Langsung ke konten utama

The Cinnamon Squad


Liburan Part #4

Liburan sekolah kali ini membuat Althaf dan teman-teman di lingkungan rumah semakin dekat. Bagaimana tidak, dalam sehari mereka bisa menghabiskan waktu bermain bersama hampir empat jam lamanya. Berdasarkan kesepakatan dengan bunda, Althaf boleh main keluar rumah di pagi hari yaitu sejak pukul 08.00 s.d. 10.00 WIB dan sore hari pukul 16.00 s.d. 17.30 WIB. Belum lagi kalau tiba-tiba di waktu jam makan siang ada yang datang ke rumah, semakin lama deh mainnya.

Bunda menyebut Althaf dan teman-teman adalah “The Cinnamon Squad” karena semuanya tinggal di lokasi yang sama, yaitu salah satu cluster di perumahan tempat kami tinggal, Cluster Cinnamon. Setiap hari, mereka mengisi hari libur sekolah dengan bermain bersama. Prinsip umum yang dimiliki para orang tua mereka pun serupa, boleh bermain di waktu-waktu yang ditentukan, boleh di dalam atau di luar rumah siapa saja, asalkan masih di dalam cluster. Maklum ya, beberapa waktu lalu banyak berita penculikkan, jadi sementara main di area terbatas dulu.

Walaupun ada beberapa aturan yang membatasi, seperti waktu dan wilayah bermain, banyak hal yang tetap bisa mereka lakukan bersama. Biasanya bermain sepeda, sepatu roda, sepak bola, basket, atau bermain bergantian di rumah teman dengan beragam mainan yang dimiliki masing-masing. Alhamdulillah, walaupun perselisihan kecil kerap mewarnai, seperti berebut mainan atau saling mengejek, mereka tetap akrab dan kompak. Oleh sebab itu, masa liburan ini dirasa begitu menyenangkan bagi Althaf. Sampai-sampai kalau diajak pergi keluar rumah pun rasanya berat hati, Althaf bilang, “Maunya main sama teman aja.” Ya baguslah kalau begitu, bunda jadi bisa berhemat. Hehehe… Tetap solid ya, Squad!

#bundytamenulis #bundytabercerita #ceritabundyta #cigofamily #diary #diarybundyta #diarycigo #liburancigo #libursekolah #liburakhirtahun #liburansekolah #liburanakhirtahun

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah. Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan