Langsung ke konten utama

Si Sulung (versi non-ilmiah)



Pagi hari ini aku kebetulan dapat “undangan” dari sekolah Althaf. Banyak hal yang dibicarakan terkait anak-anak, hingga muncul sebuah perbincangan tentang karakter anak sulung. Kebetulan dua orang tua siswa yang hadir juga seorang sulung yang kemudian menemukan masalah yang sama dengan anak sulung mereka. Tentunya bahasan ini bukanlah tema utama yang dibicarakan, tapi ternyata ada kaitannya juga.

Ketika berbincang tentang anak sulung, aku mencoba bercermin, kulihat diriku sebagai seorang anak sulung yang agaknya memang memiliki banyak kesamaan karakter dengan anak sulungku. Kami lebih cepat tumbuh dari kebanyakan anak seumuran. Bisa dibilang pemikiran kami berkembang lebih jauh ke depan, bisa dibilang lebih dewasa dan mandiri serta pemberani. Hal ini mungkin karena anak pertama diberikan tanggung jawab lebih dibanding anak urutan lainnya.

Dari sisi lain, kami pun berdiskusi terkait tantangan menghadapi anak sulung. Entah mengapa kami merasa anak sulung lebih egois, susah mengalah, dan terkesan keras kepala. Ya, mungkin juga karena mereka begitu spesial menjadi anak pertama yang selalu menjadi nomor satu. Diposisikan menjadi contoh, panutan yang kadang posisinya tak tertandingi. Belum lagi kalau orang tua selalu saja meminta pendapat Si Sulung sebelum menentukan sesuatu, wah.. tambah naik deh derajatnya.

Hm.. Ini sesungguhnya hanya hasil diskusi non-ilmiah, common sense dan entah apa lagi istilahya, yang pasti pendapat ini tidak dapat dipertanggungjawabkan. Walau demikian, cukup menarik bagiku suatu saat untuk membahasnya atau mungkin membuat riset skala kecil untuk membuat generalisasi terkait karakter anak sulung. Hehe… Baiklah, sekian cerita Bundyta hari ini, semoga ada kelanjutan ya cerita tentang Si Sulung yang lebih ilmiah ya!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan

BunSay - Game Level #2 Tantangan Hari #2

•Game Level #2 Tantangan Hari #2• . Bismillaahirrahmaanirrahiim… Subuh aku ukur suhu tubuh Althaf mencapai 39,1 derajat celcius. Akhirnya kuberi lagi paracetamol sambil terus mengompresnya dengan air panas, hingga pagi hari. Alhamdulillah, demamnya berkurang dan ia pun terbangun. Kami memutuskan untuk kembali izin sekolah dan beristirahat saja di rumah. Seperti biasa kalau demam turun, Althaf mulai ceria sehingga bisa kuajak sarapan di meja makan, walaupun  duduk dengan posisi bermalas-malasan. . “Mas, ini nasinya udah Bunda tuang ke piring, sekarang Kamu pilih mau makan apa?” Althaf melamun saja memandangi lauk-pauk di meja. “Mas, ayo… Kamu mau pakai apa?” Masih melamun kemudian tiba-tiba berkata, “Kentang kriuk aja pakai nasi.” “Lho,  Mamas kan suka itu wortel. Kemarin minta wortel.” “Yaudah wortel 3 potong aja.” Althaf pun mulai merengek. “Lauknya, Kamu coba semua ya, sedikit-sedikit aja.” “Ah, gak mau ah, ayam aja deh…” Pak suami yang duduk di samp