stress mereda dan es krim bikin kepala jadi dingin. Namun, apalah daya kenikmatan dunia ini hanya sesaat saja, sodara-sodara! Althaf yang sejak tadi makan sambil bolak-balik main ke playground tiba-tiba teriak sambil nangis. Lari tergopoh-gopoh mendekat sambil bilang, “Sakit Bunda… Sakit… Aduh…” Kakinya luka gores cukup dalam di jari jempol, begitu juga dengan kukunya yang terbelah. Darah menetes cukup banyak ke lantai, aku sadar ini sakitnya pasti luar biasa.

Aduh, kembali kesabaranku diuji. Ingin rasanya bilang, “Nah, kan Bunda udah bilang, makan sambil duduk!” Terus dilanjut, sumpah serapah, “Rasain, mangkanya denger kata-kata Bunda. Diam dulu, makan sambil duduk, jangan main di playground nanti kena teman!” Atau ya langsung tindakan aja, cubit sambil bilang, “Jangan nangis, malu sama orang, berisik!” Astaghfirullah… Di titik ini aku langsung ingat, kenapa aku diciptakan jadi ibu, kenapa aku ditakdirkan jadi ibunya anak ini, kenapa kondisi seperti ini harus aku alami.

Tidak, alhamdulillah kata-kata dan tindakan tersebut berhasil aku “rem” kukendalikan dengan mengingat Allah. Aku menyadari amanahnya, dimana segala ucapan dan perbuatanku terhadap anak-anak yang dititipkan ini akan dipertanggungjawabkan. Aku coba merasakan sakit yang Althaf derita, bergegas kududukkan dia dengan nyaman di kursi, kuberi minum, sambil kubersihkan luka dengan tisu. Aku merendahkan intonasi suara, mensejajarkan posisi tubuh dan mendengar dengan seksama kronologis kejadian jatuhnya Althaf saat berlari dan terluka karna list kaca di sisi playground.

Setiba di rumah, langsung kubantu Althaf melepaskan seragam sekolah, membuka sepatu dan membersihkan luka. Sambil mengobatinya dengan minyak tawon, aku pun bertanya, “Gimana Mas, rasanya masih sakit?”
“Sedikit, Bun. Tapi seperti kukunya terbelah gitu.”
“Yaudah diobati terus ya, insyaAllah cepat sembuhnya.”
Althaf pun berdoa dengan suara lirih, “Yaa Allah, semoga aku enggak dilepas kukunya sama dokter.”
Hahaha… (dalam hati) Fokus banget doanya, Nak! “Yasudah dengan kejadian ini Mas Althaf ngerti apa yang harus diperbaiki?”
“Iya, lain kali kalau main jangan lari kenceng-kenceng, nanti jatoh.”
“Iya, hati-hati ya. Lihat ke depan ada benda atau ada orang ga? Biasanya Mas Althaf kan tabrak-tabrak orang, jadi selanjutnya harus…” (sengaja berheti, pengen tau jawaban dia)
“Yang baik. Tidak tabrak-tabak, tidak dorong-dorong, dan tidak pukul-pukul.”

Alhamdulillah keluar sendiri deh tuh, insights kejadian hari ini. Semoga apa yang disadari Althaf bisa memperbaiki perilakunya ke depan. Mohon doanya ya, semoga semakin bertambahnya usia Althaf, semakin baik pula perangainya. Aamiin.




#hari5
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#iip
#institutibuprofesional
#bundasayang
#bunsay
#bunsayiip
#iipdepok
@institut.ibu.profesional

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah.
Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang sekali…

Dariku dan Untukku

08/30 •Dariku dan Untukku• . Bismillaahirrahmaanirrahiim... Hari ini, tepat seminggu di tahun baru 2020. Setelah pekan lalu membuat refleksi 2019, aku jadi teringat akan sesuatu. Sebuah batu titian awal, untuk melompat ke tingkatan selanjutnya dalam kehidupan. Lompatan terbesarku di tahun kemarin adalah keberanian dalam menentukan pilihan. Salah satunya adalah “memilih untuk terus menulis”. . Sebuah resolusi yang dibuat sejak awal tahun 2019 dan berhasil direalisasikan. Alhamdulillah, tentunya atas izin Allah, aku bisa konsisten untuk menulis sepanjang tahun. Menulis apapun, diary, tugas belajar, pekerjaan, bahkan yang tak pernah aku bayangkan, bisa ikut berkontribusi dalam tiga buah buku antologi. . Selama tahun 2019, Alhamdulillah lahir tiga buah buku antologi bersama teman di berbagai komunitas. Karya pertama adalah sebuah buku non-fiksi terkait “Unforgettable Moment”. Kemudian aku mulai belajar menulis fiksi dalam buku “Pelangi di Negeri Air” dan terakhir “HR Story”, sebagai rekam jejak…

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo
Oleh: Cindyta Septiana
Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012.
Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan kerabat, tak lain ad…