Langsung ke konten utama

Berlatih Bicara ala Bundyta


Liburan Part #11

Judulnya kok begitu? Bukannya ini foto sedang nyanyi karaoke gitu? Iya, karena sejarahnya berkaraoke ini bukan sekedar menyalurkan hobi nyanyi saja, menghilangkan stress apalagi latihan untuk lomba, hahaha… Liburan kali ini kami menyempatkan berkaraoke dalam rangka melatih Albarra berbicara. Lha kok berlatih bicara? Hehe.. Hehe.. Sesuai janji yang pernh tertulis di postingan instagram, aku mau share aktivitas bernyanyi Albarra sebagai proses berlatih bicara. Yuk, simak ceritanya ya..

Suatu hari di acara keluarga besar, “Albarra kok setahun belum bisa ngomong apa-apa sih? Kalah ya sama… &@@??//” Hello… Itu bayi masih setahun pula, ya masa bisa langsung pidato gaya Soekarno. Kesel aku tuu denger komentar dari orang yang suka banding-bandingin anak orang. Buat emak baperan kayak aku, ucapan ini sukses bikin gak bisa tidur. Kepikiran apa ada treatment yang salah? Padahal udah tahu juga kalau perkembangan setiap anak pasti berbeda.

Akhirnya coba untuk mengingat kembali, Althaf satu tahun sepertinya sudah bisa beberapa kata tunggal. Namun, sepertinya gaya pengasuhanku tak banyak berbeda antara Althaf dan Albarra. Aku masih juga membacakan buku cerita dan mengajak Albarra berbicara dalam berbagai aktivitas bersama. Sampai suatu saat aku mendengar Albarra mengikuti sebuah nada lagu yang tak sengaja Althaf nyanyikan. Aha… Akhirnya kumenemukan sebuah kebiasaan yang hilang.

Menyanyi. Sejak usia 6 bulan, Althaf sudah sering kunyanyikan lagu anak-anak klasik seperti balonku, burung kakak tua, dsb. Sehingga beberapa kata dari lagu tersebut bisa terlebih dulu diucapkan dengan baik. Maklum ya dulu anak masih satu, tetangga belum banyak, aktivitas cuma sekedar urusan domestik saja, hiburan satu-satunya ya bernyanyi bersama Althaf. Nah, kalau sekarang, mulai sibuk berbagai hal. Jadi, bisa dibilang jarang melamun berduaan sambil nyanyi di teras depan seperti saat bersama Althaf.

Sejak saat itu, aku mulai membiasakan diri bernyanyi lagi. Lagu yang pertama didengar Albarra adalah cicak di dinding, sehingga dia bisa dengan jelas mengucap kata “cicak”. Selanjutnya lagu burung kakak tua, balonku, pelangi, hujan, bahkan beberapa lagu berbahasa Inggris dan Arab (shalawat nabi).  Lagu yang paling senang ia nyanyikan saat ini adalah “Setinggi Langit” dari Naura. Tak segan Albarra mengambil gitar dan bergaya sambil bernyanyi, “Aku bisa… %*£€>&$ “ dengan percaya diri yang tinggi dan suara lantang.

Alhamdulillah kata-kata dalam lagu yang dinyanyikan, memperkaya kosakata yang dapat Albarra ucapkan saat ini. Setelah bernyanyi lagu “Satu, satu, aku sayang bunda, dua, dua, juga sayang ayah…” ia mulai bisa mengucapkan kata “satu, dua, bunda, ayah”. Kemudia ketika bernyanyi lagu hujan, dia bisa berkata hujan, atas, air, dan memahami artinya. Dengan ini, aku semakin yakin bahwa menyanyi dapat menjadi salah satu metode anak untuk belajar berbicara. Tak hanya menambah kosakata tetapi juga pemahaman makna serta rasa percaya diri untuk berbicara tentunya.

Bunda mau coba? Yuk, kita praktekkan bersama, semoga dengan semangat berlatih menyanyi, anak-anak kita bisa belajar pula berkomunikasi.

#bundytamenulis #bundytabercerita #ceritabundyta #cigofamily #diary #diarybundyta #diarycigo #liburancigo  #cigotrip #libursekolah #liburakhirtahun #liburansekolah #liburanakhirtahun #rekreasi #vacation #piknik #liburankeluarga #karaoke #bernyanyi

#aktivitasanak, #althafarohugo, #bundytabercerita #bundytamenulis, #cigofamily, #diarybundyta, #diarycigo, #liburan, #liburancigo, #libursekolah, #liburakhirtahun, #proudofyou, #rekreasi, #vacation

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah.
Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang sekali…

Dariku dan Untukku

08/30 •Dariku dan Untukku• . Bismillaahirrahmaanirrahiim... Hari ini, tepat seminggu di tahun baru 2020. Setelah pekan lalu membuat refleksi 2019, aku jadi teringat akan sesuatu. Sebuah batu titian awal, untuk melompat ke tingkatan selanjutnya dalam kehidupan. Lompatan terbesarku di tahun kemarin adalah keberanian dalam menentukan pilihan. Salah satunya adalah “memilih untuk terus menulis”. . Sebuah resolusi yang dibuat sejak awal tahun 2019 dan berhasil direalisasikan. Alhamdulillah, tentunya atas izin Allah, aku bisa konsisten untuk menulis sepanjang tahun. Menulis apapun, diary, tugas belajar, pekerjaan, bahkan yang tak pernah aku bayangkan, bisa ikut berkontribusi dalam tiga buah buku antologi. . Selama tahun 2019, Alhamdulillah lahir tiga buah buku antologi bersama teman di berbagai komunitas. Karya pertama adalah sebuah buku non-fiksi terkait “Unforgettable Moment”. Kemudian aku mulai belajar menulis fiksi dalam buku “Pelangi di Negeri Air” dan terakhir “HR Story”, sebagai rekam jejak…

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo
Oleh: Cindyta Septiana
Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012.
Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan kerabat, tak lain ad…