Langsung ke konten utama

BunSay - Game Level #1 Tantangan Hari #17


•Game Level #1 Tantangan Hari #17•
.
Hari ini adalah hari Ayah bersama kedua Althaf (6). Aku memang dengan sengaja memberikan kesempatan kepada Pak Suami untuk lebih dekat dengan anak-anak. Kebetulan ini hari libur, jadi waktu luangnya lebih banyak. Pagi-pagi aku sudah membisikkan Althaf untuk minta kepada ayah ditemani memperbaiki sepeda dan membeli mainan puzzle.
.
“Mas, mau perbaiki sepeda dan beli mainan hari ini?”
“Iya, mauu..”
“Yaudah bilang sama ayah, tapi caranya yang baik. Bilangnya, ayah sayaangg gitu… Aku minta tolong dong bantuin perbaiki sepeda dan temani beli mainan.”
“Ah, pake begitu segala sih, Bun?”
“Iya dong, biar ayah itu senang dan dengan senang hati juga nanti bantuin kamu.”
“Oh iya kan bilang tolong kan ya, bukan nyuruh ya, Bun?”
“Nah, itu Althaf udah tau.”
.
Akhirnya berhasil juga mengucap “Tolong” ke ayah, karena Althaf itu gayanya “Bossy” banget, jadi kadang kalau minta bantuan pun kayak menyuruh gitu lho. Namun, tak lama kemudian, Althaf bersikap kurang sopan kepadaku, hingga membuatku marah. Agak menyesal juga sih karena ku tak bisa mengontrol diri, tapi alhamdulillah Pak Suami sangat sigap dan langsung mengingatkan Althaf, “Althaf, bagaimana kalau berbuat salah sampai Bunda marah begitu?”
“Bunda, aku minta maaf yaa.” Pecah lah tangisan berdua sambil berpelukan.
.
Sampai di sore hari akhirnya Althaf pun tak sengaja mendapat banyak pelajaran, selain tolong, maaf, aku pun mencoba mengingatkannya lagi untuk mengucapkan terima kasih. Setelah dibelikan mainan puzzle, aku berkata,” Althaf, nanti seperti tadi ya, minta tolong yang baik sama Ayah. Bantuin bikin puzzle, ingat caranya gimana?”
“Iya, Bun! Hehe.. Makasi ya Bunda udah beliin mainan.”
“Sama-sama. Oh, iya! Jangan lupa ya bilang terima kasih juga nanti sama ayah.”
“Siap, Bunda!”
.
Alhamdulillah… “Three Magic Words” berhasil dilatih hari ini. Semoga Althaf bisa selalu ingat dan menerapkannya di kehidupan sehari-hari. Bismillah…
.
#hari17
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#iip
#institutibuprofesional
#bundasayang
#bunsay
#bunsayiip
#iipdepok
@institut.ibu.profesional




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah.
Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang sekali…

Dariku dan Untukku

08/30 •Dariku dan Untukku• . Bismillaahirrahmaanirrahiim... Hari ini, tepat seminggu di tahun baru 2020. Setelah pekan lalu membuat refleksi 2019, aku jadi teringat akan sesuatu. Sebuah batu titian awal, untuk melompat ke tingkatan selanjutnya dalam kehidupan. Lompatan terbesarku di tahun kemarin adalah keberanian dalam menentukan pilihan. Salah satunya adalah “memilih untuk terus menulis”. . Sebuah resolusi yang dibuat sejak awal tahun 2019 dan berhasil direalisasikan. Alhamdulillah, tentunya atas izin Allah, aku bisa konsisten untuk menulis sepanjang tahun. Menulis apapun, diary, tugas belajar, pekerjaan, bahkan yang tak pernah aku bayangkan, bisa ikut berkontribusi dalam tiga buah buku antologi. . Selama tahun 2019, Alhamdulillah lahir tiga buah buku antologi bersama teman di berbagai komunitas. Karya pertama adalah sebuah buku non-fiksi terkait “Unforgettable Moment”. Kemudian aku mulai belajar menulis fiksi dalam buku “Pelangi di Negeri Air” dan terakhir “HR Story”, sebagai rekam jejak…

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo
Oleh: Cindyta Septiana
Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012.
Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan kerabat, tak lain ad…