Langsung ke konten utama

BunSay - Game Level #1 Tantangan Hari #1






•Game Level #1 Tantangan Hari #1•

Pagi ini tak seperti biasanya, setelah Althaf siap berangkat ke sekolah, aku berbincang sebentar sambil menunggu mobil jemputan. Aku memulainya dengan santai, “Mas, kita ikutan nge-vlog yuk! Kayak yang di tv gitu lho, cerita-cerita tentang keseharian.”
“Oke. Tapi ngomongin apa, Bun?” Respon Althaf semangat.
“Hm… Yaa tentang kegiatan sehari-hari saja.” Aku pun segera mengambil handphone dan membuka fitur kamera video.

(Secara singkat, ini perbincangannya, maaf bukan verbatim ya! Hehehe…)
“Hallo Gaes, hari ini insyaAllah Bunda akan arisan saat Althaf sekolah di rumah teman Althaf. Namanya siapa?”
“Mikail.” Althaf menjawab cepat karena sudah diberi info sejak tadi malam.
“Jadi, sepulang sekolah Althaf akan langsung diantar ke rumah Kail. Tapi, Bunda maunya nanti kalau sudah selesai dan diminta pulang, Althaf langsung pulang ya!”
“Mmmmm, iya iya deh. Udah tau…” Jawab Althaf ragu, karna biasanya kalau main ke rumah teman, selalu minta tambahan waktu dan sulit sekali diajak pulang.

Kalau biasanya aku sangat memaksa dan melakukan perintah, kali ini aku mencoba untuk membuat kesepakatan. Secara langsung aku mengungkapkan keinginanku dengan intonasi rendah dan suara yang diharapkan lebih bisa membuatnya nyaman. Selanjutnya aku juga memberikan pilihan kepada Althaf untuk menentukan sikap.

“Yasudah begini, kalau Althaf setuju, Bunda pergi arisan ke rumah Mikail. Tapi kalau Althaf gak mau, yaudah Bunda gak arisan. Nanti Althaf pulang ke rumah seperti biasa.”
“Yaah. Tapi dari jam berapa sampe jam berapa mainnya?”
“Sekitar jam 12 atau setengah 1.”
“Yah, sebentar banget…”
“Kita lihat dulu nanti, kalau semua pulang ya kita juga ikut pulang. Nanti kapan-kapan kita main lagi.”

Percakapan pun menjadi alot dan diakhiri dengan pernyataan, “Iya, enggak!” Hahaha… Walaupun Althaf belum yakin dengan janjinya, alhamdulillah ia tak menolak keras seperti biasanya. Pelajaran yang aku ambil adalah ketika aku menyampaikan kalimat perintah tegas beserta intonasi suara tinggi, maka respon penolakan juga akan menjadi keras. Begitulah mengapa Althaf biasanya berteriak dan terlihat sangat keras kepala. Dengan cara seperti ini, responnya jadi lebih lembut dan mau mencoba menuruti perintah walaupun masih dengan pertimbangan.

.
#hari1
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institut.ibu.profesional

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah.
Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang sekali…

Dariku dan Untukku

08/30 •Dariku dan Untukku• . Bismillaahirrahmaanirrahiim... Hari ini, tepat seminggu di tahun baru 2020. Setelah pekan lalu membuat refleksi 2019, aku jadi teringat akan sesuatu. Sebuah batu titian awal, untuk melompat ke tingkatan selanjutnya dalam kehidupan. Lompatan terbesarku di tahun kemarin adalah keberanian dalam menentukan pilihan. Salah satunya adalah “memilih untuk terus menulis”. . Sebuah resolusi yang dibuat sejak awal tahun 2019 dan berhasil direalisasikan. Alhamdulillah, tentunya atas izin Allah, aku bisa konsisten untuk menulis sepanjang tahun. Menulis apapun, diary, tugas belajar, pekerjaan, bahkan yang tak pernah aku bayangkan, bisa ikut berkontribusi dalam tiga buah buku antologi. . Selama tahun 2019, Alhamdulillah lahir tiga buah buku antologi bersama teman di berbagai komunitas. Karya pertama adalah sebuah buku non-fiksi terkait “Unforgettable Moment”. Kemudian aku mulai belajar menulis fiksi dalam buku “Pelangi di Negeri Air” dan terakhir “HR Story”, sebagai rekam jejak…

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo
Oleh: Cindyta Septiana
Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012.
Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan kerabat, tak lain ad…