Langsung ke konten utama

Karena Bunda (Sungguh) Sayang



Bismillah… “Alasan terkuat apa yang aku miliki sehingga ingin menekuni Ilmu Bunda Sayang?”. Sesuai dengan judulnya, karena aku sungguh-sungguh menyayangi anak-anak, Althaf dan Albarra. Entah apa ada ukuran yang bisa menggambarkan rasa sayang ini, tapi nampaknya belum ada yang cukup menampung batas maksimalnya. Dalam Kelas Bunda Sayang, atau disingkat BunSay ini, aku insyaAllah akan mempelajari tentang Ilmu Dasar Mendidik Anak.

Padahal lulusan Psikologi yang konon mempelajari perkembangan manusia sejak lahir hingga dewasa, belum lagi salah satu peminatan yang diambil adalah Psikologi Pendidikan. Otomatis banyak sekali mata ajar tentang pendidikan anak, seperti psikologi belajar, dll. Kurang apa coba ilmunya? Ditambah lagi dengan kelas-kelas “parenting” online dan offline, baik sendiri bahkan ada yang bersama dengan Pak Suami. Anak sudah dua, kurang lebih menjalani pengasuhan sudah hampir enam tahun lamanya. Kurang apa coba prakteknya?

Ya, kenyataannya memang belum maksimal pelaksanaannya dan hasilnya pun belum optimal. Ada saja kurangnya dan tentu pasti ada khilafnya. Pada titik inilah aku merasa benar-benar butuh sebuah fasilitas untuk belajar lebih giat lagi dan lebih sungguh-sungguh belajar. Tak hanya sekedar teori, terapi juga praktek. Praktek berjamaah, InsyaAllah lebih kaya pengalamannya dan lebih berkah. Bismillah, mohon doanya agar semua proses berjalan lancar dan bermanfaat yaa!

Dengan kesungguhan niat yang aku miliki dalam mengikuti Kelas Bunda Sayang, “Bagaimana strategi menuntut ilmu yang akan aku rencanakan selama proses perkuliahan?” Tentunya yang pertama adalah meluruskan niat, beribadah kepada Allah SWT. Mendidik anak-anak yang diamanahkan oleh-Nya tentulah akan diganjar pahala yang tak ternilai harganya, insyaAllah.

Selanjutnya membuat jadwal belajar sesuai timeline perkuliahan khususnya, dan membuat jadwal harian secara umum. Dengan mempertimbangkan aspek penting dan genting serta mengutamakan hal-hal yang sifatnya wajib, seperti ritual ibadah serta memenuhi kebutuhan utama suami dan anak-anak. Membuat pengingat, kata-kata motivasi yang diharapkan bisa selalu mengembalikan semangat untuk menjalankan setiap tantangan tugas dan diskusi serta peran lainnya di kelas.

Selama perkuliahan pun perlu aktif berdiskusi terkait materi untuk menambah wawasan dan mengoptimalkan proses belajar selama di kelas. Di samping itu, perlu juga saling memotivasi antar teman, mengamati tugas-tugas mereka yang mungkin saja pengalaman yang mereka bagikan bisa memberikan inspirasi. Jika menemukan kesulitan, ada baiknya tak sungkan meminta saran kepada teman. Begitu pula sebaliknya, berbagi kepada teman akan memperkuat pemahaman kita. Namun, yang terpenting adalah konsisten dalam penerapannya. Semangat!

Dari setiap tugas yang diberikan, aku sebisa mungkin akan memberikan “reward” sebagai bentuk apresiasi ketika tugas selesai dilaksanakan. Misalnya, makan makanan kesukaan, membeli buku, jalan-jalan, pergi ke salon, dll. Mengapa? Oleh karena di tengah kesibukan mengurus hal-hal domestik, menambah ilmu ada bentuk tantangan yang luar biasa. Dari segi manajemen waktu, usaha dalam melaksanakannya, serta yang paling utama adalah konsistensi. Bismillah… Semoga segala urusannya dimudahkan dan dilancarkan. Aamiin.

Selanjutnya, “Berkaitan dengan Adab Menuntut Ilmu, perubahan sikap apa saja yang akan kuperbaiki dalam proses mencari ilmu di Program Bunda Sayang?”. Paling utama adalah kembali lagi kepada Sang Pemilik Ilmu, luruskan niat untuk ibadah, dan hanya kepada-Nya lah meminta kemudahan dalam menyerap ilmu. Kemudian menjaga adab terhadap sumber ilmu, seperti guru, buku, termasuk komunitas Institut Ibu Profesional (tempat belajar saat ini), agar ilmu yang diserap menjadi berkah sepanjang masa. Aamiin Allahumma Aamiin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah. Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan