Langsung ke konten utama

Reuni Akbar Aksi Damai 212 tahun 2018


Bismillah,
Hari ini tak pernah terbayangkan sebelumnya, dini hari bersama Pak Suami dan anak-anak, kami beranjak dari Selatan Jakarta ke pusat kota. Monas, tujuan kami ke sana, begitu juga jutaan manusia lainnya. Aku bukanlah alumni 212, saat itu pun perasaan aku sesungguhnya biasa saja. Aku hanya selalu menyertakan doa untuk mereka yang sedang berjuang untuk agama tercinta, untuk Al-Qur’an yang menjadi pedoman hidup kita. Niatku hari ini untuk hadir sebenarnya hanya menyambut ajakkan Pak Suami saja awalnya, tetapi nyatanya banyak hal yang kudapatkan sepulangnya. Aku merasakan, ada “Cinta” di sana.

Alhamdulillah, Allah SWT mudahkan langkah kami, Dia lancarkan semua jalan kami, serta keberkahan pun disertakan-Nya kepada kami. Mulai dari berangkat, segala persiapan hanya sekejap, kami bangun malam tepat waktu untuk berangkat. Anak-anak pun bersiap dengan semangat, tanpa paksaan, dan juga rengekkan. Sesampainya di Monas, kami dihadapkan dengan orang-orang luar biasa yang semangatnya jauh meninggalkan kami, yang usahanya jauh di atas kami. Mereka hadir sejak hari kemarin dengan penuh antusias, tak peduli jarak dan usaha yang harus mereka tempuh. Aku merasakan, ada “Cinta” di sana.
.
Nikmat terasa saat shalat subuh berjamaah di sana, shalat tanpa mendengar suara keras Sang Imam, tapi melalui hati yang teriring gelombang suara dari shaf terdepan. MasyaAllah… Tabarakallah… Setelah subuh, alunan shalawat dan dzikir pun bersama kami ucapkan. Di sini lah, aku merinding hingga sekujur tubuh, apalagi kulihat anak lelakiku pun ikut melantunkannya dengan merdu. Ingin rasanya menangis, memandangi setiap orang menengadahkan tangan seraya berdoa untuk agama dan negara kita tercinta. Dilanjutkan dengan ceramah para ustadz yang begitu menggebu, membuat kami semua mengharu-biru. Takbiiirrr…! Allahu Akbar…! Serentak berkali-kali kami ucapkan bersama penuh semangat. Aku merasakan, ada “Cinta” di sana.

Keberkahan pun terus-menerus kami rasakan, sarapan, makanan ringan, dan minuman mengalir bak air. Belum lagi segala kemudahan yang diberikan kepada kami yang membawa dua buah hati. Tempat yang nyaman bagi kami untuk shalat, makan, istirahat, buang air kecil, dan bermain, bahkan ketika kami hendak kembali pulang dengan berjalan menembus massa yang baru datang. Alhamdulillahirabbil’alamiin. Ini semua kuasa Allah SWT, segala kesantunan menyertai para peserta, toleransi, keikhlasan, kerjasama, dan kedamaian. Hati nurani mengajak kita semua berlomba dalam kebaikkan untuk merebut hati-Nya. Aku merasakan, ada “Cinta” di sana.

Sepanjang perjalan pulang, saat siang menjelang, aku pun merenung dalam hati. MasyaAllah… Tabarakallah… Orang-orang masih saja tak henti berdatang untuk ini, untuk menikmati apa yang mungkin lebih indah dari yang kurasakan saat ini, apalagi bagi para alumni. Tanpa melihat perbedaan apa pun di dunia, atas niat tulus ikhlas membela agama Allah SWT, mereka tergerak hatinya, dan jiwanya untuk hadir di sana. Monas, menjadi saksi betapa masyarakat Indonesia ini bisa bersatu dengan damai, hanya karena satu hal, yakni karena “Cinta” untuk-Nya. Salam dari bukan alumni 212, tapi merasakan, ada “Cinta” di sana.
.
Jakarta, 2 Desember 2018
Cindyta Septiana
.
#212 #aksidamai212 #aksi212 #alumni212 #212_2018 #reuniakbar212 #reuniakbaraksidamai212 #monas #monas212 
#nulisyuk #nulisyukbatch18a

#bundytamenulis #ceritabundyta #cigofamily #diary #diarybundyta #diarycigo #challenge #menulis #tantanganmenulis #writing #writingchallenge #writingchallenge30 #menulis30hari #onedayonepost

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah.
Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang sekali…

Dariku dan Untukku

08/30 •Dariku dan Untukku• . Bismillaahirrahmaanirrahiim... Hari ini, tepat seminggu di tahun baru 2020. Setelah pekan lalu membuat refleksi 2019, aku jadi teringat akan sesuatu. Sebuah batu titian awal, untuk melompat ke tingkatan selanjutnya dalam kehidupan. Lompatan terbesarku di tahun kemarin adalah keberanian dalam menentukan pilihan. Salah satunya adalah “memilih untuk terus menulis”. . Sebuah resolusi yang dibuat sejak awal tahun 2019 dan berhasil direalisasikan. Alhamdulillah, tentunya atas izin Allah, aku bisa konsisten untuk menulis sepanjang tahun. Menulis apapun, diary, tugas belajar, pekerjaan, bahkan yang tak pernah aku bayangkan, bisa ikut berkontribusi dalam tiga buah buku antologi. . Selama tahun 2019, Alhamdulillah lahir tiga buah buku antologi bersama teman di berbagai komunitas. Karya pertama adalah sebuah buku non-fiksi terkait “Unforgettable Moment”. Kemudian aku mulai belajar menulis fiksi dalam buku “Pelangi di Negeri Air” dan terakhir “HR Story”, sebagai rekam jejak…

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo
Oleh: Cindyta Septiana
Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012.
Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan kerabat, tak lain ad…