Langsung ke konten utama

Aliran Rasa - Komunikasi Produktif


“Belajar dari Ibunda Jokowi dan Maudy”

Pagi ini tak seperti biasanya, aku mulai dengan menonton siaran berita. Masih dalam suasana pemilihan umum (pemilu), jadi begitu semangat menyimak beragam informasi yang ditawarkan. Selain memperhatikan hasil perhitungan cepat pemilihan presiden (pilpres), ada hal lain yang menjadi sorotan, yakni saat salah satu media mewawancarai ibu dari salah satu calon presiden. Ibu Sudjiatmi, ibunda bapak Joko Widodo. Beliau mengatakan bahwa sejak dulu masih serumahhingga kini, menjadi presiden, kemudian bertarung dalam kontestasi pilpres, hubungan komunikasi dengan bapak Jokowi tak pernah putus.

Jarak Solo - Jakarta tak menjadi penghalang bagi seorang ibu untuk terus memberikan wejangan. Beliau selalu mengingatkan Pak Jokowi tentang kejujuran, keikhlasan, terus bekerja keras demi kemakmuran dan kesejahteraan bangsa Indonesia. Komunikasi yang terbangun dengan baik secara langsung, memiliki dampak positif saat ini, dimana hanya komunikasi hanya dapat terjadi melalui sambungan telepon. Selain komunikasi, tentu keberhasilan Pak Jokowi ak lepas dari peran ibunda yang selalu menyertai namanya dalam doa siang malam, dzikir sepanjang hari, bahkan puasa sunah.

Sehari sebelumnya, aku pun baru saja selesai menonton “full video” wawancara Najwa Shihab di YouTube Channel-nya, Catatan Najwa, dengan narasumber Maudy Ayunda. Masih inget dong dengan viralnya berita “kegalauan” Maudy tentang pilihan Stanford atau Harvard? Nah, penasaran banget kenapa kok bisa ada perempuan cantik multitalenta plus pinternya luar biasa. Ternyata, salah satu kuncinya adalah komunikasi antara orang tua dan anak.

Maudy sempat berujar, “Mama dari kecil suka banget ngajak ngobrol, tapi ngobrolnya bukan ngobrol biasa. Ada problem solving, rasa kepedulian, ingin tahu. That’s the main one, conversation.” Hm… Pantes aja hasilnya seperti ini ya? Ibu memiliki peran penting bagi perkembangan buah hati, dimulai dengan memantapkan proses komunikasi sejak dini. Hasilnya pun akan tercermin pada pola pikir, bahasa, sikap, dan perilaku.

Aku pun langsung teringat dengan proses belajar yang baru saja berakhir di Kelas Bunda Sayang. Materi Level 1, Komunikasi Produktif, khususnya antara orang tua dan anak. Alhamdulillah… Banyak masalah yang muncul akhir-akhir ini terjawab. Mengapa Althaf begini, mengapa terkadang begitu? Jawabannya apa? Akhirnya menunjuk ke diri sendiri beserta suami tentunya. Banyak sekali proses komunikasi yang dilakukan dengan cara yang belum tepat, sehingga perilaku yang diharapkan pun belum tercapai.

Setiap poin komunikasi, telah aku coba selama 17 hari, sengaja aku memaksimalkan alokasi waktu yang diberikan untuk melakukan tantangan game. Kenyataannya tak semua proses berjalan mulus, ada yang berhasil ada yang tidak. Ada yang sukses di suatu kondisi tapi gagal di kondisi lainnya. Nampaknya memang benar, kesabaran perlu ditingkatkan, konsistensi harus terus dijalankan, bahkan hingga 90 hari ke depan insyaAllah baru akan terlihat hasil perubahan perilakunya.

Sesungguhnya “Komunikasi Produktif” yang dipelajari di Kelas Bunda Sayang IIP ini tak hanya berlaku antara orang tua dan anak, tetapi kepada diri sendiri dan dengan pasangan. Dalam proses belajar kali ini, aku pun menerapkan pada diri sendiri dengan selalu memikirkan hal-hal yang positif, meningkatkan kepercayaan diri dengan ucapan dan tindakan, serta mengukuhkan harapan, keyakinan dan optimisme. Namun, tantangan terbesar terdapat pada komunikasi dengan pasangan karena adanya banyak perbedaan terkait cara pandang, keyakinan, konsep dan tata nilai serta serangkaian kejadian yang dialami seseorang, yang dapat membangun emosi dan sikap mental seseorang.

Terlepas dari hasil yang telah dicapai dari proses belajar kali ini. Aku amat bersyukur dengan kesempatan untuk belajar di Kelas Bunda Sayang, terutama materi awal  yang tampaknya menjadi dasar bagi materi selanjutnya, Komunikasi Produktif. Kembali pada contoh penerapan komunikasi ibunda Pak Jokowi dan Maudy Ayunda, sungguhlah aku merasa bahwa memang komunikasi memberikan peran yang sangat penting. Bismillah… Semoga aku sebagai ibu bisa terus istiqomah dalam belajar dan memperbaiki diri, serta dengan selalu penuh cinta dan kasih sayang membersamai anak-anak tumbuh dan berkembang. Semoga mereka menjadi manusia yang berakhlak mulia di hadapan Allah SWT dan bermanfaat bagi sesama. Aamiin Allahumma Aamiin.





#aliranrasa
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#iip
#institutibuprofesional
#bundasayang
#bunsay
#bunsayiip
#iipdepok
@institut.ibu.profesional


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah.
Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang sekali…

Dariku dan Untukku

08/30 •Dariku dan Untukku• . Bismillaahirrahmaanirrahiim... Hari ini, tepat seminggu di tahun baru 2020. Setelah pekan lalu membuat refleksi 2019, aku jadi teringat akan sesuatu. Sebuah batu titian awal, untuk melompat ke tingkatan selanjutnya dalam kehidupan. Lompatan terbesarku di tahun kemarin adalah keberanian dalam menentukan pilihan. Salah satunya adalah “memilih untuk terus menulis”. . Sebuah resolusi yang dibuat sejak awal tahun 2019 dan berhasil direalisasikan. Alhamdulillah, tentunya atas izin Allah, aku bisa konsisten untuk menulis sepanjang tahun. Menulis apapun, diary, tugas belajar, pekerjaan, bahkan yang tak pernah aku bayangkan, bisa ikut berkontribusi dalam tiga buah buku antologi. . Selama tahun 2019, Alhamdulillah lahir tiga buah buku antologi bersama teman di berbagai komunitas. Karya pertama adalah sebuah buku non-fiksi terkait “Unforgettable Moment”. Kemudian aku mulai belajar menulis fiksi dalam buku “Pelangi di Negeri Air” dan terakhir “HR Story”, sebagai rekam jejak…

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo
Oleh: Cindyta Septiana
Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012.
Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan kerabat, tak lain ad…