Langsung ke konten utama

Kunjungan ke Dokter (Bagian 2)

Akhirnya kemarin sore diputuskan untuk keluar dari Rumah Sakit Brawijaya setelah menunggu satu jam. Memperhatikan anak-anak bermain di playground kok rasanya was-was. Masalahnya adalah anak-anak lain yang bermain di sana kondisi kesehatan ya terlihat sedang tidak baik. Satu anak usia 5-6 tahun, berjenis kelamin perempuan asik bermain dengan akrab bersama Althaf. Namun, beberapa kali dia batuk berdahak dengan nafas yang berat. Belum lagi yang satu lagi, bolak balik menangis karena terlihat kesulitan bernafas. Hidungnya mungkin tersumbat dan beberapa kali bersin di depan Albarra.

Aku pun kemudian membujuk anak-anak untuk turun ke lantai dasar. Albarra dengan mudah diajak naik lift sementara Althaf kujanjikan makan di restoran sebelah rumah sakit dengan membeli salah satu paket menu anak berhadiah mainan. Melewati koridor, aku lihat jam menunjukkan pukul 5 sore. Kuingat informasi suster jaga di UGD kalau hasil pengecekkan darah bisa saja selesai dalam waktu satu jam. Baiklah, tak ada salahnya kumampir dulu ke bagian administrasi depan untuk menanyakan ke lab. Namun, aku pun masih diminta menunggu, dan akan dihubungi melalui telepon saat sudah siap.

Tak ada alasan lagi bagi kami untuk tetap di RS, segera lah aku, Althaf dan Albarra meluncur ke restoran sebelah. Entah mengapa anak-anak tampak senang, menerobos hujan dengan payung. Ya mungkin memang begitulah anak-anak, melihat hujan, merasakan air, baju basah adalah sebuah kesenangan. Padahal di sisi lain ada ibu yang keberatan gendong bayi hampir 17 kg, sambil bawa tas gede isi perlengkapan dua anak, tangan kiri pegang payung, dan tangan pegang anak aktif yang maunya lari mendekati jalan ramai mobil lewat. Aduh… Alhamdulillah lokasi tujuan cuma sekitar 300 meter, lebih dari itu, “Aku menyerah, Jendral!”





(Bersambung)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah. Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir