Langsung ke konten utama

Perkenalan “Minder” KaMi Menulis IP Depok



Hari ini adalah hari yang begitu spesial, tak hanya hari pertama masuk ke perkuliahan Bunda Sayang, tetapi juga bertepatan dengan bergabungnya aku di Kelas Minat Menulis - Ibu Profesional Depok. Benar-benar rasa ospek hari pertama, deg-deg-an dan takjub melihat teman-teman sekelas. Mulai dari profilnya, pengalamannya, prestasinya, dan tentu hasil karyanya. Tarik nafas panjang… Buang nafas panjang… Bismillah, semoga dengan mengikuti kedua kelas ini, aku pun bisa menjadi lebih baik, bukan untuk lebih baik dari mereka, tetapi lebih baik dari aku yang sebelumnya.

Kelas Minat Menulis - IP Depok dimulai dengan proses perkenalan, seperti yang sudah kuceritakan tadi. Maasyaa Allah, hampir semua peserta di kelas adalah “Penulis Beneran” bukan sepertiku yang hanya menulis sebatas pada halaman media sosial dan blog. Setidaknya kebanyakan dari mereka memiliki karya buku antologi atau tulisan dengan konten terstruktur. Menarik sekali, bagiku agar bisa lebih banyak belajar dari pengalaman mereka. Harapan besarku kini adalah memiliki komunitas menulis yang tak hanya sekedar tempat menimba ilmu, tetapi juga rumah yang nyaman untuk bersama belajar dan berbagi.

Kini aku semakin ketar-ketir rasanya menulis data diri untuk perkenalan, dengan format yang sudah disiapkan. Bolak-balik kulihat contoh profil perkenalan mereka satu per satu. Ditambah lagi pengalamanku sebagai rekruter perusahaan keluar, bagai menerima CV pelamar kerja, aku pelajari betul satu per satu informasinya. Tak lupa aku cek juga tampilan media sosial dan hasil tulisan mereka. “Astaghfirullah aku harus menulis data diri seperti apa ini?” Mau nangis rasanya tapi malu, mau mengundurkan diri tapi sayang. Yaudah deh, Bismillah… Aku pun mulai mengisi format perkenalan, sebagai berikut:

*Format Perkenalan*

Nama :
Domisili : (misalnya : GDC)
Aktivitas Saat ini :
Pengalaman Menulis / Hasil Karya Penulisan : (bila belum ada tidak apa2, kita bertumbuh bersama 😊)
Motivasi Ikut Kami Menulis :

—-
Draf:

Assalamu’alaikum,

Perkenalkan :)
*Nama*: Cindyta Septiana (Cindy)
*Domisili*: Sawangan Residence Ideal, Bojongsari Baru, Depok
*Aktivitas saat ini*:
Fulltime - Parttime - Lifetime
  • Ibu bekerja di ranah domestik
  • Rekan suami membangun rumah “Surga”
  • Sahabat 2 anak tumbuh & berkembang
  • Mahasiswa BunSay Batch #5
  • Siswa tahsin, tahfizh, liqo
  • Siswa Kelas Menulis Online
  • Aktivis sosial RT & keagamaan DKM Masjid
  • Menulis (tugas kuliah BunSay, KLIP, review OWOB, antologi)
*Pengalaman Menulis/ Hasil Karya Tulis*:
  • Menulis diary saat sekolah
  • Menulis di media sosial & blog
  • Menulis buku antologi (dalam proses, doakan ya.. )
*Motivasi ikut Kami Menulis*:
3B
  • Mencari wadah silaturrahim, menambah keluarga pada “rumah” yg tempat belajar & tumbuh bersama dalam ilmu kepenulisan
  • Melanjutkan proses menemukenali visi & misi hidup serta passion pada diri sendiri, sejak menulis kembali saat Matrikulasi Batch #6
  • Meningkatkan kemampuan diri dalam menulis, sebagai media penyaluran emosi, berbagi ilmu & pengalaman, serta menebar kebermanfaatan

Hingga seharian tulisan panjang lebar di atas hanya kutulis di “note” dan urung terkirim di whatsapp group hingga malam hari. Sungguh aku sangat “minder” dengan teman sekelas karena tak ada sesuatu yang menarik apalagi membanggakan dariku. Namun, setelah berdiskusi dengan Pak Suami saat makan malam. Aku mendapat sedikit motivasi untuk lebih percaya diri. Sama seperti sebelum-sebelumnya, di saat aku mulai merasa tak memiliki “sesuatu” maka sebenarnya aku memiliki banyak hal yang pada akhirnya tertutup oleh keraguanku dan rasa tidak percaya diriku yang begitu besar.

Beberapa kali nyatanya aku bisa melalui fase tersebut, dengan melihat sisi lain dari diriku, yakni kelebihanku. Akhirnya, aku pun kembali melihat group dan membaca satu per satu profil peserta lain. Kemudian aku mereviu Draf perkenalan sudah dibuat, aku berpikir untuk membuatnya lebih sederhana, tetapi bisa menunjukkan jati diri dan motivasi yang kuat walau belum memiliki prestasi dan karya yang memikat. Bismillah...


Assalamu’alaikum,
_Setelah melewati fase “minder” melihat profil Makemak Keren di sini seharian kemarin, alhamdulillah hari ini berani berkenalan_ πŸ˜‹

Bismillah…
Saya *Cindyta Septiana / Cindy*
🏑 Sawangan Residence Ideal,
Bojongsari Baru, Depok

*Full-time Mother | Part-time Blogger | Life-time Learner*
Rekan Suami & Sahabat 2 Anak,
BunSay Batch #5,
Kelas Menulis Online,
Tahsin, Tahfiz, Liqo,
Aktivis sosial/ keagamaan,
dan *”Menulis”* tugas kuliah BunSay, KLIP, review OWOB, antologi, & sharing Medsos/ Blog)

*Pengalaman Menulis/ Hasil Karya Tulis*:
Belum ada πŸ˜‚πŸ˜‚ masih dalam proses menulis beberapa buku antologi (Mohon doanya ya.. πŸ™πŸ» )

*Motivasi ikut Kami Menulis*:
Sesuai Motto Hidup:
*“3B - Belajar, Berbagi, & Bermanfaat”*
✍🏻 Melanjutkan proses menemukenali
“Passion Menulis” sejak Matrikulasi Batch #6
✍🏻 Mencari “rumah” belajar & berkembang bersama dalam ilmu kepenulisan
✍🏻 Melatih diri untuk “berbagi dengan tulisan” agar menulis tak hanya sebagai media penyaluran emosi, tapi juga “menebar kebermanfaatan”

Demikian  πŸ€— Semoga berkenan...
πŸ§•πŸ» *_Bundyta_*

Demikianlah, perkenalan singkat yang sudah direvisi. Berhubung saat menulis ini sudah memasuki Jam Malam, pukul 23:00 WIB, sesuai prediksi. Maka, insyaAllah aku akan posting perkenalan ini besok pagi. Bismillah, semoga perkenalan awal ini berkesan positif dan mendapat respon yang positif pula dari seluruh peserta dan pengurus. Aamiin Allahumma Aamiin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah.
Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang sekali…

Dariku dan Untukku

08/30 •Dariku dan Untukku• . Bismillaahirrahmaanirrahiim... Hari ini, tepat seminggu di tahun baru 2020. Setelah pekan lalu membuat refleksi 2019, aku jadi teringat akan sesuatu. Sebuah batu titian awal, untuk melompat ke tingkatan selanjutnya dalam kehidupan. Lompatan terbesarku di tahun kemarin adalah keberanian dalam menentukan pilihan. Salah satunya adalah “memilih untuk terus menulis”. . Sebuah resolusi yang dibuat sejak awal tahun 2019 dan berhasil direalisasikan. Alhamdulillah, tentunya atas izin Allah, aku bisa konsisten untuk menulis sepanjang tahun. Menulis apapun, diary, tugas belajar, pekerjaan, bahkan yang tak pernah aku bayangkan, bisa ikut berkontribusi dalam tiga buah buku antologi. . Selama tahun 2019, Alhamdulillah lahir tiga buah buku antologi bersama teman di berbagai komunitas. Karya pertama adalah sebuah buku non-fiksi terkait “Unforgettable Moment”. Kemudian aku mulai belajar menulis fiksi dalam buku “Pelangi di Negeri Air” dan terakhir “HR Story”, sebagai rekam jejak…

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo
Oleh: Cindyta Septiana
Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012.
Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan kerabat, tak lain ad…