Langsung ke konten utama

My Productivity Booster



Pernah gak kamu mengalami suatu hari yang rasanya maleeesss banget? Istilah milenial tuh “mager” alias males gerak. Hari-hari jadi kurang semangat dan tentu saja tidak produktif. Di sisi lain, ada hari yang membuat kita merasa terkejut dengan segala apa yang sudah kita lakukan dan kita lihat serta rasakan hasilnya.
.
Terinspirasi dari postingan akun Iluni UI beberapa waktu lalu, aku jadi mulai bertanya pada diri sendiri, apa yang kualami selama ini mungkin juga terkait dengan yang namanya “Productivity Booster”. Jadi, ada saat dimana aku tidak menghadirkan booster di awal hari, sehingga kurang semangat untuk menjalani semua aktivitas yang hasilnya menjadi kurang produktif.
.
Aku pun mulai mengingat-ingat kembali apa hal yang membuatku lebih bersemangat memulai hari. Kuharus segera memahami apa energy booster ini karena sangatlah penting untuk meningkatkan produktivitas serta menghalau berbagai godaan kemalasan yang membawa dampak buruk bagi banyak hal. Nah, booster pada setiap orang pastinya berbeda ya, jadi temukan sendiri yang mana productivity booster-mu?!?
.
Kalau aku, seperti dalam option gambar (digeser ke sebelah), mengaktifkan “Airplane Mode” pada gadget adalah salah satu bentuk Productivity Booster. Maklum ya, kalau sudah buka media sosial seringkali tak terasa banyak waktu terbuang. Apalagi kalau buka online shop, wah godaan tak hanya pada mata, tapi ujian pada keteguhan hati dan tantangan pada isi dompet. Hahaha…
.
Satu lagi Productivity Booster yang amat sangat mempengaruhi keseharianku, yaitu “ritual ibadah”. Entah mengapa kalau suatu hari diawali dengan Shalat Subuh tepat waktu, lalu dilanjut dengan dzikir pagi dan disempatkan Shalat Dhuha sebelum beraktivitas, rasanya pasti berbeda. Ada ketenangan dalam hati, terasa kenyamanan menjalankan semua kegiatan, terdapat keikhlasan untuk menjalankan keseharian.
.
Hehe, beginilah ibu yang bekerja di ranah domestik, harus ditakini dulu bahwa semua yang dihadapi di rumah niatnya adalah untuk ibadah. Jadi, alhamdulillah kini aku sudah menemukenali apa saja Productivity Booster yang bisa kuandalkan demi mencapai keseharian yang lebih bersemangat dan produktif. Mohon doanya ya, semoga hasil perenungan ini tepat, Bismillah...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah.
Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang sekali…

Dariku dan Untukku

08/30 •Dariku dan Untukku• . Bismillaahirrahmaanirrahiim... Hari ini, tepat seminggu di tahun baru 2020. Setelah pekan lalu membuat refleksi 2019, aku jadi teringat akan sesuatu. Sebuah batu titian awal, untuk melompat ke tingkatan selanjutnya dalam kehidupan. Lompatan terbesarku di tahun kemarin adalah keberanian dalam menentukan pilihan. Salah satunya adalah “memilih untuk terus menulis”. . Sebuah resolusi yang dibuat sejak awal tahun 2019 dan berhasil direalisasikan. Alhamdulillah, tentunya atas izin Allah, aku bisa konsisten untuk menulis sepanjang tahun. Menulis apapun, diary, tugas belajar, pekerjaan, bahkan yang tak pernah aku bayangkan, bisa ikut berkontribusi dalam tiga buah buku antologi. . Selama tahun 2019, Alhamdulillah lahir tiga buah buku antologi bersama teman di berbagai komunitas. Karya pertama adalah sebuah buku non-fiksi terkait “Unforgettable Moment”. Kemudian aku mulai belajar menulis fiksi dalam buku “Pelangi di Negeri Air” dan terakhir “HR Story”, sebagai rekam jejak…

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo
Oleh: Cindyta Septiana
Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012.
Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan kerabat, tak lain ad…