Langsung ke konten utama

Taman Safari Indonesia


Liburan Part #6

Liburan akhir tahun nyatanya tak hanya dimiliki oleh anak sekolah yang bertepatan dengan liburan akhir semester. Para orang tua dan orang dewasa pada umumnya, juga ikut mengisi liburan akhir tahun dengan berbagai rencana wisata. Salah satu tujuan wisata yang bisa dinikmati oleh berbagai kalangan, anak-anak hingga orang dewasa, adalah Taman Safari Indonesia. Selain lokasi wisata yang cukup menawan di daerah puncak Bogor, wahana rekreasi di dalamnya pun sangat beragam.

Begitu pula denganku dan keluarga, sudah berkali-kali mengunjungi Taman Safari, tapi selalu bersemangat untuk kembali lagi dan lagi. Apalagi sekarang aku dan Pak Suami membawa dua anak lelaki. Althaf sudah sangat menikmati dengan bertanya ini dan itu terhadap setiap binatang yang dijumpai. Ia juga sudah berani memberi makan sendiri beberapa hewan dan benar-benar menikmati berbagai wahana. Sementara Albarra selalu terlihat excited melihat hewan-hewan yang baru ia temui. Padahal baru bisa bilang "sapi" yang diucapnya dengan kata "babi". Hehehe...

Wahana yang baru kami kunjungi pada liburan kali ini adalah Istana Panda Indonesia. Perjalanan mendaki gunung naik bus dilakoni demi berjumpa dengan Si Gembul Cai Tao dan Hu Chun. Alhamdulillah terbayar saat sampai di bukit penuh kabut ini. Udara begitu sejuk dengan cuaca yang cerah, cocok sekali sebagai tempat tinggal para panda. Norak sekali aku tuh… Baru kali pertama lihat panda, bawaannya pengen meluk ajah. Oh ya, kalau berkunjung ke istana panda ini usahakan tidak berisik ya, nanti dia kesel, kamu dikasih "Jurus Gulungan Kitab Naga " gimana hayooo? Kung Fu Panda kali ah…

Selain bisa melihat panda, kita juga bisa memberi makan salah satu koleksi panda yang ada. Alhamdulillah saat kunjungan ke taman safari kali ini, Althaf sudah berani memberi makan hewan sendiri, seperti saat melakukan Safari Journey. Bahkan kini di Istana Panda begitu spesial, karena dia sendiri yang minta untuk memberi makan "Red Panda". Sesuai dengan namanya, panda ini berwarna merah dan berukuran lebih imut seperti aku. Hehehe… Walaupun ya, kalau dilihat dari ekspresinya Althaf masih juga terlihat takut, tapi berusaha menyembunyikannya dan tetap tersenyum. Good job!

Setelah wisata wajib “Safari Journey” atau berkeliling kandang hewan dan mengunjungi Istana Panda, kami juga melihat beberapa atraksi dan bermain di wahana rekreasi. Tak ketinggalan, ayah bunda ikutan naik roller coaster sementara anak-anak bisa dititip ke kakek dan nenek. Asyik kan…? Satu lagi yang terakhir, yaitu atraksi cowboy yang sangat menghibur. Kolaborasi antara para pemain drama dengan hewan-hewan terlatih sangatlah apik, membuat kami menonton tanpa berkedip. Seru banget deh pokoknya, tak sia-sia menyempatkan nonton ini di sore hari sebelum pulang.

Hm… Secara keseluruhan wisata keluarga kami ke Taman Safari begitu menyenangkan. Alhamdulillah, kondisi fisik semuanya sehat, perjalanan lancar, segala aktivitas yang dilakukan pun cukup aman. Walaupun demikian, rasanya kami belum puas dengan waktu satu hari yang begitu singkat, karena masih ada wahana lain yang belum sempat kami kunjungi kali ini. Semoga Taman Safari Saat ada waktu liburan lagi nanti, Taman Safari akan menjadi salah satu destinasi liburan favorit keluarga kami.

#bundytamenulis #bundytabercerita #ceritabundyta #cigofamily #diary #diarybundyta #diarycigo #liburancigo #libursekolah #liburakhirtahun #liburansekolah #liburanakhirtahun

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah.
Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang sekali…

Dariku dan Untukku

08/30 •Dariku dan Untukku• . Bismillaahirrahmaanirrahiim... Hari ini, tepat seminggu di tahun baru 2020. Setelah pekan lalu membuat refleksi 2019, aku jadi teringat akan sesuatu. Sebuah batu titian awal, untuk melompat ke tingkatan selanjutnya dalam kehidupan. Lompatan terbesarku di tahun kemarin adalah keberanian dalam menentukan pilihan. Salah satunya adalah “memilih untuk terus menulis”. . Sebuah resolusi yang dibuat sejak awal tahun 2019 dan berhasil direalisasikan. Alhamdulillah, tentunya atas izin Allah, aku bisa konsisten untuk menulis sepanjang tahun. Menulis apapun, diary, tugas belajar, pekerjaan, bahkan yang tak pernah aku bayangkan, bisa ikut berkontribusi dalam tiga buah buku antologi. . Selama tahun 2019, Alhamdulillah lahir tiga buah buku antologi bersama teman di berbagai komunitas. Karya pertama adalah sebuah buku non-fiksi terkait “Unforgettable Moment”. Kemudian aku mulai belajar menulis fiksi dalam buku “Pelangi di Negeri Air” dan terakhir “HR Story”, sebagai rekam jejak…

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo
Oleh: Cindyta Septiana
Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012.
Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan kerabat, tak lain ad…