Langsung ke konten utama

BunSay - Game Level #1 Tantangan Hari #4






•Game Level #1 Tantangan Hari #4•

Kudengar lagi, Albarra (21 bulan) berteriak karena sesuatu yang Althaf (5 tahun) perbuat. Akhirnya, mereka berdua kudekati, ternyata Althaf merebut paksa mainan sapi berisi gas yang bisa ditunggangi. Itu memang mainannya saat kecil, tapi kan harusnya sekarang sudah tak cukup untuk digunakan. Albarra pun akhirnya merasa memiliki, tapi Althaf seperti belum bisa merelakan sepenuhnya. Akhirnya drama berebut sapi pun seringkali terjadi.

Sesungguhnya kondisi ini tak hanya berkaitan dengan sapi yang kumaksud sejak tadi, tapi banyak hal. Ya mobil-mobilan, robot, bola, buku, hampir semua mainan rasanya selalu berebut. Aku terus mengajari mereka berdua untuk meminjam dengan cara yang baik, baik Althaf maupun Albarra yang memang sebenarnya belum bisa mengerti. Dengan perlahan kusampaikan, “Mas Althaf kalau meminjam mainan yang sedang dipakai Adik Barra, caranya yang baik ya!” Lalu demi kesetaraan kukatakan juga pada Albarra, “Adik juga begitu, kalau mau pinjam mainan Mamas, izin dulu. Mamas… Pinjam… Begitu ya!”

Walaupun berulang kali sudah dijelaskan dengan kalimat yang sesederhana mungkin, masih saja terjadi.
“Astaghfirullah Mas Althaf kenapa kok rebut sapi?”
“Ini mau Aku perbaiki Bun, ekornya ini rusak.”
“Iya boleh. Nanti ya, kan adek sedang pakai dulu.”
“Tapi ini ini rusak ekornya. Tuh, lihat! Mau Aku perbaiki.”
“Oke sebentar. Coba berikan dulu ke adek deh sapinya. Sini Mamas duduk dekat Bunda. Mas, kalau adek pegang benda yang berbahaya, Mamas boleh rebut. Langsung dekati Adek, bilangin atau gendong atau tarik.”
“Iya.”
“Misalnya apa coba, Mamas tau ga yang bahaya? Benda yang berbahaya”
“Hm.. Misal adek dekat kompor atau setrika. Pisau atau listrik.”
“Nah, itu Mamas pinter. Kalau berbahaya seperti itu, Mamas boleh rebut, tarik adeknya, teriak minta tolong. Kalau seperti ini, ingin mainan gimana?”
“Bilang pinjam, izin dulu yang baik”

Alhamdulillah, udah semakin mengerti sih dengan penyampaian informasi yang singkat dan sederhana. Hanya saja memang perlu waktu mengulang-ulang agar setiap sikap baik terinternalisasi dalam diri dan bisa ditampilkan dengan respon yang sesuai. Bismillah.



#hari4
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#iip
#institutibuprofesional
#bundasayang
#bunsay
#bunsayiip
#iipdepok
@institut.ibu.profesional


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah. Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan