Langsung ke konten utama

Kunjungan Ke Dokter (Bagian 1)

Setelah kegalauan hari kemarin setelah mendapat informasi tentang penggumpalan darah, akhirnya pagi hari ini memutuskan untuk konsultasi ke dokter. Tak taua harus ke dokter spesialis apa, akupun konsultasi terlebih dahulu ke dokter umum. Dari gejala-gejala yang aku sampaikan, seperti sakit kepala bagian tengkuk, pusing, kaki bengkak, dan nyeri di dada. Diagnosa sementara dokter adalah kolesterol tinggi, anemia dan maag. Aku pun mendapat rujukan untuk pemeriksaan laboratorium. Diperlukan puasa minimal 6 jam untuk pemeriksaan ini.

Kegalauan pun terjadi lagi, saat ini pukul 10.00 WIB. Aku sarapan di pukul 07.00 WIB, jadi diperbolehkan mengambil sampel darah pada pukul 13.00 WIB. Namun, permasalahan datang dari perut yang sudah memanggil-manggil minta diisi. Yaa Allah, apalagi anak bayi baru saja minum ASI nih, jadi tambah laper aja. Godaan datang untuk makan, baru puasa lagi hingga nanti malam. Pas juga waktunya, bisa minta antar suami, tapi kok ya lama bangettt nunggu sampai jam 8 malam.

Finally, setelah anak-anak mandi dan shalat Ashar, kami pun berangkat ke RS Brawijaya Bojongsari. Qadarullah hujan deraaasss sekali, cuaca jadi amat dingin dan aku jadi tambah laper. Hahaha… Bismillah deh puasa 9 jam insyaAllah cukup untuk hasil laboratorium yang valid. Walaupun ya, kata suster yang menangani, sebaiknya 12 jam. “Tadi malah kata dokternya 6 jam cukup, Suster??” Respon aku seketika, sebelum pengambilan darah. “Ya gapapa Bu, sudah di atas 8 jam kok!”

Hasil Laboratorium diperkirakan selesai dalam 1-2 jam, tergantung banyaknya antrian. Tadinya mau langsung pulang, tapi anak-anak minta main dulu di playground. Sambil nunggu hasil, sambil nunggu Pak Suami jemput juga. Tapi kok lama banget ya kalo nunggu dijemput sih.. Sekitar jam setengah 8. Hm.. Apakah sebaiknya kami pulang dulu? Baik, mari membujuk anak-anak.

(Bersambung)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah. Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir