Langsung ke konten utama

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)



Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan.

Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahirkan vaginal. Bagaimana mau pasang IUD? Dikira alat kontrasepsi tersebut bisa sulap masuk sendiri ke rahim. Finally, dokter meresepkan Pil KB Microlut sementara aku belum berani pasang IUD dan kondisinya masih menyusui.

Alhamdulillah selama ini sih aku merasa cocok, ya kalau dibilang mempengaruhi nafsu makan sih mungkin saja. Cuma memang karena masih menyusui, jadi rasanya lapar terus, kupikir itu wajar. Kemudian beberapa kali memang terasa pusing, ini aku sebenarnya belum tau juga apakah memang salah satu efek dari penggunaan pil KB tersebut? Nah, satu lagi, flek hitam, ada atau tiada aku pun belum begitu paham. Ini adalah satu efek dari penggunaan Kontrasepsi Hormonal yang konon banyak dikhawatirkan para ibu. Harus aku cek lagi sih untuk ketiganya. Nah, yang pasti untuk kedua kali proses kelahiran, aku baru mengalami menstruasi setelah anak berusia 21 bulan. Astaghfirullah ini pun aku kurang paham apakah lagi-lagi efek dari pil KB atau bukan?

Nah, wajar saja mungkin aku mengalami kegalauan yang cukup hebat saat ini. Pengetahuan aku tentang Alat Kontrasepsi masih amat sangat minim. Bahkan untuk pil KB yang selama ini aku gunakan. Sebatas aku merasa nyaman dan aman, ya sudah dilanjut terus. Hingga beberapa waktu lalu, aku mengalami sakit kepala yang cukup hebat sehingga memutuskan untuk menghentikan penggunaan Pil KB dan beralih sementara dengan menggunakan kondom. Sementara? Iya, karena kurang nyaman, kurang efektif dan kurang efisien, dan sudah dikomunikasikan dengan suami.

Kembali aku sampaikan, sesuai dengan judul, kegalauan bagian 1. Biarlah di sini aku curhat dulu tanpa “isi” dimana aku benar-benar belum memahami berbagai macam Alat Kontrasepsi, insyaAllah di bagian 2 atau seterusnya, aku akan share yang lebih berfaedah ya. Okeh, baiklah. Terima kasih pembaca, aku mau belajar dulu, doakan aku untuk bisa menemukan pilihan alat kontrasepsi terbaik untuk keluarga kami ya. Dengan perencanaan yang baik, insyaAllah keluarga bahagia, sejahtera, lahir dan batin, di dunia dan akhirat. Aamiin Allahumma Aamiin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah.
Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang sekali…

Dariku dan Untukku

08/30 •Dariku dan Untukku• . Bismillaahirrahmaanirrahiim... Hari ini, tepat seminggu di tahun baru 2020. Setelah pekan lalu membuat refleksi 2019, aku jadi teringat akan sesuatu. Sebuah batu titian awal, untuk melompat ke tingkatan selanjutnya dalam kehidupan. Lompatan terbesarku di tahun kemarin adalah keberanian dalam menentukan pilihan. Salah satunya adalah “memilih untuk terus menulis”. . Sebuah resolusi yang dibuat sejak awal tahun 2019 dan berhasil direalisasikan. Alhamdulillah, tentunya atas izin Allah, aku bisa konsisten untuk menulis sepanjang tahun. Menulis apapun, diary, tugas belajar, pekerjaan, bahkan yang tak pernah aku bayangkan, bisa ikut berkontribusi dalam tiga buah buku antologi. . Selama tahun 2019, Alhamdulillah lahir tiga buah buku antologi bersama teman di berbagai komunitas. Karya pertama adalah sebuah buku non-fiksi terkait “Unforgettable Moment”. Kemudian aku mulai belajar menulis fiksi dalam buku “Pelangi di Negeri Air” dan terakhir “HR Story”, sebagai rekam jejak…

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo
Oleh: Cindyta Septiana
Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012.
Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan kerabat, tak lain ad…