Langsung ke konten utama

Taman Piknik Semakin Asik



Liburan Part #1

Akhir pekan kemarin ceritanya “ngintilin” acara CSR dari kantor Pak Suami ke Taman Piknik. Judulnya sih menanam pohon, tapi kalau aku dan anak-anak cuma ikutan main-main di taman dan foto-foto. Hehehe… Oh iya, piknik kali ini hanya ke Bekasi saja kok, alhamdulillah gak jauh, gak macet, dan gak bayar. Asik kan? Terletak di Jalan Manunggal II, Cipinang Melayu, Jakarta Timur, kalau dari rumah kami di Depok, butuh waktu sekitar satu jam saja (jadi kaya lagu Audi ya? LOL).



Walaupun gratis dan terbuka untuk umum, penjagaan keamanan di sini cukup baik. Dapat dikunjungi setiap hari mulai pukul 06.00 hingga 18.00 WIB. Taman piknik ini keberadaannya cukup berarti lho, di tengah hiruk pikuk kota Jakarta - Bekasi, kita bisa menghirup udara segar dan menikmati pemandangan hijau rerumputan serta bunga-bunga taman. Mungkin lebih enak kalau kita datang ke sini dengan membawa tikar serta nasi liwet, kali ya? Jadi, benar-benar terasa pikniknya.


Kalau kemarin anak-anak sudah cukup terlihat bahagia dengan bisa berlarian kesana - kemari di taman yang luas dan bermain di arena permainan yang minimalis. Arena bermain anak ini dilengkapi sejumlah mainan seperti perosotan dan jungkat-jungkit. Kalau aku sih paling suka duduk di pinggir kolam sambil memandangi bunga teratai yang baru mekar. Barangkali asik juga nyobain jogging track-nya atau sekalian bawa sepeda, ya?



Oke, segitu aja share liburan gratisan kami kemarin. Tak perlu jauh-jauh dan mahal-mahal kalau mau rehat sejenak dari rutinitas dan memberi alternatif tempat main anak, selain mall. Kalau untuk kami paling penting adalah bisa memfasilitasi energi anak-anak yang berlebihan dengan bermain di luar seperti ini. Maklum ya kalau di rumah, sana sini mentok. Nah, buat kamu-kamu yang katanya kurang piknik, sok atuh mampir ke sini. InsyaAllah beberapa waktu ke depan, pohon yang baru ditanam sudah rindang, bikin Taman Piknik Semakin Asik.







#bundytamenulis #ceritabundyta #cigofamily #diary #diarybundyta #diarycigo #liburancigo #libursekolah #liburakhirtahun #liburansekolah #liburanakhirtahun #liburakhirtahun2018 #tamanpiknik #tamanpiknikkalimalang

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah. Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir