Langsung ke konten utama

Senang Bersama Paman



Liburan Part #2

Saat kecil, ketika memasuki masa liburan sekolah, aku pasti menyempatkan diri berkunjung ke rumah nenek dan kakek di luar kota. Begitu juga saat liburan sekolah Althaf kali ini, kami berkunjung ke rumah nenek/ kakek, walau hanya dengan waktu yang singkat. Salah satu tujuannya adalah bertemu paman kesayangan Althaf dan Albarra Rihandika Ramandha yang kini super sibuk, jarang pulang ke rumah.

Anak-anak senang sekali bertemu paman karena biasanya mereka mendapat mainan “lungsuran” yang dimiliki paman saat kecil. Mereka juga senang karena bersama paman, bisa melakukan permainan yang ekstrim. Dengan kekuatannya, paman bisa mengajak anak-anak bermain gendong-gendongan dan kuda-kudaan bahkan langsung dengan kedua keponakannya ini di atas tubuhnya. Padahal Althaf anak yang “superaktif” dan Albarra bayi yang “superberat”.  Kalau bunda sih sudah pasti tak sanggup. Hehehe…

Saat sore hari, paman tak segan menemani Althaf bermain bola bersama teman-teman baru di lapangan depan rumah nenek/ kakek. Paman yang terlebih dahulu mengajaknya berkenalan kepada teman-teman itu, sehingga Althaf bisa ikut serta bermain bola. Di saat yang bersamaan, paman juga dengan senang hati membantu Albarra bermain sepeda yang belum bisa digowes. Jadi, lumayan ya, dorong-dorong  keringetan, sekalian berolahraga.

Nah, kalau bunda, sudah tentu sangat bahagia dengan keberadaan paman bersama Althaf dan Albarra. Setiap anak-anak sudah bertemu dengan pamannya, bunda bisa bersantai sambil menikmati makanan yang disediakan nenek, seperti mie ayam, soto ayam, bubur kacang hijau, gorengan, kue-kue, sambil ngopi. Uuhh.. Liburan bersama paman, sungguh menyenangkan! ❤️


#bundytamenulis #ceritabundyta #cigofamily #diary #diarybundyta #diarycigo #liburancigo #libursekolah #liburakhirtahun #liburansekolah #liburanakhirtahun #liburakhirtahun2018 #liburankerumahnenek #liburankerumahkakek #liburankerumahkakeknenek

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah. Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan