Langsung ke konten utama

BunSay - Game Level #1 Tantangan Hari #12




•Game Level #1 Tantangan Hari #12•

Siang hari ini, sepulang sekolah Althaf langsung berganti pakaian, cuci-cuci, lalu makan siang. Sesudahnya Althaf mendekatiku yang baru saja menyelesaikan shalat Dzuhur.

Dengan lemah lembut dia bertanya, “Bun, aku kan Sabtu dan Minggu kemarin gak Gadget Time, boleh gak kalau diganti hari ini?”
Aku pun merespon dengan wajah merengut seraya berfikir.
“Please, Bun…” Althaf sekali lagi memelas dengan menepukkan kedua telapak tangannya di depan dada.
“Ini emangnya hari apa? Gadget Time sesuai perjanjian kan Sabtu dan Minggu.”
“Iya, tapi kan Sabtu kemarin kan kita di Malang, jalan-jalan gak boleh main hp. Terus hari Minggu kan kuota bunda katanya habis gak bisa buka You*ube. Mau main game di hp ayah gak boleh, lagi nge-cas terus ayahnya pergi.”

Athaf terus memohon dan menyampaikan alasan-alasan mengapa dia meminta dispensasi Gadget Time hari ini. Memang sudah kesepakatan kami bahwa Gadget Time hanya di hari Sabtu dan Minggu. Masing-masing 2 video You*ube berdurasi 10 menit atau diganti 2 game sebanyak 2 babak. Jadi, kurang lebih 30 menit lah Althaf diperbolehkan main hp. Perjanjian sudah dibuat, tapi memang syarat dan ketentuan terkait hal ini belum ada. Sambil melipat mukena, aku pun mencoba berempati dan berfikir bagaimana win-win solution untuk kondisi ini.

“Oke, begini. Kita tetap sepakat kalau Gadget Time itu Sabtu dan Minggu ya! Kalau ternyata Ayah dan Bunda gak bisa kasih pinjam hp, kamu boleh ganti di hari Senin tapi hanya 1 video durasi 10 menit atau game 1 babak.”
“Sepakat. Eh, tapi kalau gara-gara aku lupa atau main gitu gimana?”
“Ya tidak bisa ganti dong, kan hp itu kan salah satu bentuk hiburan permainan. Kalau kamu sudah bermain yang lain, berarti hiburan kamu sudah cukup.”
“Yaudah deh kalo begitu. Berarti sekarang aku boleh pinjam hp bunda ya?”
“Iya, boleh.”
“Horeee…”

Sambil kegirangan, Althaf mengambil hp milikku yang memang khusus untuk dia. Walau begitu, hp itu bukan miliknya, tetapi tetap milik bunda yang hanya boleh dipinjam dengan izin terlebih dahulu. Semoga cara ini bisa menjadi solusi menjaga hal-hal buruk yang mungkin terjadi dengan penggunaan gadget berlebihan pada anak. Dengan tetap memberinya kesempatan untuk terus mengikuti perkembangan zaman dan memanfaatkan kemajuan teknologi. Bismillah...
.
#hari12
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#iip
#institutibuprofesional
#bundasayang
#bunsay
#bunsayiip
#iipdepok
@institut.ibu.profesional

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah. Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan