Langsung ke konten utama

Kantong Belanja Serbaguna



Beberapa hari terakhir aku mulai sadar, setiap buang sampah kok banyak banget jenis plastiknya? Ya kemasan makanan, minuman, sabun, bahkan kantong plastik bekas belanja. Kalau dilipat rapi, kantong plastik ada sekitar dua kardus air kemasan, itu pun sudah dibuang sebagian. Astaghfirullah, aku sudah menjadi salah satu kontributor banyaknya sampah di muka bumi ini.

Akhirnya, terbayang lah paus terdampar teracuni sampah plastik, sungai-sungai penuh sampah penyebab banjir dan pencemaran udara akibat sampah plastik yang dibakar. Walaupun sejak jaman sekolah alhamdulillah sudah meneguhkan diri untuk tidak membuang sampah sembarangan demi mencegah pencemaran lingkungan. Sekarang aku jadi memikirkan, kemanakah sampah-sampah plastik yang aku buang itu? Konon satu buah kantong plastik butuh waktu ratusan tahun untuk proses penguraiannya. Ikut merasa bersalah aku tuu.


Sementara ini sih aku berusaha mendukung gerakan diet sampah, setidaknya sekarang kemana-mana bawa kantong belanja sendiri. Pakai tote bag jenis kanvas atau hand bag yang ringkas, lipat-lipat cukup masuk tas, disimpan di jok motor, dan laci dashboard mobil. Jadi, kalau mampir ke minimarket bisa hemat Rp200,- untuk plastik berbayar, lumayan lah buat tambahan beli kuota. Hahaha… Eh, gak tau deh kalau di supermarket berapa biayanya, silahkan lho kalau yang punya infonya.



Awalnya agak aneh sih, saat belanja di minimarket misalnya, sudah langsung di-input tuh biaya plastik. “Maaf saya bawa tas sendiri”, responku cepat. Dalam hati kok gak ditanya atau disampaikan dulu gitu harganya? Baru deh setelah transaksi selesai, orang yang di belakang ditanyakan, “Maaf, Ibu bawa kantong belanja sendiri?” Nah, cakep lah Si Mbak-Mbak minimarket mulai terbiasa. Paling tidak apa yang kulakukan menginspirasi Si Mbak Minimarket dan Si Ibu Pembeli, semoga next time kebiasaan baik ini bisa menular dengan cepat. Aamiin...



Bismillah, mohon doanya ya, Gaes! Semoga langkah kecil keluarga kami menjadi awal lompatan jauh dan panjang ke depan. Lebih seru lagi kalau kita melompat panjang bersama ya, kan? Kuy, kurangi sampah plastik dari aksi sekecil apa pun. Pokoknya ingat, bring your own shopping bag. Okeh, sip! Nah, Kalau kamu, apa langkah yang sudah dilakukan untuk mencintai bumi? Share yuk dimarih, buat contekan akuuhh. Hehe...

#belajarzerowaste #dietplastik #dietkantongplastik #dietkantongplastik2019 #zerowaste #cintaibumi #belajarcintaibumi #lesswaste #saynotoplastik #indonesiazerowaste #bundytabercerita #cigofamily

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah. Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir