Langsung ke konten utama

Kelas Bunda Sayang Secara Resmi Dimulai


Bismillah… Kemarin adalah hari pertama Kelas Bunda Sayang Batch #5 untuk wilayah Depok. Aku sendiri berada di Kelas BunSay #5 Depok 1. Pada pukul 08.00 WIB, materi sudah matang dan siap disantap di Google Classroom. Kuintip sebentar sambil bersiap untuk Liqo di Masjid Babussalam. Namun, yang sebentar itu nyatanya malah kepikiran, terutama saat menyadari bahwa telah banyak kesalahan yang aku lakukan saat berkomunikasi. Baik pada diri sendiri, pasangan, maupun anak-anak. Astaghfirullah… Semoga ada waktu dan kesempatan bagiku untuk memperbaikinya, aamiin.

Dari materi yang disampaikan, terdapat hal-hal yang perlu dicatat dan diterapkan, mulai dari komunikasi dengan diri sendiri. Perkataan dalam komunikasi adalah hasil dari pikiran yang tertuang dalam kata-kata. Oleh sebab itu, kuncinya adalah perbaiki pikiran kita dengan menjadi lebih positif sehingga perkataan kita pun menjadi lebih positif yang tentunya dapat mengarahkan diri kita menjadi orang yang lebih produktif dan bermanfaat.

Sementara itu, pagi ini tugas Tantangan Level 1 pun benar-benar siap menantang. Diskusi dilakukan siang hingga sore. Seperti biasa, kendala teknis menjadi yang utama, aku pun banyak mendapat informasi tambahan dari pertanyaan yang diajukan. Huh.. hah.. Bismillah, nanti malam mulai aku buat konsep dan timeline pengerjaannya.

Aku akan mulai dengan Komunikasi Produktif bersama Althaf, karena waktu paling banyak aku dengannya dan paling memungkinkan untuk mengaplikasikan dalam setiap moment bersamanya. Bismillah… Semoga semua level bisa terlaksana dengan baik, hasil tugas kelas yang memuaskan, serta hasil implementasi dalam kehidupan yang membahagiakan. Aamiin Allahumma Aamiin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah. Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan

Dariku dan Untukku

08/30 •Dariku dan Untukku• . Bismillaahirrahmaanirrahiim... Hari ini, tepat seminggu di tahun baru 2020. Setelah pekan lalu membuat refleksi 2019, aku jadi teringat akan sesuatu. Sebuah batu titian awal, untuk melompat ke tingkatan selanjutnya dalam kehidupan. Lompatan terbesarku di tahun kemarin adalah keberanian dalam menentukan pilihan. Salah satunya adalah “memilih untuk terus menulis”. . Sebuah resolusi yang dibuat sejak awal tahun 2019 dan berhasil direalisasikan. Alhamdulillah, tentunya atas izin Allah, aku bisa konsisten untuk menulis sepanjang tahun. Menulis apapun, diary, tugas belajar, pekerjaan, bahkan yang tak pernah aku bayangkan, bisa ikut berkontribusi dalam tiga buah buku antologi. . Selama tahun 2019, Alhamdulillah lahir tiga buah buku antologi bersama teman di berbagai komunitas. Karya pertama adalah sebuah buku non-fiksi terkait “Unforgettable Moment”. Kemudian aku mulai belajar menulis fiksi dalam buku “Pelangi di Negeri Air” dan terakhir “HR Story