Langsung ke konten utama

BunSay Game Level #1 Tantangan Hari #11




•Game Level #1 Tantangan Hari #11•

Ahad pekan ini berbeda dengan sebelumnya, Althaf terlihat lebih ceria dan semangat sejak bangun tidur.
“Mas, seneng amat, biasanya hari Minggu m lama dibangunin.”
“Haha… Iya dong, karena hari ini aku bisa main sepuasnya, seharian! Horeee…!”

Bulan ini memang “officially” Althaf berhenti les renang, sudah 3 gaya dasar dikuasai. Namun, akhir-akhir ini semangatnya berkurang. Bosan katanya, setiap Minggu kalau gak les renang, malah pergi ke undangan, kapan mainnya? Hahaha…

“Mas, bukannya kamu senang kalau berenang? Tiap liburan atau nginep di Hotel aja maunya yang ada kolam renang.”
“Iya, Bun! Aku tuh suka kalau berenang bebas. Kalau kemarin kan aku belajar terus, bolak balik berapa kali, malah di tempat paling dalam. Aku kan capek!”
“Hoo gitu, tapi Kamu kan cita-citanya mau jadi atlet ya?”
“Iya, tapi bukan atlet renang. Aku maunya jadi atlet sepak bola.” Althaf langsung bergaya seperti atlet sedang menendang bola.
“Kamu tau ga, gimana caranya bisa jago seperti atlet sepak bola profesional. Kayak Cristiano Ronaldo?”
“Ya harus sering latihan, Bun!”
“Nah, itu kamu tau. Kamu mau emang latihan sampe capek biar jadi pemain bola yang jago? Bukan cuma main-main bola seperti di sekolah atau di rumah lho…”
“Emang kayak gimana?”
“Ya, sama seperti capeknya latihan renang. Harus latihan tendang ke gawang, mengoper, gocek, yang pasti capek banget tuh!”
Althaf nampak berfikir dan mungkin membayangkan, “Begitu ya kalo mau jadi atlet?”
“Iya, coba tanya deh sama ayah.”
“Oh, iya! Ayah kan atlet karate ya, Bun?”
“Iya, coba tanya gimana caranya bisa jadi atlet yang jago? Latihannya apa bener harus capek gitu”
“Iya deh nanti aku tanya ayah.”

Hm… Semoga ya, Althaf nanti bisa dapat gambaran yang lebih valid, bahwa untuk menjadi atlet profesional yang jago atau sekedar menguasai keahlian olahraga tertentu pun latihannya harus capek. Lebih dari itu, aku ingin menyampaikan bahwa segala kesuksesan yang diraih memerlukan usaha yang maksimal penuh perjuangan. Seperti dalam peribahasa, berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.




#hari11
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#iip
#institutibuprofesional
#bundasayang
#bunsay
#bunsayiip
#iipdepok
@institut.ibu.profesional

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah.
Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang sekali…

Dariku dan Untukku

08/30 •Dariku dan Untukku• . Bismillaahirrahmaanirrahiim... Hari ini, tepat seminggu di tahun baru 2020. Setelah pekan lalu membuat refleksi 2019, aku jadi teringat akan sesuatu. Sebuah batu titian awal, untuk melompat ke tingkatan selanjutnya dalam kehidupan. Lompatan terbesarku di tahun kemarin adalah keberanian dalam menentukan pilihan. Salah satunya adalah “memilih untuk terus menulis”. . Sebuah resolusi yang dibuat sejak awal tahun 2019 dan berhasil direalisasikan. Alhamdulillah, tentunya atas izin Allah, aku bisa konsisten untuk menulis sepanjang tahun. Menulis apapun, diary, tugas belajar, pekerjaan, bahkan yang tak pernah aku bayangkan, bisa ikut berkontribusi dalam tiga buah buku antologi. . Selama tahun 2019, Alhamdulillah lahir tiga buah buku antologi bersama teman di berbagai komunitas. Karya pertama adalah sebuah buku non-fiksi terkait “Unforgettable Moment”. Kemudian aku mulai belajar menulis fiksi dalam buku “Pelangi di Negeri Air” dan terakhir “HR Story”, sebagai rekam jejak…

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo
Oleh: Cindyta Septiana
Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012.
Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan kerabat, tak lain ad…