Langsung ke konten utama

Terima "Raport" Tak Perlu Repot


Hari ini pagi-pagi sekali, aku mempersiapkan diri untuk mengambil raport Althaf. Kalau kata anak JakSel, “Literally” bundanya yang mempersiapkan diri, karena anaknya sih terlihat santai saja. Dalam bayangannya raport hanyalah tanda-tanda liburan, sehingga bisa main sepuasnya. Sementara itu, bunda menyiapkan banyak pertanyaan untuk para ibu guru tersayang dan juga menyiapkan banyak kesabaran dan keteguhan hati untuk menerima segala laporan. Hehehe… Oh, iya! Sebelum keterusan, dalam KBBI, yang dimaksud raport adalah “rapor” ya, artinya laporan.

Alhamdulillah, proses pembagian raport berjalan dengan lancar, walaupun disertai dengan “kerempongan” pagi-pagi mengurus dua anak lelaki. Nunggu giliran pembagian raport pun di kelas heboh sekali, belum lagi drama berebut mainan. Jadi stress aku tuuhh.. Beruntung datang lebih pagi karena antrian hanya dua siswa, sekitar 30 - 40 menit menunggu. Ini lama atau sebentar? Hm… Kalau dibandingkan dengan waktu giliran aku saat dipanggil sih cukup ternyata, bisa mendapat banyak “feedback” dari ibu guru. Makasi banyak ya bu guru, Bu Ika, Bu Delya, Bu Elly, juga Bu Indri.

Dari hasil raport yang disampaikan, secara keseluruhan alhamdulillah perkembangan Althaf cukup baik, prestasinya juga baik, dan yang paling penting kemajuan di segala aspek kecerdasan yang sangat baik. Adapun beberapa hal yang masih menjadi “PR” orang tua di rumah serta bantuan guru di sekolah, sesungguhnya tidak menjadi hal yang terlalu membebaniku, begitu juga dengan hasil diskusi sebelumnya dengan Pak Suami. Bagi kami yang terpenting saat ini adalah prosesnya, dimana kami berharap Althaf selalu bahagia dan semangat menjalaninya.

Sekolah Taman Kanak-Kanak menurut kami, bukan tempat untuk “menggegas” Althaf untuk bisa ini dan itu, tetapi untuk membantu memfasilitasinya untuk bisa melakukan ini dan itu. Maafkan Ayah dan Bunda ya, karena masih memerlukan institusi pendidikan untuk melejitkan potensi. Percayalah, Nak…! Sesungguhnya segala upaya ini kami lakukan karena ingin memberikan yang terbaik untukmu. Khusus untuk hasil belajar yang diberikan hari ini, semoga segala yang sudah baik bisa kamu pertahankan dan bisa ditingkatkan menjadi lebih baik lagi. Sementara itu, segala kekurangan bisa kita perbaiki bersama tanpa bunda perlu terlalu memaksa.

Terakhir, apapun hasil raport-nya, kita tak perlu repot ya, Nak! Pokonya, enjoy every single moment of your life… Oke? LOVE YOU, Althafaro ❤️


#nulisyuk #nulisyukbatch18a
#bundytamenulis #ceritabundyta #cigofamily #diary #diarybundyta #diarycigo #challenge #menulis #tantanganmenulis #writing #writingchallenge #writingchallenge30 #menulis30hari #onedayonepost

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah. Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir