Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2019

BunSay - Game Level #2 Tantangan Hari 6

•Game Level #2 Tantangan Hari #6• . Bismillah… Hari ini Althaf masih berlatih makan sendiri dan merapikan sendiri barang-barang pribadi. Untuk makan secara umum aman. Kendala sarapan kemarin akhirnya dapat diatasi dengan bangun lebih pagi, langsung mandi. Jadi, proses makan bisa lebih tenang, gak “diburu-buru” sama bunda. Hahaha… Eh, tapi anaknya mulai bosen difoto pas makan, ketahuan “candid” pun dia protes. Yowesss…



Aku mencoba membantu Althaf merefleksikan keuntungan makan sediri, “Alhamdulillah 1 sendok lagi, enak kan kalo makan fokus begini? Pas 30 menit selesai.” “Iya, bener juga. Apalagi kalo makanan kesukaan, Bun. Aku pasti cepet.” Jawab Althaf dengan semangat. “Semua makanan harus dicoba, apa pun yang disediakan. Kalau kamu suka, boleh tambah.” “Oiya, kan bersyukur ya, Bun? Lagian kaya Rara (baca: Video Nussa) pas coba sayur malah ketagihan. “ Althaf tertawa terkekeh. “Hush… Yasudah ayo diselesaikan, setelah ini kamu bisa punya waktu main yang banyak deh.” “Iya, tapi aku mau cuci pir…

BunSay Game Level #2 Tantangan Hari #5

•Game Level #2 Tantangan Hari #5• . Bismillah… Pagi ini drama saat sarapan kembali terulang, terjadi dilema antara mau konsisten melatih kemandirian Althaf saat makan, dan mempercepat makan karna waktu yang mepet persiapan sekolah. . “Yaa Allah, Althaf… Udah empat hari berhasil makan sendiri, kenapa jadi lama lagi sih makannya?” “Aku masih ngantuk, Bun! Tangan aku tuh masih lemes gini mau pegang sendok.” “Ini kan sudah jam 7, Mas… Haduh, ayo deh sini cepetan 15 menit lagi ya, selesai makannya terus mandi.” Akhirnya, emak pun kalah menyuapi sisa makanan hingga habis. . Alhamdulillah saat makan siang proses berlatih makan sendiri berjalan lebih mulus dan seluruh indikator perilaku berhasil dicapai. Waktu lebih senggang, sehingga aku pun lebih sabar menunggu Althaf menyelesaikan sendiri semua tugasnya. . Termasuk saat mencuci piring, ia begitu bersemangat. Namun, sudah diduga, saking semangatnya mencuci pun jadi sangat lama. Judulnya bermain sabun ini sih, dan cuci satu persatu, piring dulu sampai…

BunSay - Game Level #2 Tantangan Hari #4

•Game Level #2 Tantangan Hari #4• . Bismillah… Latihan kemandirian Althaf makan sendiri, hari ini rasanya tidak optimal, belum ada peningkatan jika dilihat dari indikator perilaku. Pagi-pagi kami sudah harus bersiap mengikuti acara bersama komunitas HEbAT Community Depok. Acaranya cukup seru, diawali dengan Tarhib Ramadhan, Siroh Nabawi, dan bermain bersama. Ada permainan ular tangga bergambar Nussa, balok, lompat tali, congklak dan lain sebagainya. . Sarapan akhirnya kami lakukan di mobil, sementara itu makan siang dan makan malam pun di luar rumah, karena harus mencari suatu barang keperluan sekolah. Namun demikian, praktek kemandirian saat makan tetap kami lakukan. Contohnya saat makan siang, dimana Althaf tetap harus makan sendiri. Hal yang spesial kali ini adalah makan dengan menggunakan tangan yang awalnya, ia tampak kesulitan. . “Sayang, begini lho caranya makan pakai tangan!” Aku mencoba memberi contoh, membuat bola-bola nasi beserta potongan ayam dan tempe goreng. Althaf pun mencoba…

BunSay - Game Level #2 Tantangan Hari #3

•Game Level #2 Tantangan Hari #3• . Bismillah… Hari ini sesuai rencana kami ziarah ke makam eyang kakung Althaf dan Albarra di Cilegon. Alhamdulillah pagi-pagi Althaf kondisinya sudah lebih baik dari hari kemarin dengan suhu sekitar 38,1 derajat celcius. Althaf tampak lebih semangat, jelas saja karena hari ini akan bertemu dengan para sepupu di rumah eyang. . Pagi-pagi sekali kami sudah sampai, tapi para sepupu belum datang. Jadi, kami memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu, qadarullah kondisi belum ramai sehingga suasananya bisa lebih fokus untuk kembali berlatih kemandirian. Kali ini Althaf benar-benar menyiapkan sendiri nasi beserta lauk-pauknya. Awalnya memang berat seperti biasa, tapi aku menemukan jurus jitu lainnya. . “Mas, ayo kita sarapan duluan. Jadi, nanti kalau Mba Sekar dan Adik Gya datang, kita bisa langsung main.” “Oke Bun, tapi makannya sambil duduk di sofa aja sambil nonton tv. Tiba-tiba ide muncul, “Eh, tuh lihat tuh, Albarra aja udah siap duduk di meja makan sama ayah.” “I…

BunSay - Game Level #2 Tantangan Hari #2

•Game Level #2 Tantangan Hari #2• . Bismillaahirrahmaanirrahiim… Subuh aku ukur suhu tubuh Althaf mencapai 39,1 derajat celcius. Akhirnya kuberi lagi paracetamol sambil terus mengompresnya dengan air panas, hingga pagi hari. Alhamdulillah, demamnya berkurang dan ia pun terbangun. Kami memutuskan untuk kembali izin sekolah dan beristirahat saja di rumah. Seperti biasa kalau demam turun, Althaf mulai ceria sehingga bisa kuajak sarapan di meja makan, walaupun  duduk dengan posisi bermalas-malasan. . “Mas, ini nasinya udah Bunda tuang ke piring, sekarang Kamu pilih mau makan apa?” Althaf melamun saja memandangi lauk-pauk di meja. “Mas, ayo… Kamu mau pakai apa?” Masih melamun kemudian tiba-tiba berkata, “Kentang kriuk aja pakai nasi.” “Lho,  Mamas kan suka itu wortel. Kemarin minta wortel.” “Yaudah wortel 3 potong aja.” Althaf pun mulai merengek. “Lauknya, Kamu coba semua ya, sedikit-sedikit aja.” “Ah, gak mau ah, ayam aja deh…” Pak suami yang duduk di sampingnya pun ikut membujuk, “Ayo dicoba dulu sem…

BunSay - Game Level #2 Tantangan Hari #1

•Game Level #2 Tantangan Hari #1• . Bismillaahirrahmaanirrahiim… Hari ini Kelas Bunda Sayang Depok 1, masuk ke Game Level 2, seperti biasa tantangan pun akan dilakukan selama 10 hari ke depan. Kali ini materinya adalah tentang Melatih Kemandirian, untuk Althaf sendiri salah satu Basic Skill yang masih perlu dilatih adalah Makan Sendiri. Beda ya, belajar makan ala baby Albarra dan Althaf, karena keberhasilan dari proses kemandirian pada setiap jenjang usia anak pun akan berbeda. . Untuk Althaf, makan sendiri, aku klasifikasikan menjadi beberapa indikator perilaku. Mulai dari yang paling sederhana, memilih menu sendiri, hingga tingkatan mencuci peralatan bekas makan. Mengapa? Karena sebentar lagi ia masuk SD yang akan melalui juga proses makan siang sendiri di sekolah, otomatis keterampilan ini benar-benar sudah harus dikuasai. . Namun, hari pertama tantangan ini begitu menantang. Qadarullah, Althaf demam, sejak kemarin sore. Wajahnya terlihat pucat, nampak lelah, dan mengeluh pusing. Alhasil…

Yang Kuingat Tentang Ibu, di antara Hidup dan Mati

"Sayang, kamu mau teh manis?" Bisik suami kepadaku.
Sambil memperhatikan suster yang memasang infus, ku hanya dapat mengangguk ke arahnya. Ia pun meminta suster tersebut segelas teh manis hangat.
Tak henti-henti kuucapkan, “Astaghfirullahal 'adzim, Alladzi Laa Ilaaha Illallah, Allahu Akbar…”
Kami terus melangitkan doa, lalu mengusap-usap jabang bayi dalam perut yang kadang dijawab dengan gerakan hebat atau lagi-lagi rasa mulas yang semakin lama semakin nikmat.
Tak lama suster tadi datang membawa pesanan teh manis hangat, ia meletakkan di meja sudut ruangan. Maklum ini bukan ruang perawatan tapi ruang persalinan, jadi tak ada meja di samping kanan kiri hanya perlengkapan infus, oksigen, dan lainnya yang sesungguhnya tak begitu kupahami.
Setelah meletakkan gelas di meja, suster mendekati kami, memberi senyuman, dan sambil sedikit memijat kakiku, ia pun berkata, "Ibu, di dalam infusnya sudah diberikan induksi lagi ya, semoga pembukaannya gak mandek lagi, jadi cepat pembukaa…

Aliran Rasa - Komunikasi Produktif

“Belajar dari Ibunda Jokowi dan Maudy”
Pagi ini tak seperti biasanya, aku mulai dengan menonton siaran berita. Masih dalam suasana pemilihan umum (pemilu), jadi begitu semangat menyimak beragam informasi yang ditawarkan. Selain memperhatikan hasil perhitungan cepat pemilihan presiden (pilpres), ada hal lain yang menjadi sorotan, yakni saat salah satu media mewawancarai ibu dari salah satu calon presiden. Ibu Sudjiatmi, ibunda bapak Joko Widodo. Beliau mengatakan bahwa sejak dulu masih serumahhingga kini, menjadi presiden, kemudian bertarung dalam kontestasi pilpres, hubungan komunikasi dengan bapak Jokowi tak pernah putus.
Jarak Solo - Jakarta tak menjadi penghalang bagi seorang ibu untuk terus memberikan wejangan. Beliau selalu mengingatkan Pak Jokowi tentang kejujuran, keikhlasan, terus bekerja keras demi kemakmuran dan kesejahteraan bangsa Indonesia. Komunikasi yang terbangun dengan baik secara langsung, memiliki dampak positif saat ini, dimana hanya komunikasi hanya dapat terjadi me…