Langsung ke konten utama

BunSay - Game Level #1 Tantangan Hari #2



•Game Level #1 Tantangan Hari #2•

Pagi ini, segala perlengkapan untuk Lomba Mewarnai sudah siap. Tas lengkap dengan air minum, bekal roti, dan susu serta tertunya alat tempur, cayon dan meja lipat. Namun, mata Althaf sepertinya kasih berat untuk membuka, aku pun membawakannya segelas air putih. Kebetulan Hari Jumat, sambil memotong kuku, kami berbincang tentang kegiatan yang akan dilakukannya hari ini.

“Mas, gimana udah siap lombanya?”
Althaf ternyum, “Belum!”
“Lha kok belum?”
“Ya kan aku belum mandi, belum pakai baju, sepatu. Gimana sih, Bunda?”
“Hahaha, bisa aee… Maksud Bunda kesiapan lombanya nanti, yakin Mamas bisa?”
“Iya.. yaa..!” Masih senyam-senyum.
“InsyaAllah Mamas pasti bisa, yang pertama Mamas harus berdoa.”
“Kalo keluar garis atau salah warnain gmn ya?”
“Gapapa yang penting Mamas semangat, pasti bisa deh mewarnai dengan bagus. Usahakan rapi dan penuh.”
“Iya, tapi yang lomba waktu itu pemenangnya bagus mewarnainya, gambar seperti hidup gitu loh, Bun.”
“Gapapa kemarin dia yang menang, kan Mamas sudah tau triknya sekarang, Mamas coba mewarnai seperti yang diajarkan di sekolah.”
“Oh, iya! Aku kan sudah belajar teknik gradasi seperti di video waktu itu.”
Sambil kupeluk, “Nah, itu kan mamas inget, coba ya Kamu buat seperti itu. Bismillah, semoga Mamas bisa mewarnai dengan hasil yang bagus, Mamas pasti bisa insyaAllah.”




Hari ini aku coba menyemangati Althaf dengan kata-kata positif dan optimis. Tanpa terus melihat pengalaman buruk masa lalu, dalam hal ini sebuah kekalahan. Aku mencoba mengajaknya fokus pada solusi. Mengapa kalah dan bagaimana caranya agar bisa menang? Alhamdulillah, Althaf menjadi tambah bersemangat, dia pun tak “kapok” mengikuti lomba. Bahkan kali ini Althaf tahu apa hal-hal yang harus ia perbaiki. Walaupun hasilnya tetep ya, belum menang. Hehe... Yang penting kan Althaf, Albarra, dan Bunda ikut senang pulang-pulang bawa bingkisan. Alhamdulillah, barakallah...
.
#hari2
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#iip
#institutibuprofesional
#bundasayang
#bunsay
#bunsayiip
#iipdepok
@institut.ibu.profesional

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah. Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir