Langsung ke konten utama

BunSay - Game Level #1 Tantangan Hari #10



•Game Level #1 Tantangan Hari #10•

Hari terakhir di Batu Malang, antara belum puas tapi sudah capek banget. Haha… Capeknya sama duo jagoan shaleh yang aktif banget lari sana-sini. Antusias banget sih memang, aku pun ikut senang, ya tujuan wisata itu untuk membahagiakan mereka memang, ya bonusnya bundanya yang kurang piknik ini ikut girang. Makasi loh Ayah. Althaf & Albarra benar-benar terlihat bahagia, segala macam mau dicoba, mau dilihat, mau dimainkan. Paling menguras tenaga dan emosi adalah setiap yang Mas Althaf (6) pegang, Adik Albarra (1) mau pegang juga.

“Aduh! Adek kenapa sih, setiap mainan yang aku pegang, pasti mau juga?” Teriak Althaf seketika Albarra merebut mainannya.
Albarra dengan wajah tak bersalah, “Pinjam. Pinjam.”
Althaf merebut kembali mainannya, “Tapi jangan yang motor, ini kan baru, Adek!”
“Huaa… Pinjam... “ Albarra pun menangis kencang”

Aku yang pusing sedang “packing” akhirnya mau gak mau mendekati anak-anak.
“Mas, kasihan dong Adek kan mau pinjam.”
“Iya Bunda, ini aku pinjamin yang lainnya, mobil, kereta Thomas. Kalau motor ini kan baru beli, nanti kalau rusak gimana?”
“Kalau kamu belum mau meminjamkan, simpan mainannya. Mainnya nanti kalau Adek bobo.”
“Ya tapi kan aku mau main ini, Bun!”
“Resikonya Adik jadi mau ikut main, kamu harus berbagi, main bersama.”
“Ih, kenapa sih Adek mau semua yang aku mainin? Kemarin aku main mobil dia mau juga!”
“Iya, karena Mamas itu kakak yang keren, kalau adik kecil kan mencontoh kakaknya yang lebih besar. Mamas juga kan suka mencontoh ayah dan bunda?”
“Contohnya apa?”
“Coba kalau Bunda pegang laptop dan handphone, mamas juga mau kan? Mangkanya bunda ganti, bunda pegang buku terus baca, mamas ikutan kan baca buku?”
“Iya juga sih.” Althaf pun merelakan mainan baru.

Diskusi berlangsung panjang, alhamdulillah adegan berebut berakhir dengan penjelasan singkat yang nampaknya masuk ke logika berfikir Althaf. Semoga bertahan lama ya, karena seringkali sih masih berulang juga. Hehe…




#hari11
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#iip
#institutibuprofesional
#bundasayang
#bunsay
#bunsayiip
#iipdepok
@institut.ibu.profesional

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah. Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir