Langsung ke konten utama

Spider-Man Pilihan Althaf



Liburan Part #9

Seperti yang sudah pernah disampaikan sebelumnya, salah satu destinasi liburan akhir tahun pilihanku adalah bioskop. Haha.. Receh banget ya liburannya, ya atuh udah seribu purnama gak nonton, berjuta judul film pun terlewatkan. Ada perasaan bersalah saat terakhir ke bioskop, yaitu ngajak Althaf saat nonton film action. Sudah jelas keterangannya untuk 13+ tapi memaksakan diri bawa anak masuk. Akibatnya lumayan terasa, dia gak mau lagi nonton film serupa, bukan hanya karena adegan yang keras tapi juga efek suara yang menambah ketegangan saat menontonnya. Oleh karena itulah, cuti panjang dulu ke bioskop.

Salah, iyalah salah, jangan ditiru ya! Alhasil, akhir tahun lalu, pilihan menonton bioskop diserahkan ke Althaf. Dibandingkan dengan film “tukang galon”, ia memilih animasi “Spider-Man: Into the Spider-Verse”, alhamdulillah aman lancar bahkan penuh makna. Seheboh-hebohnya adegan animasi ya tidak terlalu berdampak, mungkin karena pemerannya bukan seorang manusia, yang bisa membuat Althaf lebih mudah mengasosiasikannya dengan kehidupan nyata. Kini, dia pun mulai bisa memahami insight dari film tersebut. Kalau gegayaan ala Spider-Man sih sudah pasti ya, bahkan adiknya pun ikut-ikutan.

Sesampainya di rumah, Althaf pun berkata, “Tuh kan, Bunda… Spider-Man yang kecil sama seperti aku. Dulu aku gak bisa nge-gol-in bola ke gawang, sekarang aku bisa, gocek juga bisa. Sebelumnya aku juga gak bisa dribble bola basket, sekarang aku sudah bisa bahkan gaya dribble melewati antara dua kaki. Satu lagi, aku sekarang sudah bisa berenang di tempat dalam padahal dulu aku takut.” Cerita Althaf panjang lebar ini pun mengingatkanku pada suatu istilah yang disampaikan oleh Peter Parker kepada Miles Morales, untuk bisa menjadi Spider-Man, diperlukan sebuah “Lompatan Keyakinan”.

Wah, maaf bukan spoiler ya, tapi memang itulah salah satu pesan yang dapat diambil dari film Spider-Man. Selain itu, tamparan keras untuk para orang tua yang seringkali memaksakan anaknya terhadap sebuah cita-cita atau masa depan mereka. Biasanya sesuatu yang mungkin terlihat baik pada umumnya, padahal setiap anak memiliki keunikan tersendiri dan potensi yang berbeda. Kita hanya perlu mengarahkannya, mendukungnya, memfasilitasinya, dan tentu saja mendoakannya. Cieh… Teorinya gampang ya, prakteknya pasti butuh usaha luar biasa. Bismillah… Orang tua juga tampaknya butuh Lompatan Keyakinan untuk mengaplikasikannya nih. Semangat!!!

#bundytamenulis #bundytabercerita #ceritabundyta #cigofamily #diary #diarybundyta #diarycigo #liburancigo  #cigotrip #libursekolah #liburakhirtahun #liburansekolah #liburanakhirtahun #rekreasi #vacation #piknik #liburankeluarga #spiderman

#aktivitasanak, #althafarohugo, #bundytabercerita #bundytamenulis, #cigofamily, #diarybundyta, #diarycigo, #liburan, #liburancigo, #libursekolah, #liburakhirtahun, #proudofyou, #rekreasi, #vacation

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah. Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang