Langsung ke konten utama

Latihan Menyapih “Unplanned”

Hari ini adalah hari yang “unplanned” dan benar-benar membuatku gundah gulana semalaman. Nampaknya juga bagi Albarra, tak seperti biasa dia baru tidur jam 11 malam. Gulang - guling dengan mata yang masih bulat bersinar. Padahal aku sudah bolak - balik menyusui, tapi ia tak kunjung terlelap. Padahal ASI bak obat bius yang tak bisa membuat matanya bertahan dalam 15 menit. Kali ini berbeda, semakin lama, binar di matanya malah semakin terang benderang.

Hari ini adalah hari dimana Althaf mengikuti PORSENI, apa ya singkatannya? Mungkin seperti Pekan Olah Raga dan Seni, hahaha… Entahlah tepatnya apa, yang jelas, tahun lalu Althaf ikut lomba memasangkan kata yang masuk ke dalam kategori olahraga. Namun, kali ini ia mengikuti lomba menari. Hal yang membuat aku “galau” adalah perlu atau tidak membawa Albarra ke Ancol lagi? Oh iya, aku belum bilang ya bahwa lokasinya di Ancol, yang mana butuh perjalanan sekitar 2 jam untuk sampai di lokasi.

Belum lagi kalau macet, atau atau antre parkir bus. Jelas saja macet, ini adalah lomba yang diikuti oleh banyak peserta mencakup seluruh Taman Kanak-Kanak wilayah Depok. Tahun lalu, aku merasa situasi begitu sesak, toilet tidak tersedia dengan mencukupi. Jadi, antrian begitu panjang dan aku hampir saja tak melihat Althaf lomba. Belajar dari pengalaman tahun lalu, yang mana kemudian Pak Suami menjemput lalu kami pun main hingga sore di pantai, aku jadi banyak pertimbangan.

Tentu saja, kalau dilihat dari quality time, ini adalah salah satu moment acara keluarga. Akan tetapi, kasihan juga Albarra harus menunggu lama dengan situasi yang kurang nyaman, pagi hingga siang setelah lomba selesai. Pak Suami pun demikian, kasihan harus mengendarai mobil seorang diri saat berangkat sambil mengikuti bus dari belakang. Kemudian saat pulang pun harus ikut bermacet-macetan hingga larut malam.

Akhirnya, alhamdulillah keputusan pun dibuat dengan kesepakatan bersama. Aku mengantar Althaf ke Ancol untuk mengikuti lomba, sementara Pak Suami menjaga Albarra di rumah. Adududuh… Langsung aku kebingungan karena tak punya stok ASI Perah. Aku hanya menyediakan nasi, lauk telur dan daging rolade, beserta susu UHT. Bismillah, kulihat keyakinan yang ditunjukkan Pak Suami bahwa ia bisa menjaga Albarra dengan baik dan aman serta nyaman tentunya.

Berangkatlah aku pukul 6 pagi hari ini bersama Althaf dengan diiringi rintik hujan. Bersyukurlah, kutak membawa Albarra, kasihan karena cuaca begitu dingin dan waktu pemberangkatan bus “ngaret” hingga satu jam. Berangkat pukul 7 dan sampai pukul 9, alhamdulillah tanpa macet, dan di waktu yang sama ternyata Pak Suami dan Albarra baru bangun tidur. Alhamdulillah lagi deh, mereka berdua bisa nyaman di rumah sementara aku pun fokus mengurusi segala kebutuhan Althaf.

Waktu berlalu hingga selesai lomba, kudapati laporan bahwa Albarra sudah mandi, sudah makan banyak dan ajaibnya tanpa menangis. Alhamdulillah, kupikir Albarra akan mencariku atau terfikir untuk “nenen”, tapi entahlah mungkin susah juga bagi Albarra untuk menanyakan “Dimana Bunda?” alhasil dia mengikuti kemanapun ayahnya bergerak, ke dapur, teras, bahkan kamar mandi. Pak Suami mengajaknya bermain, membaca buku, dan menonton TV. Disini aku benar-benar merasa lebih tenang, walaupun kondisi payudara mulai tak tenang. Sudah semakin bengkak karena ASI yang penuh tak keluar.

Hingga pukul 3 sore, aku pun sampai di rumah. Lagi-lagi aku terkejut, Albarra begitu semangat menghampiriku yang baru memasuki depan rumah, minta peluk dan gendong tapi tak minta susu. Hahahaha… Nampaknya dia lupa, sampai ketika aku memandikannya dan mulailah ia mengantuk menjelang sore. Ketika ingin tidur, barulah Albarra “menagih” kepada Bunda. Wah, alhamdulillah kalau bisa seperti ini seminggu sekali, insyaAllah proses menyapih bisa berjalan lebih “smooth”.

Aku pun akhirnya mulai “sounding” tentang kelak di usia 2 tahun, Albarra tak lagi menyusu. Namun, ia masih belum paham nampaknya jadi kurasa sering-sering pergi sendiri meninggalkannya adalah cara yang lebih baik. Hehehe… Asik juga ya kalo begini, langsung deh kepikiran mau nyalon, mau nonton, mau nge-gym, dll. Bismillah, yang penting anak aman dan nyaman, bunda pun senang. Tinggal urusan siapa yang mau dititipkan? Hahaha… Mohon doanya ya, semoga proses penyapihan lancar jaya dan tepat pada waktunya. Aamiin Allahumma Aamiin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah.
Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang sekali…

Dariku dan Untukku

08/30 •Dariku dan Untukku• . Bismillaahirrahmaanirrahiim... Hari ini, tepat seminggu di tahun baru 2020. Setelah pekan lalu membuat refleksi 2019, aku jadi teringat akan sesuatu. Sebuah batu titian awal, untuk melompat ke tingkatan selanjutnya dalam kehidupan. Lompatan terbesarku di tahun kemarin adalah keberanian dalam menentukan pilihan. Salah satunya adalah “memilih untuk terus menulis”. . Sebuah resolusi yang dibuat sejak awal tahun 2019 dan berhasil direalisasikan. Alhamdulillah, tentunya atas izin Allah, aku bisa konsisten untuk menulis sepanjang tahun. Menulis apapun, diary, tugas belajar, pekerjaan, bahkan yang tak pernah aku bayangkan, bisa ikut berkontribusi dalam tiga buah buku antologi. . Selama tahun 2019, Alhamdulillah lahir tiga buah buku antologi bersama teman di berbagai komunitas. Karya pertama adalah sebuah buku non-fiksi terkait “Unforgettable Moment”. Kemudian aku mulai belajar menulis fiksi dalam buku “Pelangi di Negeri Air” dan terakhir “HR Story”, sebagai rekam jejak…

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo
Oleh: Cindyta Septiana
Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012.
Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan kerabat, tak lain ad…