Langsung ke konten utama

Tepati Janji, Harga Mati

Astaghfirullah, baru ingat ternyata pernah berjanji pada postingan di media sosial, facebook dan instagram. Walaupun hanya bercanda, apa yang sudah terucap atau tertulis tentulah perlu ditepati. Masih ada yang ingat gak ya? Sekitar sepuluh hari yang lalu, aku pernah menulis tentang angka “Sepuluh”? Nah, bagi yang menebak arti dari angka tersebut, maka yang beruntung akan mendapatkan kiriman pulsa. Maksudnya sih mau ala-ala selebgram gitu kasih giveaway, eh malah jadi “janji” ya hukumnya? hahaha

Pertama hablumminallah, dalam Islam, janji bukanlah perkara yang ringan. Penjelasan tentang janji terdapat dalam beberapa surat Al-Quran, contohnya:

"Dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Isra’: 34)

“Dan, tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.” (QS. An-Nahl: 91).

Demikianlah firman Allah SWT yang membuatku merasa perlu menepati janji karena hukumnya adalah wajib. Selain itu, sebagai hamba-Nya, aku ingin menjadi manusia yang bertakwa. Dalam Al-Quran disebutkan bahwa memenuhi janji termasuk sifat orang-orang bertakwa sekaligus sebab utama dalam menggapai ketakwaan.

“(Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat) nya dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 76)

Kedua habluminannas, tulisan yang aku buat di media sosial itu dibaca oleh orang lain. Ada pula kalimat ajakan untuk berinteraksi dengan pembaca, sehingga muncullah respon. Secara tersirat, bahwa apa yang kusampaikan adalah janji kepada orang lain. Tentu saja aku harus bertanggung jawab untuk memenuhinya. Jika tidak, pastilah akan mengecewakan orang lain dan bisa jadi, hilanglah kepercayaan terhadap diriku. Sebagaimana hilangnya kepercayaan kita terhadap orang-orang munafik, Nabi Muhammad SAW pun bersabda:

“Tanda orang munafik itu ada tiga: jika berbicara dusta, jika berjanji dia ingkar, dan jika dipercaya (diberi amanat) dia berkhianat.” (HR. Bukhari Muslim).

Bismillah, dengan ini sesuai janjiku pulsa sebesar Rp50.000 dikirimkan kepada pemilik akun facebook @BundaCalyssaRhadika dan akun instagram @thisisrahmanchov karena telah memberikan respon yang sangat cepat dan analisa yang super keren serta berkunjung ke blog aku https://cindytaseptiana.blogspot.com/ Serta yang pasti, kamulah yang beruntung hari ini, yang lainnya boleh coba lagi kalau ada kesempatan ya! Silahkan DM nama akun tersebut beserta nomor teleponnya, semoga rezeki ini berkah. Aamiin Allahumma Aamiin.

#nulisyuk #nulisyukbatch18a
#bundytamenulis #ceritabundyta #cigofamily #diary #diarybundyta #diarycigo #challenge #menulis #tantanganmenulis #writing #writingchallenge #writingchallenge30 #menulis30hari #onedayonepost

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah.
Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang sekali…

Dariku dan Untukku

08/30 •Dariku dan Untukku• . Bismillaahirrahmaanirrahiim... Hari ini, tepat seminggu di tahun baru 2020. Setelah pekan lalu membuat refleksi 2019, aku jadi teringat akan sesuatu. Sebuah batu titian awal, untuk melompat ke tingkatan selanjutnya dalam kehidupan. Lompatan terbesarku di tahun kemarin adalah keberanian dalam menentukan pilihan. Salah satunya adalah “memilih untuk terus menulis”. . Sebuah resolusi yang dibuat sejak awal tahun 2019 dan berhasil direalisasikan. Alhamdulillah, tentunya atas izin Allah, aku bisa konsisten untuk menulis sepanjang tahun. Menulis apapun, diary, tugas belajar, pekerjaan, bahkan yang tak pernah aku bayangkan, bisa ikut berkontribusi dalam tiga buah buku antologi. . Selama tahun 2019, Alhamdulillah lahir tiga buah buku antologi bersama teman di berbagai komunitas. Karya pertama adalah sebuah buku non-fiksi terkait “Unforgettable Moment”. Kemudian aku mulai belajar menulis fiksi dalam buku “Pelangi di Negeri Air” dan terakhir “HR Story”, sebagai rekam jejak…

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo
Oleh: Cindyta Septiana
Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012.
Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan kerabat, tak lain ad…