Langsung ke konten utama

Penyumbatan Pembuluh Darah?

Hari ini adalah awal pekan yang padat, seperti biasa setiap Senin pagi pukul 08.30 WIB, aku ada jadwal Liqo bersama ibu-ibu Sawangan Residence Ideal dan Cahaya Garuda Residence. Setelah Althaf berangkat sekolah, aku membawa Albarra ikut serta ke Masjid Babussalam. Lumayan, gendong anak 17 kg sekitar 500 meter dan naik tangga masjid. Sesampainya di lokasi tentu saja keringat bercucuran dan nafas ngos-ngos-an.

Alhamdulillah, lelahnya fisik tak terasa jika sudah bersama ibu-ibu shalihah tadabbur Al-Quran dan mengkaji hadist. Adeeemmm gitu dan semakin semangat mengejar surga melalui apa yang kujalani kini sehari-hari. InsyaAllah dalam upaya menjadi istri serta menjadi ibu shalihah dan tentunya menjadi bagian dari masyarakat yang bermanfaat. Aamiin Allahumma Aamiin.

Setelah Liqo, pukul 10.30 WIB aku bergegas ke sekolah Althaf. Sesungguhnya di waktu yang bersamaan ada kajian juga yang biasa dilaksanakan setiap awal bulan. Qadarullah, jadwal yang seharusnya pukul 09.00 WIB baru dimulai pukul 10.00 WIB. Jadi, aku masih dapat mendengarkan separuh kajian. Kepala sudah mulai sedikit pusing, mungkin saja mulai lapar dan butuh camilan. Alhamdulillah ada sajan gorengan. Hahaha… Ini penting banget ya? LOL.

Seperti yang sudah kusampaikan sebelumnya, hari ini begitu padat, karena setelah pengajian di sekolah pun, para orang tua lanjut rapat untuk beberapa acara sekolah. Tetiba kepala belakang bagian bawah, yang biasa disebut tengkuk, terasa nyeri. Ya, memang sudah beberapa bulan terakhir aku merasa seringkali nyeri. Kemarin bagian leher belakang ini sempat dipijat Pak Suami, tapi yang kurasa malah semakin parah menjalar ke kanan dan kiri.

—-
(Bersambung)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan

BunSay - Game Level #2 Tantangan Hari #2

•Game Level #2 Tantangan Hari #2• . Bismillaahirrahmaanirrahiim… Subuh aku ukur suhu tubuh Althaf mencapai 39,1 derajat celcius. Akhirnya kuberi lagi paracetamol sambil terus mengompresnya dengan air panas, hingga pagi hari. Alhamdulillah, demamnya berkurang dan ia pun terbangun. Kami memutuskan untuk kembali izin sekolah dan beristirahat saja di rumah. Seperti biasa kalau demam turun, Althaf mulai ceria sehingga bisa kuajak sarapan di meja makan, walaupun  duduk dengan posisi bermalas-malasan. . “Mas, ini nasinya udah Bunda tuang ke piring, sekarang Kamu pilih mau makan apa?” Althaf melamun saja memandangi lauk-pauk di meja. “Mas, ayo… Kamu mau pakai apa?” Masih melamun kemudian tiba-tiba berkata, “Kentang kriuk aja pakai nasi.” “Lho,  Mamas kan suka itu wortel. Kemarin minta wortel.” “Yaudah wortel 3 potong aja.” Althaf pun mulai merengek. “Lauknya, Kamu coba semua ya, sedikit-sedikit aja.” “Ah, gak mau ah, ayam aja deh…” Pak suami yang duduk di samp